Jadi pagi ini, 10:01 am, July 27
2013, aku barusan baca buku Lutung Kasarung dan Purbasari. Cerita klise anak
Indonesia menurutku, karena siapa yang belum tahu ceritanya? I recommend to read that. Cerita tentang
Kerajaan Pasir Batang dengan Rajanya bernama Prabu Tapa Agung yang menurunkan
tahtanya kepada salah satu putrinya, dengan intrik kegalauannya antara putri
sulungnya, Purbararang atau putri bungsunya, Purbasari. Bukan hal tidak bisa
ditebak bila akhirnya happy ending.
Ada scene cerita yang cukup mengena, dan bersinggungan dengan buku
#UdahPutusinAja milik Felix Siauw. Bagian yang mana?
Ketika Purbasari yang disiksa
oleh Purbararang, saudarinya sendiri yang menjadi Ratu Sementara di Kerajaan
Pasir Batang (sementara yang dimaksud untuk menunggu Ratu sesungguhnya,
Purbasari, beranjak dewasa dan matang dalam memerintah kerajaan). Purbasari
yang diberi lulur boreh yang menyebabkan Purbasari berkulit legam, dan dibuang
ke dalam hutan angker, Sanggadunya.
“Tak jauh dari hutan Sanggadunya,
ada gunung yang sangat tinggi. Karena tingginya, puncak gunung itu diliputi
awan. Gunung itu seolah menjadi jembatan antara bumi dan Negeri Kahyangan. Di
negeri di atas awan itu, hidup para Pohaci dan Bujangga. Mereka adalah makhluk
seperti manusia, tapi lebih cantik dan ganteng beberapa kali lipat dibandingkan
manusia.
Pohaci adalah sebutan untuk
penghuni perempuan Kahyangan dan Bujangga adalah sebutan untuk penghuni lelaki.
Orang-orang bumi percaya para Pohaci dan Bujangga memiliki banyak kesaktian.
Kahyangan dipimpin oleh seorang
ratu yang disebut Sunan Ambu. Sunan Ambu memiliki beberapa anak, salah satunya
adalah Pangeran Guruminda. Guruminda adalah pemuda yang diimpikan semua pohaci
di Kahyangan. Ia memiliki hati yang baik, sekaligus penampilan yang sangat
mempesona.”
Ekspekstasi pikiranku, hmm, pasti
Guruminda nih gantengnya dah dewa. Seganteng-gantengnya laki-laki di Bumi, dan
Bujangga itu berapa kali lipatnya dari kegantengan laki-laki di Bumi, dan
Guruminda yang paling kece di antara Bujangga. Edyan.
“Namun, akhir-akhir ini Sunan
Ambu merasa kehilangan Guruminda. Ia sangat jarang melihatnya di istana
Kahyangan.
Tak lama kemudian, Guruminda
datang menemui ibunya. Wajahnya sedih dan kepalanya terus menunduk.
“Anakku Guruminda, apa yang sedang
kaupikirkan? Mengapa engkau tampak bermuram durja?” tanya Sunan Ambu lembut.
Guruminda ingin menjawab, tapi begitu sulit baginya untuk berkata-kata. Ia
tetap menunduk.
Sunan Ambu adalah perempuan yang
arif, ia segera mengetahui apa yang dirasakan anaknya. Walau tak sepatah kata
pun keluar dari bibir Guruminda. “Hmm… Ibu sadar, kini kau telah dewasa.
Tentunya kau perlu pendamping. Adakah pohaci cantik yang menarik hatimu?
Katakanlah pada Ibu siapa namanya. Ibu akan menolongmu untuk mempertemukan engkau
dengannya,” tutur Sunan Ambu. “Guruminda, katakanlah,” desak Sunan Ambu lembut.
“Ibu, saya tidak mau bertemu
dengan pohaci mana pun, kecuali yang mempunyai hati secantik ibunda. Dan saya
tahu, mencarinya sangat sulit,” tutur Guruminda perlahan, sambil tetap
memnunduk.
“Anakku Sayang, sangat mudah bagi
kita untuk menemukan pohaci atau gadis cantik. Namun untuk mengetahui
kecantikan hati seseorang, kau harus mengenalnya dulu. Mungkin, ibu tahu gadis
yang kau cari. Dia ada di bumi. Pergilah kau ke sana. Tidak sebagai Guruminda,
tapi kau akan menyamar sebagai seekor lutung. Kini namamu adalah Lutung
Kasarung,” kata Sunan Ambu.
“Pergilah anakku, pergilah ke
bumi. Kau akan kembali ke wujud semula kalau ada gadis yang mencintaimu
walaupun wujudmu seekor lutung. Dialah gadis dengan kecantikan hati yang kau
inginkan,” kata Sunan Ambu, lagi.”
Terlalu klise mungkin kita ekspektasi
ke orang (manusia) yang rupawan secara physically.
Aku belajar dari seseorang, dia tidak perlu orang yang cantik atau ganteng buat
ada di sekitaran dia, dia hanya butuh orang yang asik. Ada juga teman yang
bilang, kalo kamu mengharapkan orang yang sempurna, selamat! Anda mendapatkan
tiket jomblo seumur hidup.
Jadi. WONG KI LANGKA SING
SEMPURNA, CUY!
Haha begitu juga jodoh.
Di buku Felix Siauw : #UdahPutusinAja, bila perempuan untuk jadi
kriteria seorang lelaki, mungkin harus berpikiran jauh. Kalo aku seorang
muslim, kira-kira muslimah yang seperti apa yang bisa mendampingi aku?
Nah lho. Hukum milik Mba Jilvia
muncul, “Perempuan baik, untuk Lelaki yang baik”. Seperti yang terdengar dan
terlihat dimana-mana, kita mungkin tidak akan pernah berhenti memperbaiki diri.
Memperbaiki diri, yang jelas dan yang utama, yaitu memperbaiki untuk menghadap
kepada-Nya suatu saat, dan selanjutnya untuk yang lainnya, termasuk untuk
jodoh.
Kata orang, Jodoh itu Rezeki.
Jadi, selama jodoh itu belum diberi oleh-Nya, kita punya kesempatan buat
memperbaiki “kerusakan-kerusakan” diri, tentunya lahir dan batin.
Mungkin kalau aku, aku mungkin seperti Guruminda, aku seorang
pohaci yang sedang bertransformasi menjadi ‘lutung’, jadinya lagi tunggu
(rezeki) jodoh yang bener-bener punya kegantengan hati super terbaik dari-Nya.
*hahaha, sebenernya menghibur hati aja sih.. *jodoh mana jodoh
*now playing : Maudy Ayunda –
Cinta Datang Terlambat*
Enjoy *LaughOutLoud