Jumat, 02 Agustus 2013

Nzam, you’re just fix me


1 Agustus 2013 10:25 pm

Lights will guide you home. And ignite your bones. And I will try to fix you.

Aku menggeledah tas, dan mengambil beberapa kertas kecil di tas. Bukan sembarang kertas kecil. Serasa kertas itu berubah jadi lembaran emas, yang aku tahu, suatu saat di waktu nanti, aku bakal tersenyum untuk membacanya lagi. Suatu saat, jadi bahan yang menyenangkan untuk mengenang saat menggenggam masa muda kayak gini.

Ya, aku barusan bertemu Gonzam dalam rangka buka bersama. Tentu saja, kenyang. Tentu saja, banyak tawa. Tentu saja, heboh, karena pelopor hebringnya Raras dan saya pendukungnya, haha.

Kami bertemu di sebuah rumah makan jajaran depan rumah sakit DKT, yang makanannya, nyam-nyam enak. Dengan penampilan yang berubah, sedikit maupun banyak, dengan latar sifat masih sama, dengan cerita pendewasaan yang berbeda. Ya, kami sudah dewasa, mereka kata.

Kami jarang bertemu, honestly.

Hanya dengan momen seperti ini, kami menatap satu sama lain, mendengar cerita kejadian di luar kehidupan masing-masing, merasakan pengalaman yang dialami orang di luar diri kami sendiri. Yoka dengan cerita kehidupannya yang berubah dengan adanya orang baru yang datang, Tika dengan cerita yang cukup mengejutkan tentang kakaknya, Raras dengan curahan tangisan sekalinya yang bikin sesak, seorang Diah yang membuat sebuah bucket bunga untuk Ibunya tercinta, Lisa yang membuat mata saya berair, dan Ulfi yang mencetuskan permainan dengan lembaran biasa menjadi emas. Ah, that was our quality time, guys, kapan mau lagi?

Ah, lagi berasa so sweet nih.

Kata-kata mereka, berasa mereka akan ada di belakangku. Memegang pundakku buat jadi lebih baik, dan jadi lebih. Jodoh, mereka tak lupa menyinggungnya. Haha, Allah knows best, guys.

Dan untuk kritik klise kalian, huhu, volumeku masih saja out loud. Oh dear, trust me, I’ll try.

Mungkin kalau Tyas ikut, bakal lebih asik.

Sekarang lagi muterin lagu Fix You – Coldplay, entah, pertama dengar lagu ini, aku nggak suka. Tapi, sekarang yang lagi hafal dikit liriknya, jadi lebih sering nyanyiinnya dalam hati, dan jadi pemecah keheningan pikiran. Di reff-nya aja, “Lights will guide you home. And ignite your bones. And I will try to fix you. Aku tahu, itu Gonzam.
Nzam, kita sampai nenek-nenek ya, aamiin.


Lego, dan Tentang The Bad of Ekspektasi Wagu


Malam aneh. Ketika selimut sudah ditarik, lampu padam, dan hanya perlu mencoba tidur, tetapi malah sekarang mengetik kata-kata yang bakal dilepas begitu saja. Keinginan kuat memutar lagu milik Ed Sheeran – Lego House, hanya lagu itu dan diputar-putar. Parah banget mellownya.

July 31, 2013 10:39 pm

Pasang headset dan cuma suara Ed Sheeran yang memutar di Winamp kayak roll on. Tapi bukan itu intinya.
Ini tentang kata diri, komitmen, dan sesuatu yang disadari ternyata sulit, adalah perubahan.

Ini mungkin agak serius, yang sudah bosan mungkin bisa tekan Alt+F4.

Seperti postingan sebelumnya, ekspektasiku hari-hari libur ini tentang seorang soulmate. Ah, agak malu bahasnya. Mungkin memang didukung usia yang kian menyekik seiring waktu berjalan. Ah, atau mungkin karena kedewasaan yang berkembang. Hm, atau karena hanya sebuah emosi yang punya kebahagiaan sementara. Yang terakhir, kemungkinannya lebih besar kali yak.

Perbincangan tentang ekspektasi itu bukan sebatas aku dan segala pemikiran yang mondar-mandir di otak saja, tetapi juga sebagai bahan perbincangan dengan lisa, ulfi, ajang, ratna, dan lainnya. Berarti tidak ada yang salah dengan aku, I thought I’m normal.

Pohaci yang Bertransformasi. Ya, maksudku tentang memantaskan diri itu.

Mungkin memang perubahan (maksudnya : melakukan proses memantaskan diri) itu dipikir negatif, itu nggak gampang. Perubahan ada dua berdasar dari bagian objeknya, perbuhan outside dan inside :

Tentang outside. Mungkin pikiran yang terlintas ketika kita melihat pantulan bayangan kita seluruh badan di cermin, “hm, emang apa lagi sih yang harus diperbaiki?” pertanyaan itu yang mungkin keluar. Kata-kata agak sombong dan narsis mungkin tercetus, “udah cantik kok, udah bersih kok, udah kece kok, apa lagi sih?” tapi padahal banyak orang yang kadang masih underestimate sama orang lain. Nah, ini peran orang lain buat kasih saran, kritik, dan solusi ke orang yang ingin berubah itu.

Tapi yang namanya orang lain, pasti ada rasa pekewuh buat bilang. Yang nggak enak, yang nggak didengerinlah, yang dicuekinlah, yang takut dijauhinlah. Iya sih, orang itu berbeda, ada yang mau dikritik, ada yang nggak. Catetan buat orang yang mau kritik, liat orang yang mau dikritik, kalo mau kritik orang, coba aja kritik hal kecil aja. Kalo seumpama hal kecil aja (yang otomatis buat kebaikan dia) nggak dia lakuin, STOP, jangan kritik dengan hal yang sedang bahkan yang hal besar. *berdasar pengalaman, karena ditakutkan mendapatkan sanksi moral yang tidak enak. Dan maaf untuk para korban kritikan saya, saya hanya mencoba membantu dan maaf kalau cukup menohok.

Memperbaiki outside, minta kritik, pendapat, dan solusi. insyaAllah, masih ada orang peduli di luar sana buat kamu yang lebih baik, eciyeh. Yang paling utama, jaga kebersihan. *kayak kasih warning ke diri sendiri aja nih*

Tentang inside, ini nih yang kudu benar-benar menurutku tentang batin. Dan agama mempengaruhi juga. Karena agama adalah bahasan yang terlalu sensitif, jadi saya pikir, mending tidak dibahas jauh *peace*
Perempuan baik, untuk lelaki baik. Perempuan baik, untuk lelaki baik. Perempuan baik, untuk lelaki baik. *berlaku sebaliknya*

Semoga yang pada punya niat baik untuk berubah, dimudahkan sebatas itu masih batas wajar (sesuai keyakinan masing-masing) dan mendapat ridha-Nya. Apa sih yang lebih mulia daripada ridha dari-Nya? Yuh, muhasabah diri dan senantiasa berkhusnudzan, karena pasti (pasti dan pasti), Dia memberikan rencana paling keren buat kita kalo kita mau berusaha dalam lingkup kebaikan niat dan berdoa dalam iringan perjuangan. Hamazah!!!

Ditulis untuk menghibur diri *hehe*

Pohaci yang Bertransformasi (?)


Jadi pagi ini, 10:01 am, July 27 2013, aku barusan baca buku Lutung Kasarung dan Purbasari. Cerita klise anak Indonesia menurutku, karena siapa yang belum tahu ceritanya? I recommend to read that. Cerita tentang Kerajaan Pasir Batang dengan Rajanya bernama Prabu Tapa Agung yang menurunkan tahtanya kepada salah satu putrinya, dengan intrik kegalauannya antara putri sulungnya, Purbararang atau putri bungsunya, Purbasari. Bukan hal tidak bisa ditebak bila akhirnya happy ending.
Ada scene cerita yang cukup mengena, dan bersinggungan dengan buku #UdahPutusinAja milik Felix Siauw. Bagian yang mana?

Ketika Purbasari yang disiksa oleh Purbararang, saudarinya sendiri yang menjadi Ratu Sementara di Kerajaan Pasir Batang (sementara yang dimaksud untuk menunggu Ratu sesungguhnya, Purbasari, beranjak dewasa dan matang dalam memerintah kerajaan). Purbasari yang diberi lulur boreh yang menyebabkan Purbasari berkulit legam, dan dibuang ke dalam hutan angker, Sanggadunya.
“Tak jauh dari hutan Sanggadunya, ada gunung yang sangat tinggi. Karena tingginya, puncak gunung itu diliputi awan. Gunung itu seolah menjadi jembatan antara bumi dan Negeri Kahyangan. Di negeri di atas awan itu, hidup para Pohaci dan Bujangga. Mereka adalah makhluk seperti manusia, tapi lebih cantik dan ganteng beberapa kali lipat dibandingkan manusia.
Pohaci adalah sebutan untuk penghuni perempuan Kahyangan dan Bujangga adalah sebutan untuk penghuni lelaki. Orang-orang bumi percaya para Pohaci dan Bujangga memiliki banyak kesaktian.
Kahyangan dipimpin oleh seorang ratu yang disebut Sunan Ambu. Sunan Ambu memiliki beberapa anak, salah satunya adalah Pangeran Guruminda. Guruminda adalah pemuda yang diimpikan semua pohaci di Kahyangan. Ia memiliki hati yang baik, sekaligus penampilan yang sangat mempesona.”

Ekspekstasi pikiranku, hmm, pasti Guruminda nih gantengnya dah dewa. Seganteng-gantengnya laki-laki di Bumi, dan Bujangga itu berapa kali lipatnya dari kegantengan laki-laki di Bumi, dan Guruminda yang paling kece di antara Bujangga. Edyan.

“Namun, akhir-akhir ini Sunan Ambu merasa kehilangan Guruminda. Ia sangat jarang melihatnya di istana Kahyangan.
Tak lama kemudian, Guruminda datang menemui ibunya. Wajahnya sedih dan kepalanya terus menunduk.
“Anakku Guruminda, apa yang sedang kaupikirkan? Mengapa engkau tampak bermuram durja?” tanya Sunan Ambu lembut. Guruminda ingin menjawab, tapi begitu sulit baginya untuk berkata-kata. Ia tetap menunduk.
Sunan Ambu adalah perempuan yang arif, ia segera mengetahui apa yang dirasakan anaknya. Walau tak sepatah kata pun keluar dari bibir Guruminda. “Hmm… Ibu sadar, kini kau telah dewasa. Tentunya kau perlu pendamping. Adakah pohaci cantik yang menarik hatimu? Katakanlah pada Ibu siapa namanya. Ibu akan menolongmu untuk mempertemukan engkau dengannya,” tutur Sunan Ambu. “Guruminda, katakanlah,” desak Sunan Ambu lembut.
“Ibu, saya tidak mau bertemu dengan pohaci mana pun, kecuali yang mempunyai hati secantik ibunda. Dan saya tahu, mencarinya sangat sulit,” tutur Guruminda perlahan, sambil tetap memnunduk.
“Anakku Sayang, sangat mudah bagi kita untuk menemukan pohaci atau gadis cantik. Namun untuk mengetahui kecantikan hati seseorang, kau harus mengenalnya dulu. Mungkin, ibu tahu gadis yang kau cari. Dia ada di bumi. Pergilah kau ke sana. Tidak sebagai Guruminda, tapi kau akan menyamar sebagai seekor lutung. Kini namamu adalah Lutung Kasarung,” kata Sunan Ambu.
“Pergilah anakku, pergilah ke bumi. Kau akan kembali ke wujud semula kalau ada gadis yang mencintaimu walaupun wujudmu seekor lutung. Dialah gadis dengan kecantikan hati yang kau inginkan,” kata Sunan Ambu, lagi.”

Terlalu klise mungkin kita ekspektasi ke orang (manusia) yang rupawan secara physically. Aku belajar dari seseorang, dia tidak perlu orang yang cantik atau ganteng buat ada di sekitaran dia, dia hanya butuh orang yang asik. Ada juga teman yang bilang, kalo kamu mengharapkan orang yang sempurna, selamat! Anda mendapatkan tiket jomblo seumur hidup.

Jadi. WONG KI LANGKA SING SEMPURNA, CUY!

Haha begitu juga jodoh.
Di buku Felix Siauw :  #UdahPutusinAja, bila perempuan untuk jadi kriteria seorang lelaki, mungkin harus berpikiran jauh. Kalo aku seorang muslim, kira-kira muslimah yang seperti apa yang bisa mendampingi aku?
Nah lho. Hukum milik Mba Jilvia muncul, “Perempuan baik, untuk Lelaki yang baik”. Seperti yang terdengar dan terlihat dimana-mana, kita mungkin tidak akan pernah berhenti memperbaiki diri. Memperbaiki diri, yang jelas dan yang utama, yaitu memperbaiki untuk menghadap kepada-Nya suatu saat, dan selanjutnya untuk yang lainnya, termasuk untuk jodoh.
Kata orang, Jodoh itu Rezeki. Jadi, selama jodoh itu belum diberi oleh-Nya, kita punya kesempatan buat memperbaiki “kerusakan-kerusakan” diri, tentunya lahir dan batin.
Mungkin kalau  aku, aku mungkin seperti Guruminda, aku seorang pohaci yang sedang bertransformasi menjadi ‘lutung’, jadinya lagi tunggu (rezeki) jodoh yang bener-bener punya kegantengan hati super terbaik dari-Nya. *hahaha, sebenernya menghibur hati aja sih.. *jodoh mana jodoh
*now playing :  Maudy Ayunda – Cinta Datang Terlambat*

Enjoy *LaughOutLoud