aku lagi baca buku yang judulnya The Geography Of Bliss, dah pernah aku ceritain kan di postingan Travelling di rumah sama Belanda, Kebahagiaan adalah Angka
hahaha perasaan baca bukunya nggak selese-selese ya? hehehe. saya inget koh hutang postingan tentang buku itu, maaf ya... *membungkuk*
13:32 dalam keadaan abis dimarahin orang, padahal yang salah siapa. jadi ilang deh mau nulis apa.
brrrrr.bentar, otaknya direfresh dulu.
*klik kanan-refresh* *klik kanan-refresh* *klik kanan-refresh*
Hoah. Dah masuk ke bab yang ke-3, negara Bhutan. Yang agak bikin aku ngerutin alis adalah jalan pikiran seorang Lama, seorang panutan gitulah, orang penting. Namanya Karma Ura.
Dia memandang (sepanjang sejarah) hidupnya bahwa dia bahagia, bahagia karena dia tidak punya harapan yang tidak realistis. Intinya, dia orang realistis, orang yang sama sekali tidak mengejar sesuatu dengan suatu harapan yang 'tidak ada'. kamu ngerutin alis nggak?
Mind set yang aku terima sepanjang hidupku (hidupnya Ating), itu beda banget, sangat beda sekali. Lebih tepatnya sih pas SMA, aku bermimpi untuk jadi ini-itu, dengan begini-begitu, dan yang menghancurkan mimpku itu yaa si Realistis. Aku bermimpi gini, si Real selalu berkenyataan seperti itu. semua diancurin dengan sekali tebas.
Hidup ini, hidup kita, hidup yang kita atur bertujuan tertentu sesuai dengan apa yang kita mau, kita cintai, dan kita percayai. dan dengan bermimpi kita punya rencana untuk mewujudkan segala tujuan hidup kita itu, entah berguna buat nusa bangsa, atau setidaknya punya pacar. *eh?
Dreams make many plans.
Jadi, gimana tentang Karma Ura?
Oke, kita posisikan kita bukan seseorang yang bermind-set seperti Ating. kita berada di tengah.
Karma Ura. Dia orang yang realistis, jadi mungkin aku bisa bilang bahwa dia menempuh hidup dia dengan mengikuti arus sungai, arus yang mengalir. tapi nggak bisa dibilang flat, karena Karma Ura bikin sesuatu yang membuat dia dikenal dan berpengaruh di Bhutan.
Karma Ura menganggap suatu keberhasilan atau kegagalan itu bukan sesuatu yang besar. Mungkin ia anggap itu cukup berpengaruh di hidupnya, tetapi apakah menyentuh hidup orang lain? bila ia mendapatkan sesuatu yang baik atau yang buruk pada hari ini, maka pada malam harinya, ia akan hanya mengatakan 'Tidak apa-apa' untuk dirinya sendiri.
Nah lho? kalian punya kesimpulan macam apa?
to be continued...
hahaha perasaan baca bukunya nggak selese-selese ya? hehehe. saya inget koh hutang postingan tentang buku itu, maaf ya... *membungkuk*
13:32 dalam keadaan abis dimarahin orang, padahal yang salah siapa. jadi ilang deh mau nulis apa.
brrrrr.bentar, otaknya direfresh dulu.
*klik kanan-refresh* *klik kanan-refresh* *klik kanan-refresh*
Hoah. Dah masuk ke bab yang ke-3, negara Bhutan. Yang agak bikin aku ngerutin alis adalah jalan pikiran seorang Lama, seorang panutan gitulah, orang penting. Namanya Karma Ura.
Dia memandang (sepanjang sejarah) hidupnya bahwa dia bahagia, bahagia karena dia tidak punya harapan yang tidak realistis. Intinya, dia orang realistis, orang yang sama sekali tidak mengejar sesuatu dengan suatu harapan yang 'tidak ada'. kamu ngerutin alis nggak?
Mind set yang aku terima sepanjang hidupku (hidupnya Ating), itu beda banget, sangat beda sekali. Lebih tepatnya sih pas SMA, aku bermimpi untuk jadi ini-itu, dengan begini-begitu, dan yang menghancurkan mimpku itu yaa si Realistis. Aku bermimpi gini, si Real selalu berkenyataan seperti itu. semua diancurin dengan sekali tebas.
Hidup ini, hidup kita, hidup yang kita atur bertujuan tertentu sesuai dengan apa yang kita mau, kita cintai, dan kita percayai. dan dengan bermimpi kita punya rencana untuk mewujudkan segala tujuan hidup kita itu, entah berguna buat nusa bangsa, atau setidaknya punya pacar. *eh?
Dreams make many plans.
Jadi, gimana tentang Karma Ura?
Oke, kita posisikan kita bukan seseorang yang bermind-set seperti Ating. kita berada di tengah.
Karma Ura. Dia orang yang realistis, jadi mungkin aku bisa bilang bahwa dia menempuh hidup dia dengan mengikuti arus sungai, arus yang mengalir. tapi nggak bisa dibilang flat, karena Karma Ura bikin sesuatu yang membuat dia dikenal dan berpengaruh di Bhutan.
Karma Ura menganggap suatu keberhasilan atau kegagalan itu bukan sesuatu yang besar. Mungkin ia anggap itu cukup berpengaruh di hidupnya, tetapi apakah menyentuh hidup orang lain? bila ia mendapatkan sesuatu yang baik atau yang buruk pada hari ini, maka pada malam harinya, ia akan hanya mengatakan 'Tidak apa-apa' untuk dirinya sendiri.
Nah lho? kalian punya kesimpulan macam apa?
to be continued...
