01 Januari 2013,
menjadi tanggal ketika dimulainya pergerakan konservasi di Universitas
Konservasi, Universitas Negeri Semarang. Para dosen, mahasiswa, seluruh warga
UNNES digerakkan untuk ‘menyemarakan’ program mulia ini. Siapa yang mau mulai
kalau bukan dari kita lebih dahulu?
Jadi
apa saja fasilitas yang diberikan UNNES?
Hitam,
Rata, dan Diinjak-injak
Can
you take a guess? Batuan kecil-kecil yang diberi
pelengket yang diratakan, dengan lebar tertentu, dengan panjang mengular
sebagai urat nadi yang sangat penting, yang setiap hari malah diinjak-injak
oleh semua orang, semua kendaraan, terkena panas, dingin, kering. Tanpa pikir
panjang, yap. Jalan.
Jalan aspal hitam
ditemui di banyak sudut UNNES, dari Fakultas Bahasa dan Seni hingga Fakultas
Teknik. Perbaharuan, pembangunan, penambalan aspal semuanya dilakukan untuk
memberikan kenyamanan dan kelayakan dalam berkendara untuk seluruh warga UNNES.
Tetapi, yang agak disayangkan beberapa warga UNNES, jalan-jalan yang terbentang
cantik ini mempunyai pengaturan dalam penggunaannya sekarang, ya, konservasi
maksud saya.
Jalan
Paving Selebar Dua Langkah
Maksud saya adalah
trotoar yang terlihat di kiri jalan guna dimanfaatkan untuk keamanan para
pejalan kaki. Trotoar ini cukup dimanfaatkan para pejalan kaki, entah dosen,
mahasiswa, kariawan, dan warga UNNES lainnya. Tetapi hanya cukup, hanya cukup
dimanfaatkan, tidak banyak yang memanfaatkan maksud saya. Kekurangan dari
trotoar ini, yang saya lihat di bentangan Gedung Serba Guna hingga Fakultas
Teknik, adalah masih kurangnya pepohonan yang dapat meneduhkan para pejalan
kaki, ada pula selokan yang dibiarkan berlubang cukup besar sehingga kaki pun
bisa terperosok ke dalamnya, ada baiknya diberi perlindungan berupa
jeruji-jeruji besi sehingga kemungkinan terperosok semakin sangat kecil
terjadi.
Besi
Berjalan dan Tempat Bernaungnya
Ini yang cukup mainstream, bus dengan halte penghias
trotoar. Keren juga ketika UNNES ada busnya, tapi yaa jangan terlalu gumun, tapi ya memang tidak sedikit juga
mahasiswa kurang kerjaan dengan memakai fasilitas ini hanya untuk memutari rute
bus, ehem, termasuk saya. Bus berplat merah ini, kurang lebih setiap lima belas
menit selalu ada untuk mengangkut para mahasiswa yang menunggu di halte atau
berjalan di pinggir jalan, atau trotoar. Armada bus ini kurang lebih berjumlah
empat buah dengan bahan bakar yang ditanggung oleh UNNES, mahasiswa juga tidak
dipungut biaya untuk menaiki besi berjalan ini. Bus ini beroperasi sejak pukul
07.00 pagi hingga pukul 04.30 sore. Jadi untuk mahasiswa yang kuliah dari pagi
sampai sore, tenang, tapi kalau yang kuliah malam, maaf-maaf saja.
Putar
Roda, Gowes!
Apalagi kalau bukan sepeda. Sepeda ada dua
kasta, untuk dosen dan untuk mahasiswa. Yang diperuntukkan dosen adalah semacam
sepeda lipat unyu yang tidak diragukan kualitasnya, dan yang diperuntukkan
mahasiswa adalah sepeda dengan deskripsi sebaliknya. Dan, sayang sekali,
pemanfaatan sepeda ini menurut saya, kurang.
Are we really ready
enough?
Pertanyaan frontal
menohok, apakah UNNES sudah cukup siap dengan perubahan semacam ini? Jadi ada
beberapa pendapat dari beberapa mahasiswa, berikut jawaban mereka :
NP, FIS.
Belum siap. Lebih kepada parkir yang masih berada di beberapa fakultas yang kuotanya hingga penuh, sedangkan padahal Gedung Serba Guna sendiri sudah dibangun semegah itu. Membuktikan program mulia ini belum terrealisasi.
Dengan maksud bahwa bila sudah ada Gedung Serba Guna (GSG), buat apa masih ada parkir di beberapa fakultas? Fakultas Ilmu Pendidikan sendiri yang sangat dekat dengan GSG masih disediakan parkiran. Bila Fakultas Teknik atau Fakultas Ilmu Keolahragaan mungkin masih dapat ditoleransi karena sangat jauh dari GSG.
RK, FMIPA.
Belum siap, tapi memang membutuhkan proses. Saya juga masih merasa agak tidak efektif dengan parkiran yang berada di beberapa fakultas. Dirumorkan bahwa parkiran di beberapa titik-titik di fakultas menguntungkan pihak dosen yang tidak ingin berjalan jauh dari GSG ke fakultas masing-masing. Padahal fasilitas bus, sepeda yang berkualitas baik, dan halte sudah tersedia.
TY, FMIPA.
Belum siap. Sebenarnya, gedung FMIPA sendiri masih belum maksimal (dalam artian fasilitas-fasilitas pendukung perkuliahan), tetapi malah membangun gedung lain. Mengenai parkir, ribet. Bila berniat terpusat di GSG, yaa, jangan bercabang dan membingungkan mahasiswa yang berujung menjadi tidak efektif. Bus sendiri tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa, ketegasan pemakaian sepeda motor yang kurang mengakibatkan program ini benar-benar kurang terrealisasi.
SOA, FBS.
Belum. Konservasi belum tercapai, terlebih kepada transportasi kampus karena walaupun diberlakukan bebas parkir tetap saja masih ada beberapa fakultas membuka parkir di dalam fakultas. Padahal, sebelumnya saya rasa lebih baik karena udara di dalam kampus tidak tercemar seperti sekarang.
Mengenai bus, sebagian mahasiswa memanfaatkannya, sebagian merasa terganggu karena harus dicegat dan juga dilarang melewati jalan mulus yang diperuntukkan mahasiswa.
Plus-Plus-Minus-Minus
Siapa
pun membahas hal-hal yang negatif sangatlah mudah dibanding membicarakan
hal-hal yang lebih positif. Apa saja positifnya? Sebenarnya konservasi di UNNES
sudah cukup disadari beberapa pihak dengan terpaksa atau senang hati, dan
pentingnya konservasi untuk menjaga lingkungan kampus, serta pengendara motor
bisa dikatakan lebih teratur dengan hanya berada di tepi UNNES, tanpa ikut
menggunakan jalan-jalan urat nadi yang digantikan dengan penggunaan bus yang free-pay. What is the negative? Ada beberapa konsep dari konservasi ini agak
menggelitik, yaitu penggunaan bus dengan bahan bakar fosil yang sama saja
mencemari udara, apalagi masih banyaknya sepeda motor yang berkeliaran
menjadikan transportasi malah tidak menjadi baik, penggunaan sepeda yang minim,
kerimbunan pohon untuk pejalan kaki kurang mengakibatkan para pejalan kaki yang
memulai perkuliahan menjadi tidak maksimal
Saran
Suatu
perubahan yang besar memang sangat sulit terrealisasi. UNNES adalah pelopor
yang baik untuk perguruan tinggi yang memperhatikan lingkungan. Secara umum, gerakan
ini baik dalam segi persiapan, dan hanya membutuhkan peningkatan kualitas.
Secara mendetilnya, gerakan ini cukup cacat di sana-sini. Efektifitas yang
masih lemah di penegasan penggunaan kendaraan pribadi, peraturan yang masih
longgar, dan kesadaran para warga yang kurang.
Sebelumnya,
banyak sesuatu yang baik atau buruk mempunyai resiko. Untuk jadi lebih baik
adalah suatu langkah untuk keluar dari safety
zone yang tentunya menuju yang lebih baik. Sehingga, saran saya bahwa
pengaturan yang tegas itu perlu dan harus diterapkan ke seluruh warga tanpa
kecuali. Efektifitas tempat parkir yang tegas, pendahuluan kepentingan
perkuliahan, dan perencanaan dan realisasi yang matang dalam perwujudan
konservasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar