Civil Engineering. Ini
postingan tugas untuk minggu ke lima, karena diputuskan
untuk menulis blog tugas dua minggu sekali. Untuk postingan pertama (minggu ke-2) tentang Sinkhole1, dan Sinkhole 2, dan yang kedua (minggu ke-3) tentang Transportasi Internal UNNES. Sebelum baca tentang ini, mungkin bisa
buka dulu postingan Cerita Tentang Perkerasan Jalan. (you can klik
underlined title if you wanna read)
Hi, you.
Postingan
kali ini bakal bahas tentang kemolekan jalan dari Jembatan Besi (Kreteg Wesi),
Sampangan sampai ke Kampus UNNES tercintah. Apa moleknya? Dengan
gelombang-gelombang ala jet coaster
gagal? Dengan tanjakan seolah berujung jurang di kanan-kirinya? Halah, makanya
kita bakal bahas soal jalan itu.
Apa yang terjadi sih
kok jalannya bisa nggak enak gitu?
Dari
sepanjang Jembatan Besi, atau kita sebut saja Kreteg Wesi selayaknya nama
pasarannya, sampai dengan tepat di Kampus Konservasi, UNNES, di Sekaran, kita
tahu jalan tanjakannya tidak enak, jauh dari kata nyaman sebenarnya. Ada sumber
mengatakan kalo memang daerah di jalan situ memang mempunyai kondisi tanah yang
labil alias tidak stabil. Sehingga ada beberapa aspal yang bergelombang, retak,
dan lain-lain. Disini, aku bakal bahas muka aspal di sepanjang jalan itu.
Bentar, mending kamu
jelasin dulu tentang aspal itu apa dulu deh biar ngerti. Dan kasih tahu juga
yang namanya aspal itu punya sifat apa aja.
Oke.
Aspal
itu didefinisikan sebagai material berwarna hitam atau cokelat tua, pada
temperature ruang berbentuk padat sampai agak padat. Jika dipanaskan sampai
pada temperatur tertentu, aspal bisa menjadi lunak (cair) sehingga dapat
membungkus partikel agregat pada waktu pembuatan aspal beton. Jika temperature
mulai turun, maka aspal akan mengeras dan mengikat agregat pada tempatnya
(termoplastis).
Hydrocarbon
adalah bahan dasar utama dari aspal yang biasanya disebut bitumen. Aspal yang
umumnya dipakai adalah hasil dari destilasi minyak bumi, dan sering pula dari
aspal alami dari Pulau Buton.
Jenis
aspal sendiri ada dua golongan berdasarkan caranya diperoleh, aspal alami dan
aspal buatan. Aspal alami dibedakan atas : aspal gunung, yang misalnya ada pada
Pulau Buton, dan aspal danau, yang misalnya ada di Bermuda, Trinidad. Aspal
buatan dibedakan atas : aspal minyak bumi yang merupakan hasil dari
penyulingan, dan Tar yang merupakan hasil penyulingan batu bara, tetapi aspal
ini mudah mengeras, peka dengan temperature, dan beracun.
Sedangkan
sifat-sifatnya sebagai fungsinya sebagai perkerasan jalan, yaitu : sebagai
bahan pengikat yang memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan agregat dan
antar aspal itu sendiri dan sebagai bahan pengisi mengisi rongga-rongga antara
butir-butir agregat dan pori-pori yang ada dari agregat itu sendiri. Hal ini
mengandung indikasi bahwa aspal harus mempunyai daya tahan terhadap cuaca,
adhesi dan kohesi yang baik, dan memberikan sifat elastis yang baik.
Okay, sekarang aku
kenal secara singkat sama aspal. Sekarang lanjutkan, ada apa aspal di sepanjang
jalan dari Kreteg Wesi sampai UNNES?
Jadi,
menurut pengamatan penulis dan pengalaman melewati jalannya itu, di sepanjang
jalan itu keadaannya adalah sebagai berikut :
Deformasi Plastis
(Gelombang)
Jadi
ingat mata kuliah tentang mekanika bahan bangunan yang mendeskripsikan tentang Plastis. Saya harap Anda tidak
membayangkan wujudnya plastik kresek, terima kasih. Plastis, artiannya adalah
suatu keadaan dimana sesuatu sudah melewati batas elastisnya, jadi sesuatu itu
sudah tidak bisa, kata orang, mulur. Nah, begitulah yang terjadi deformasi
plastis atau bergelombang pada aspal. Penyebabnya biasanya karena aspalnya
berlebih dan stabilitas tanah rendah.
Ambles
Ambles
di sini lebih kepada ada semacam relungan yang membuat aspalnya tidak rata.
Disebabkan oleh konsolidasi daripada tanah lunak/timbunan yang kurang padat,
beban lalu lintas yang melampaui rencana, pelaksanaan perkerasan kurang baik,
perubahan volume pada material subgrade akibat dari pengaruh lingkungan seperti
perubahan kadar air pada tanah lunak, dan penurunan akibat tidak stabilnya
timbunan.
Retak
Retak
seperti yang kita tahu, bentuknya terpecah-pecah dari yang seharusnya tidak
pecah, hehe, definisi sendiri saja sih. Penyebabnya bisa karena lemahnya daya
dukung pondasi, perkerasan aspal kurang, aspal sudah getas, adan adanya
penyusutan pada tanah dasar (tanah expansive).
Pengelupasan
(Delamination)
Jadi
aspalnya ada yang mengelupas permukaannya, disebabkan oleh kurang bersihnya
atau tidak cukupnya lapisan ikat sebelum dilapisi aus, masuknya air ke dalam
lapisan aus, dan melemahnya penyelaputan aspal pada batas lapisan.
Pelepasan Butir
Pelepasan
butir ini bentuknya seperti ada beberapa titik-titik yang aspalnya tidak ada,
disebabkan oleh kerusakan aspalnya atau agregatnya, aspal yang kurang, kurangnya
pemadatan saat pelaksanaan, sifat agregat yang porous, dan basahnya campuran
beraspal saat pemadatan.
Lubang-Lubang
Seperti
yang bisa dibayangkan saudara-saudara kalau yang dimaksud adalah jalannya
berlubang-lubang. Penyebabnya karena tebal lapisan kurang tebal, agregaat
kotor, kadar aspal rendah, dan drainase kurang baik.
Gawat juga kalau
infrastuktur kota semetropolitan Semarang kayak gitu ya? Seharusnya bagaimana
sih untuk membangun jalan, yang kita tahu, transportasi itu penting banget buat
sarana kemana-mana?
Sederhana
sih, membangunnya juga harus yang baik, benar, dan sesuai aturan. Ada beberapa
pemeriksaan aspal kalau ingin jalannya bagus, selain pemeriksaan geologinya
juga sih. Pemeriksaan aspal yang dimaksud, seperti : Pemeriksaan Penetrasi
Aspal (tingkat kekerasan aspal), Pemeriksaan Titik Lembek/Lunak, Pemeriksaan
Kehilangan Berat Aspal, Pemeriksaan Daktilitas (Keuletan) Aspal, dan lain-lain.
Tapi,
sempurna itu juga tidak mungkin, jadi kesalahan manusia (yang memang ditakdirin
banyak salah) patut dimaklumi. Tapi kalau tidak mencoba semaksimal untuk
menjadi sempurna, itu dah kesalahan fatal yang bakal rugi di banyak pihak.
The End.
Thanks for coming and Enjoy
my posting! *titik-dua-kurung-tutup*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar