Siapa orang terhebat?
Siapa yang kira-kira terlintas di pikiranmu? Hitler dengan segala kata-kata penyemangatnya? Ibu Kartini dengan emansipasi yang didobraknya? Atau Bung Karno dengan segala wibawa dan bijaknya memplokamirkan kemerdekaan Indonesia?
Tapi, Teman.
Aku mempunyai seseorang yang sangat hebat.
Dialah yang misterius. Orang yang duduk di depan panggung yang dirancang meriah, diam dan tersenyum melihatku bernari, berlenggak lenggok bagai penari yang gemulai mengapresiasikan musik yang bergema kala itu, di Semarang, tanggal 11 Maret 1998. Aku tidak peduli tarianku bagus atau tidak, entah mendapatkan penilaian yang tertinggi atau tidak, atau mendapatkan tepuk tangan paling banyak bergema. Ternyata aku tidak peduli. Mataku hanya tertuju pada satu titik itu, titik dimana orang itu duduk dengan sedikit berbisik pada orang di sebelahnya. Dan aku hanya, hanya tersenyum padanya. Dan aku buktikan, ini aku. Walau pun ia tak hanya melihat aku, ia juga melihat teman-temanku yang berlenggok di sekitarku. Tapi aku tak peduli.
Dan dialah yang paling sabar. Orang yang menjawab pertanyaan sulit dari Pekerjaan Rumahku. Yang pertanyaannya adalah “Apa kapal Fery itu?”. Dan masih terlintas ketika dia menyapu halaman dengan rasa letih melanda tubuhnya, dengan wajah yang ia paksakan tersenyum menjawab pertanyaanku itu, dan dengan kesabarannya untuk sedikit mendongak ketika aku menginginkan jawaban dari pertanyaan itu. Dialah orang punya kekuatan untuk membuatku hari ini, 2 Juni 2011, menyadari arti dari kehidupan kerasnya selama ini. Kehidupan yang sebagiannya tidak diinginkan, dan dia, selalu menginginkan yang terbaik untuk hidupnya. Walaupun dia punya batasan yang tidak boleh ia langgar. Tidak bisa.
Ya. Dialah yang terhebat. Seseorang yang berdiri di sebelahku dengan senyumnya yang agak kaku di depan kamera, dengan mengenakan kaos putih dan celana pendek biru di hari Minggu, 23 Juni 1996, di Jogja. Aku masih berusia tiga tahun kala itu, yang sangat takut dengan suara pesawat terbang, yang sangat takut menyentuh badan pesawat, dan yang sangat takut akan gelap. Aku yang berdiri di sebelahnya pada tanggal itu, memakai dress merah polkadot putih dengan kaos putih, aku menggenggam tangannya kerena rasa canggung pada sesuatu yang baru. Aku difoto.
Dialah orang paling khawatir. Dengan segala wajah yang gugupnya menyuruhku mandi seusai menjalani diksar selama empat hari. Menyuruhku memakan mie dan nasi yang ia buatkan, dan ternyata aku menolaknya mentah-mentah. Dan ketika ia mengkhawatirkan apa yang aku lakukan selama empat hari. Dan ia, yang tahu aku. Segala resiko itu aku tanggung, sakit, tapi ia hanya diam. Miris.
Dan dialah yang kini, hari ini, dan di hari-hari kemarin, menghiburku dengan segala petuah-petuah sabarnya. Dialah yang mencoba memberitahuku bahwa kehidupan tidak akan seperti yang kita rencanakan atau seperti yang kita bayangkan. Dialah, seseorang yang mencoba memberitahuku bahwa masih ada waktu mengejar mimpi, masih ada lengang waktu untuk berusaha, dan senantiasa ada waktu untuk menjalani apa yang aku suka. Dan dialah yang sangat terpukul karena tidak bisa membantu. Memang tidak adil aku rasa.
Tapi, ternyata aku hanya ingin ia tersenyum, dan bangga padaku. Aku tidak ingin segala peluhnya, tangisnya, dan keluhnya terdengar lagi. Tidak. Tidak mau.
Dan, saat melihatnya…
Menangis. menangisiku yang tak kunjung sadar di sebuah kamar di rumah sakit. Menangis karena aku terbaring lemah dan tak sadarkan diri. Apa yang dipikirkan orang sepertinya? Mengetahui aku –bukan dia yang tergolek lemah di tempat tidur rumah sakit. Dengan selang dimana-mana, dengan alat oksigen yang terpasang, dan dengan diam, tanpa sedikit pun pergerakan bahwa aku hidup. Apa yang dipikirkannya?
Yaa Allah, na’udzubillahimindzalik.
Aku hanya harus mengikutinya. Menjalani kesabaran yang ia ajarkan. Mencoba mengerti keadaan yang berat, yang sangat tidak diharapkan saat ini. Mencoba tertawa, walau terkadang marah karena ia tidak terima dengan sesuatu. Dan dialah orang yang selalu mengulang kata-kata petuah agar aku jenuh dan mencoba menanamkan petuahnya dalam hati.
Oh, God… I love my mom.
So, guys! Who is the greatest person in your life? 
