Minggu, 31 Maret 2013

Cerita tentang Perkerasan Jalan

Hello, everyone!
Sometimes, I was thinking, kenapa jalan dibuat sebegitu kerasnya? Kenapa kalau jatuh dari sepeda motor atau kendaraan lain, kita luka yang minimnya kita dapat luka lecet atau parahnya bisa terluka dalam atau bahkan amnesia? ‘Kan sebenarnya enak kalau jalan jadi empuk, kita bisa main trampolin di jalan, hehe. Halah, jadi, perkerasan jalan itu apa?

Perkerasan Jalan adalah tentang tata cara perencanaan dan pelaksanaan pembuatan lapis perkerasan untuk jalan raya, pemilihan dan pengujian material yang digunakan serta penggunaan peralatan untuk pembangunannya. Definisi lain, perkerasan jalan adalah campuran agregat dan bahan ikat yang digunakan untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai ada batu pecah, batu belah, batu kali, dan hasil peleburan baja. Sedangkan bahan ikat yang dipakai ada aspal, semen, dan tanah liat.

Hey, kenapa perkerasan semacam ini perlu? Siapa pencetus adanya teori ini? Bagaimana teori atau apalah ini, bisa menjadi dasar perkembangan manusia? If that questions fly away in your mind, okay, let’s start the short history of  Perkerasan Jalan.

Sejarah jalan pada hakekatnya dimulai bersama dengan sejarah manusia. Pada saat pertama manusia mendiami bumi kita ini, usaha mereka pertama-tama ialah mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka terutama makan dan minum. Karena manusia dan binatang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu minum, maka jejak-jejak yang menuju ke danau-danau atau sungai-sungai lebih banyak ditemukan.

JALAN SETAPAK. Setelah manusia berkembang biak dan hidup berkelompok, maka mereka membutuhkan termpat berdiam meskipun hanya sementara. Pada waktu itu jejak-jejak tersebut menjadi jalan setapak atau bila di hutan terkadang disebut “lorong-lorong tikus”. Jalan ini merupakan jalan musiman (seasonal-road). Orang-orang nomaden mempergunakan jalan ini untuk berburu pada musim berburu dan untuk mencari ikan.

SEBELUM MENGENAL HEWAN SEBAGAI ALAT ANGKUT. Setelah manusia diam berkelompok di suatu tempat yang tetap mereka mulai mengenal artinya jarak jauh dan dekat. Maka dalam membuat jalan mereka berusaha mencari jejak yang paling pendek dengan mengatasi rintangan-rintangan yang ada. Misalnya bila melewati tanjakan yang curam, mereka membuat tangga-tangga dan bila melewati tempat-tempat yang berlumpur mereka menaruh batu-batu di sana sini agar bisa melompat-lompat di atasnya.

SETELAH MENGENAL HEWAN SEBAGAI ALAT ANGKUT. Setelah manusia mengenal hewan sebagai alat angkut, maka konstruksi jalan mulai berkembang. Bentuk jalan yang semula bertangga-tangga kemudian mulai dibuat lebih mendatar. Selain itu ditempat-tempat yang jelek, mereka menaruh batu-batu yang disusun secara rapat. Sehingga dengan demikian lahirlah konstruksi perkerasan. Menurut Herodotus pada abad ke-5 bangsa Yunani membuat jalan dari blok-blok batu di Mesir lewat padang pasir untuk mengangkut batu-batu besar guna membuat piramida-piramida. Pada abad ke-12 M bangsa Inca yang hidup di sepanjang pegunungan Andes di pantai Barat Amerika Selatan (Peru, Chili, Argentina) juga membuat perekerasan dari batu-batu blok yang besar-besar. Selain itu, di benua Amerika suku Maya telah membangun kota mereka dengan memakai material bebatuan bersusun dengan berbagai ukuran. Bangunan dari batu ini terlihat kasar namun indah. Menyiratkan suatu bentuk peradaban yang sudah maju dengan sistem tata kota yang teratur, rinci dan detail. Bahkan teknologi pengerasan jalan sudah ditemukan suku ini. Buktinya banyak di situs suku Maya terdapat jalan raya yang lebar, lurus dan panjang yang terbuat dari struktur batu yang rapi. Satu peninggalan berteknologi “modern” yang tersisa dari mereka adalah jalan raya yang menghubungkan Coba dan Yaxuna sejauh seratusan km (62 mil). Semua terbuat dari batu yang dikeraskan dengan bahan kimia (semacam aspal siram). Strukturnya terdiri dari batu besar yang keras di kiri kanan badan jalan dan di tengahnya diisi bebatuan halus, baru disiram dengan bahan kimia tertentu sebagai pelapis atasnya. Semua struktur jalan karya suku Maya memiliki ukuran dengan standar sama yang dibuat dengan detail mengagumkan.

SETELAH MENGENAL KENDARAAN BERODA. Bangsa Romawi mulai abad ke-4 SM sampai abad ke-4 M telah membuat jalan dengan perekerasan ukuran tebal 3- 5 feet (1- 1,7 m) dan lebarnya 35 feet (kurang lebih 12 m).

PADA AKHIR ABAD KE 18. Seorang bangsa Inggris bernama Thomas Telford (1757 – 1834) ahli jembatan lengkung dari batu, menciptakan konstruksi perkerasan jalan yang prinsipnya seperti jembatan lengkung. Prinsip ini menggunakan desakan-desakan dengan menggunakan batu-batu belah yang dipasang berdiri dengan tangan. Konstruksi ini kemudian sangat berkembang dan dikenal dengan sebutan sistem Telford. Pada waktu itu pula Scotsman John London Mc. Adam (1756 – 1836) memperkenalkan konstruksi perekerasan jalan dengan prinsip “tumpang tindih” dengan menggunakan batu-batu pecah dengan ukuran terbesar “3”. Perkerasan sistem ini sangat berhasil dan merupakan prinsip pembuatan jalan secara masinal (dengan mesin). Selanjutnya sistem ini disebut sistem Macadam. Sampai sekarang kedua sistem tersebut masih lazim dipergunakan di daerah-daerah di Indonesia dengan menggabungkannya menjadi sistem Telford-Macadam. Dengan begitu perkerasan jalan untuk bagian bawah menggunakan sistem Telford kemudian untuk perkerasan atas dengan sistem Macadam.

Okay, I hope it can be useful, guys! Enjoy..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar