Minggu, 31 Maret 2013

Cerita tentang Perkerasan Jalan

Hello, everyone!
Sometimes, I was thinking, kenapa jalan dibuat sebegitu kerasnya? Kenapa kalau jatuh dari sepeda motor atau kendaraan lain, kita luka yang minimnya kita dapat luka lecet atau parahnya bisa terluka dalam atau bahkan amnesia? ‘Kan sebenarnya enak kalau jalan jadi empuk, kita bisa main trampolin di jalan, hehe. Halah, jadi, perkerasan jalan itu apa?

Perkerasan Jalan adalah tentang tata cara perencanaan dan pelaksanaan pembuatan lapis perkerasan untuk jalan raya, pemilihan dan pengujian material yang digunakan serta penggunaan peralatan untuk pembangunannya. Definisi lain, perkerasan jalan adalah campuran agregat dan bahan ikat yang digunakan untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang dipakai ada batu pecah, batu belah, batu kali, dan hasil peleburan baja. Sedangkan bahan ikat yang dipakai ada aspal, semen, dan tanah liat.

Hey, kenapa perkerasan semacam ini perlu? Siapa pencetus adanya teori ini? Bagaimana teori atau apalah ini, bisa menjadi dasar perkembangan manusia? If that questions fly away in your mind, okay, let’s start the short history of  Perkerasan Jalan.

Sejarah jalan pada hakekatnya dimulai bersama dengan sejarah manusia. Pada saat pertama manusia mendiami bumi kita ini, usaha mereka pertama-tama ialah mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka terutama makan dan minum. Karena manusia dan binatang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu minum, maka jejak-jejak yang menuju ke danau-danau atau sungai-sungai lebih banyak ditemukan.

JALAN SETAPAK. Setelah manusia berkembang biak dan hidup berkelompok, maka mereka membutuhkan termpat berdiam meskipun hanya sementara. Pada waktu itu jejak-jejak tersebut menjadi jalan setapak atau bila di hutan terkadang disebut “lorong-lorong tikus”. Jalan ini merupakan jalan musiman (seasonal-road). Orang-orang nomaden mempergunakan jalan ini untuk berburu pada musim berburu dan untuk mencari ikan.

SEBELUM MENGENAL HEWAN SEBAGAI ALAT ANGKUT. Setelah manusia diam berkelompok di suatu tempat yang tetap mereka mulai mengenal artinya jarak jauh dan dekat. Maka dalam membuat jalan mereka berusaha mencari jejak yang paling pendek dengan mengatasi rintangan-rintangan yang ada. Misalnya bila melewati tanjakan yang curam, mereka membuat tangga-tangga dan bila melewati tempat-tempat yang berlumpur mereka menaruh batu-batu di sana sini agar bisa melompat-lompat di atasnya.

SETELAH MENGENAL HEWAN SEBAGAI ALAT ANGKUT. Setelah manusia mengenal hewan sebagai alat angkut, maka konstruksi jalan mulai berkembang. Bentuk jalan yang semula bertangga-tangga kemudian mulai dibuat lebih mendatar. Selain itu ditempat-tempat yang jelek, mereka menaruh batu-batu yang disusun secara rapat. Sehingga dengan demikian lahirlah konstruksi perkerasan. Menurut Herodotus pada abad ke-5 bangsa Yunani membuat jalan dari blok-blok batu di Mesir lewat padang pasir untuk mengangkut batu-batu besar guna membuat piramida-piramida. Pada abad ke-12 M bangsa Inca yang hidup di sepanjang pegunungan Andes di pantai Barat Amerika Selatan (Peru, Chili, Argentina) juga membuat perekerasan dari batu-batu blok yang besar-besar. Selain itu, di benua Amerika suku Maya telah membangun kota mereka dengan memakai material bebatuan bersusun dengan berbagai ukuran. Bangunan dari batu ini terlihat kasar namun indah. Menyiratkan suatu bentuk peradaban yang sudah maju dengan sistem tata kota yang teratur, rinci dan detail. Bahkan teknologi pengerasan jalan sudah ditemukan suku ini. Buktinya banyak di situs suku Maya terdapat jalan raya yang lebar, lurus dan panjang yang terbuat dari struktur batu yang rapi. Satu peninggalan berteknologi “modern” yang tersisa dari mereka adalah jalan raya yang menghubungkan Coba dan Yaxuna sejauh seratusan km (62 mil). Semua terbuat dari batu yang dikeraskan dengan bahan kimia (semacam aspal siram). Strukturnya terdiri dari batu besar yang keras di kiri kanan badan jalan dan di tengahnya diisi bebatuan halus, baru disiram dengan bahan kimia tertentu sebagai pelapis atasnya. Semua struktur jalan karya suku Maya memiliki ukuran dengan standar sama yang dibuat dengan detail mengagumkan.

SETELAH MENGENAL KENDARAAN BERODA. Bangsa Romawi mulai abad ke-4 SM sampai abad ke-4 M telah membuat jalan dengan perekerasan ukuran tebal 3- 5 feet (1- 1,7 m) dan lebarnya 35 feet (kurang lebih 12 m).

PADA AKHIR ABAD KE 18. Seorang bangsa Inggris bernama Thomas Telford (1757 – 1834) ahli jembatan lengkung dari batu, menciptakan konstruksi perkerasan jalan yang prinsipnya seperti jembatan lengkung. Prinsip ini menggunakan desakan-desakan dengan menggunakan batu-batu belah yang dipasang berdiri dengan tangan. Konstruksi ini kemudian sangat berkembang dan dikenal dengan sebutan sistem Telford. Pada waktu itu pula Scotsman John London Mc. Adam (1756 – 1836) memperkenalkan konstruksi perekerasan jalan dengan prinsip “tumpang tindih” dengan menggunakan batu-batu pecah dengan ukuran terbesar “3”. Perkerasan sistem ini sangat berhasil dan merupakan prinsip pembuatan jalan secara masinal (dengan mesin). Selanjutnya sistem ini disebut sistem Macadam. Sampai sekarang kedua sistem tersebut masih lazim dipergunakan di daerah-daerah di Indonesia dengan menggabungkannya menjadi sistem Telford-Macadam. Dengan begitu perkerasan jalan untuk bagian bawah menggunakan sistem Telford kemudian untuk perkerasan atas dengan sistem Macadam.

Okay, I hope it can be useful, guys! Enjoy..

Kamis, 28 Maret 2013

Semarang State University and it complicated stuff


01 Januari 2013, menjadi tanggal ketika dimulainya pergerakan konservasi di Universitas Konservasi, Universitas Negeri Semarang. Para dosen, mahasiswa, seluruh warga UNNES digerakkan untuk ‘menyemarakan’ program mulia ini. Siapa yang mau mulai kalau bukan dari kita lebih dahulu?

Jadi apa saja fasilitas yang diberikan UNNES?

Hitam, Rata, dan Diinjak-injak
Can you take a guess? Batuan kecil-kecil yang diberi pelengket yang diratakan, dengan lebar tertentu, dengan panjang mengular sebagai urat nadi yang sangat penting, yang setiap hari malah diinjak-injak oleh semua orang, semua kendaraan, terkena panas, dingin, kering. Tanpa pikir panjang, yap. Jalan.
Jalan aspal hitam ditemui di banyak sudut UNNES, dari Fakultas Bahasa dan Seni hingga Fakultas Teknik. Perbaharuan, pembangunan, penambalan aspal semuanya dilakukan untuk memberikan kenyamanan dan kelayakan dalam berkendara untuk seluruh warga UNNES. Tetapi, yang agak disayangkan beberapa warga UNNES, jalan-jalan yang terbentang cantik ini mempunyai pengaturan dalam penggunaannya sekarang, ya, konservasi maksud saya.

Jalan Paving Selebar Dua Langkah
Maksud saya adalah trotoar yang terlihat di kiri jalan guna dimanfaatkan untuk keamanan para pejalan kaki. Trotoar ini cukup dimanfaatkan para pejalan kaki, entah dosen, mahasiswa, kariawan, dan warga UNNES lainnya. Tetapi hanya cukup, hanya cukup dimanfaatkan, tidak banyak yang memanfaatkan maksud saya. Kekurangan dari trotoar ini, yang saya lihat di bentangan Gedung Serba Guna hingga Fakultas Teknik, adalah masih kurangnya pepohonan yang dapat meneduhkan para pejalan kaki, ada pula selokan yang dibiarkan berlubang cukup besar sehingga kaki pun bisa terperosok ke dalamnya, ada baiknya diberi perlindungan berupa jeruji-jeruji besi sehingga kemungkinan terperosok semakin sangat kecil terjadi.

Besi Berjalan dan Tempat Bernaungnya
Ini yang cukup mainstream, bus dengan halte penghias trotoar. Keren juga ketika UNNES ada busnya, tapi yaa jangan terlalu gumun, tapi ya memang tidak sedikit juga mahasiswa kurang kerjaan dengan memakai fasilitas ini hanya untuk memutari rute bus, ehem, termasuk saya. Bus berplat merah ini, kurang lebih setiap lima belas menit selalu ada untuk mengangkut para mahasiswa yang menunggu di halte atau berjalan di pinggir jalan, atau trotoar. Armada bus ini kurang lebih berjumlah empat buah dengan bahan bakar yang ditanggung oleh UNNES, mahasiswa juga tidak dipungut biaya untuk menaiki besi berjalan ini. Bus ini beroperasi sejak pukul 07.00 pagi hingga pukul 04.30 sore. Jadi untuk mahasiswa yang kuliah dari pagi sampai sore, tenang, tapi kalau yang kuliah malam, maaf-maaf saja.

Putar Roda, Gowes!
Apalagi kalau bukan sepeda. Sepeda ada dua kasta, untuk dosen dan untuk mahasiswa. Yang diperuntukkan dosen adalah semacam sepeda lipat unyu yang tidak diragukan kualitasnya, dan yang diperuntukkan mahasiswa adalah sepeda dengan deskripsi sebaliknya. Dan, sayang sekali, pemanfaatan sepeda ini menurut saya, kurang.

Are we really ready enough?

Pertanyaan frontal menohok, apakah UNNES sudah cukup siap dengan perubahan semacam ini? Jadi ada beberapa pendapat dari beberapa mahasiswa, berikut jawaban mereka :
NP, FIS.
Belum siap. Lebih kepada parkir yang masih berada di beberapa fakultas yang kuotanya hingga penuh, sedangkan padahal Gedung Serba Guna sendiri sudah dibangun semegah itu. Membuktikan program mulia ini belum terrealisasi.
Dengan maksud bahwa bila sudah ada Gedung Serba Guna (GSG), buat apa masih ada parkir di beberapa fakultas? Fakultas Ilmu Pendidikan sendiri yang sangat dekat dengan GSG masih disediakan parkiran. Bila Fakultas Teknik atau Fakultas Ilmu Keolahragaan mungkin masih dapat ditoleransi karena sangat jauh dari GSG.
RK, FMIPA.
Belum siap, tapi memang membutuhkan proses. Saya juga masih merasa agak tidak efektif dengan parkiran yang berada di beberapa fakultas. Dirumorkan bahwa parkiran di beberapa titik-titik di fakultas menguntungkan pihak dosen yang tidak ingin berjalan jauh dari GSG ke fakultas masing-masing. Padahal fasilitas bus, sepeda yang berkualitas baik, dan halte sudah tersedia.
TY, FMIPA.
Belum siap. Sebenarnya, gedung FMIPA sendiri masih belum maksimal (dalam artian fasilitas-fasilitas pendukung perkuliahan), tetapi malah membangun gedung lain. Mengenai parkir, ribet. Bila berniat terpusat di GSG, yaa, jangan bercabang dan membingungkan mahasiswa yang berujung menjadi tidak efektif. Bus sendiri tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa, ketegasan pemakaian sepeda motor yang kurang mengakibatkan program ini benar-benar kurang terrealisasi.
SOA, FBS.
Belum. Konservasi belum tercapai, terlebih kepada transportasi kampus karena walaupun diberlakukan bebas parkir tetap saja masih ada beberapa fakultas membuka parkir di dalam fakultas. Padahal, sebelumnya saya rasa lebih baik karena udara di dalam kampus tidak tercemar seperti sekarang.
Mengenai bus, sebagian mahasiswa memanfaatkannya, sebagian merasa terganggu karena harus dicegat dan juga dilarang melewati jalan mulus yang diperuntukkan mahasiswa.

Plus-Plus-Minus-Minus
Siapa pun membahas hal-hal yang negatif sangatlah mudah dibanding membicarakan hal-hal yang lebih positif. Apa saja positifnya? Sebenarnya konservasi di UNNES sudah cukup disadari beberapa pihak dengan terpaksa atau senang hati, dan pentingnya konservasi untuk menjaga lingkungan kampus, serta pengendara motor bisa dikatakan lebih teratur dengan hanya berada di tepi UNNES, tanpa ikut menggunakan jalan-jalan urat nadi yang digantikan dengan penggunaan bus yang free-pay. What is the negative? Ada beberapa konsep dari konservasi ini agak menggelitik, yaitu penggunaan bus dengan bahan bakar fosil yang sama saja mencemari udara, apalagi masih banyaknya sepeda motor yang berkeliaran menjadikan transportasi malah tidak menjadi baik, penggunaan sepeda yang minim, kerimbunan pohon untuk pejalan kaki kurang mengakibatkan para pejalan kaki yang memulai perkuliahan menjadi tidak maksimal

Saran
Suatu perubahan yang besar memang sangat sulit terrealisasi. UNNES adalah pelopor yang baik untuk perguruan tinggi yang memperhatikan lingkungan. Secara umum, gerakan ini baik dalam segi persiapan, dan hanya membutuhkan peningkatan kualitas. Secara mendetilnya, gerakan ini cukup cacat di sana-sini. Efektifitas yang masih lemah di penegasan penggunaan kendaraan pribadi, peraturan yang masih longgar, dan kesadaran para warga yang kurang.
Sebelumnya, banyak sesuatu yang baik atau buruk mempunyai resiko. Untuk jadi lebih baik adalah suatu langkah untuk keluar dari safety zone yang tentunya menuju yang lebih baik. Sehingga, saran saya bahwa pengaturan yang tegas itu perlu dan harus diterapkan ke seluruh warga tanpa kecuali. Efektifitas tempat parkir yang tegas, pendahuluan kepentingan perkuliahan, dan perencanaan dan realisasi yang matang dalam perwujudan konservasi.

I’m sorry if I had bad words or like have no attitude, you can leave comment :)

Selasa, 19 Maret 2013

Sinkhole (2)

How Sinkholes like Guatemala happen...


Video di atas itu menerangkan bagaimana sih Sinkhole atau Lubang Runtuhan itu bisa terjadi. Seperti yang pernah aku bilang kalo Lubang Runtuhan kayak gitu bisa terjadi karena macam-macam faktor. Untuk lebih jelasnya, ini paper tugasku yang bisa kamu download, klik di sini.

Jumat, 15 Maret 2013

Sinkhole (Lubang Runtuhan)


Hi. I’m Riesty Rahajeng, but I’m often called Ating. I don’t know why, but in here right now, I'm not discuss about that, hehe.
I’m a student of Civil Engineering in Conservation University, Semarang State University.
My background to write this, except because task, I will share about the lesson that I’ve learned. Yeah, Mr. Alfa gives us (his student) a task for TIK lecture, to write anything about Civil Engineering. I have an idea to write about Sinkhole that my task in first semester.

Mr. Untoro, Rekayasa Geologi lecture, gave us a task for Final Exam to explain an accident about geology. I’m searched on internet and I found interest thing that happened in Guatemala. Sinkhole.

Sinkhole
A sinkhole, also known as a sink, snake hole, swallow hole, swallet, doline, or cenote, is a natural depression or hole in the Earth's surface caused by karst processes — for example, the chemical dissolution of carbonate rocks or suffosion processes insandstone. Sinkholes may vary in size from 1 to 600 metres (3.3 to 2,000 ft) both in diameter and depth, and vary in form from soil-lined bowls to bedrock-edged chasms. Sinkholes may be formed gradually or suddenly, and are found worldwide. The different terms for sinkholes are often used interchangeably.

I took a case that happened on May, 2010, a vertical hole that appeared down town Guatemala. The hole measures approximately has diameter 20 m and depth 30 m, gulp a building three floors (shaped little factory), a house and several electricity poles.


This is the article about that case :
How To Fix a Giant Sinkhole
The cement method vs. the graded-filter technique.
A sinkhole, 65 feet across and 100 feet deep,swallowed up a small factory and some telephone poles in Guatemala City last weekend. Police have been stationed around the hole to prevent bystanders from falling in, and those who live nearby are staying elsewhere for the time being. How do you fill a massive sinkhole in the middle of a major urban area?
With cement or rocks. Sinkholes develop when water flows through pores in bedrock and gradually enlarges them. When these subterranean cavities get big enough, the ground above collapses and fills them in. Guatemala City's last major crater, which opened in 2007, dropped three houses 330 feet below the city's streets. The government spent $2.7 million redirecting sewer pipes around the area and filling the hole with cement. This week's sinkhole will probably be filled the same way.
It's not clear whether cement is the best option, however. A 6,500-cubic-foot wad of concrete may serve to concentrate water runoff in other areas, leading to more sinkholes. Many engineers prefer the graded-filter technique, in which the hole is filled with a layer of boulders, then a layer of smaller rocks, and, finally, a layer of gravel. This fills the hole, more or less, while permitting water to drain through the area.
No matter what is used to fill the crater, more sinkholes are on the way. Guatemala City's location and leaky sewage system make it particularly prone to these events. The capital lies downhill from seven major volcanoes, two of which are active members of the Pacific Ring of Fire. For hundreds of thousands of years, the gargantuan Amatitlan Calderadumped volcanic ash on the ground where the city now sits. As a result, the local bedrock consists mostly of loose volcanic pumice. (Many cities sit atop volcanic deposits, but the ash from Amatitlan has not had the time or the appropriate pressure and temperature conditions to compress into a solid, reliable foundation.)
Large sinkholes sometimes open up in North America, too. While the process is similar, the geology is different. The most sinkhole-prone parts of the U.S. consist of limestone and dolomite bedrock rather than volcanic ash. The easily-eroded materials are responsible for natural wonders like New Mexico's Carlsbad Caverns, but they can also lead to a terrific collapse. Florida and Kentucky are the most vulnerable states. In 1994, a15-story-deep sinkhole opened near Mulberry, Fla.
Cover-collapse sinkholes—the dramatic and instantaneous events that swallow up unsuspecting victims—are relatively rare. Most sinkholes happen slowly over time, and bottom out at a foot or two. As the bedrock erodes, the ground begins to subside at an imperceptible rate. When the soil finally lowers to the level of the groundwater, there is a small, visible drop.

But in my task that I wrote with bahasa, this is the Accident Mechanism and Completion Recommendation.
Mekanisme Kejadian (Accident Mechanism)
Hujan lebat dari badai tropis Agatha dan drainase yang buruk (adanya kebocoran pipa bawah tanah) memicu lubang runtuhan besar di Guatemala. Lubang runtuhan di Guatemala terjadi akibat pengikisan batuan di dasar, mengikis rongga bawah tanah yang kemudian runtuh. Resiko lubang alami jenis ini banyak terdapat di negara bagian Amerika Serikat. Secara keseluruhan, resiko terulangnya lubang alami di Guatemala adalah tinggi dan tidak terduga.
Kota Guatemala sendiri dikelilingi oleh gunung aktif dimana termasuk dalam jajaran Ring of Fire. Selama ratusan tahun, kaldera raksasa dari Amatlitan menumpuk tanah dimana kota berada, akibatnya fondasi lokal Kota Guatemala sebagian besar terdiri dari batu apung vulkanik lepas yang tidak mempunyai waktu dan tekanan yang tepat untuk mengepresnya menjadi padatan yang baik.
Dapat disimpulkan bahwa sinkhole ini terjadi dikarenakan pengikisan tanah yang terjadi karena adanya hujan deras badai tropis Agatha. Pengikisan ini dari air dari kebocoran pipa yang membawa partikel-partikel tanah (yang merupakan abu vulkanik) dan meninggalkan kelonggaran partikel-partikel yang secara bertahap membentuk suatu void. Permukaan yang semula baik dan utuh, tiba-tiba tidak mendapat dukungan dari dalam tanah, dan untuk mencapai suatu kestabilan maka lubang runtuhan itu tiba-tiba terjadi.

Rekomendasi Penyelesaian (Completion Recommendation)
Sinkhole yang terjadi di sini dikarenakan aliran yang membawa partikel tanah sehingga menjadi terkikis dan menyebabkan adanya lubang runtuhan. Lubang runtuhan yang terjadi berada di area jalan. Lokasi Guatemala sendiri didukung dengan sistem drainase yang buruk membuat wilayah Guatemala beresiko dengan adanya lubang runtuhan seperti ini, dan dapat terjadi lagi secara tidak terduga.

1.                  Mengetahui penyebab lubang runtuhan. Penyebabnya adalah adanya aliran air di bawah tanah yang mengikis tanah (abu vulkanik) dan meninggalkan void.

2.                  Menggali lubang runtuhan. Menggali hingga mencapai sublayer batuan di bawah tanah. Jika harus menggali lebih dalam, diperlukan bentuk parit untuk menahan sisi daerah digali. Akan lebih baik apabila menggali dan menemukan titik kerusakan utama kebocoran. Maka segeralah memperbaiki pipa dan mengisi lubang.

3.                  Mengisi void agar tidak terjadi erosi lebih lanjut setelah lubang digali. Mulai dengan penempatan beberapa batu besar dengan lapisan yang cukup tebal. Tambahkan di atasnya batu yang lebih membentuk lapisan yang  cukup tebal juga. Tambahkan di atasnya batu lebih kecil secara terus menerus hingga lapisan paling atas untuk lapisan (ukuran) berpasir di bawah lapisan tanah yang gelap.

4.                  Meletakkan lapisan kain lansekap atas kerikil untuk menjaga pasir dan tanah dari pengikisan oleh air yang turun melalui lapisan batuan, dan mengisi ke atas lapisan subsoil dengan pasir. Memadatkan bawah pasir, dan mengisi lubang yang tersisa dengan tanah lapisan atas.

Memeriksa daerah untuk beberapa hari. Bila lubang terbuka lagi, maka konsultasikan dengan ahli geologi, memastikan agar tidak berpotensi merusak struktur di sekitarnya.

And I will show you other Sinkhole, beautiful Sinkhole or pity Sinkhole.
Picher, Oklahoma. Tin and zink mining activity during through years leave Picher City, Oklahoma full of sinkholes. The top of several mines can’t again support heavy of earth and causes many mines collapses. In this time, the city to be stacks of mine activity rubbish and leave many king sized sinkhole.

The Great Blue Hole, Belize. Great Blue Hole is sinkhole under water in the middle of sea. This hole has circle formed, the vast is more than 300 m and the depth is 124 m. how beautiful!


Referensi :

HOME


Semarang, Maret 2013

Here I am in my room, di perantauan dengan zona waktu masih sama, walaupun koordinat tempat berbeda dengan keluarga nun jauh di Purwokerto sana. Oke, kata-katanya agak cengeng, tapi lumrahlah kalo ngerasain yang namanya Homesick. Apalagi kemarin sempat ada sebuah ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi yang menampilkan lukisan pasir dengan tema yang menohok soal anak dan orangtua, dimana kita dibesarkan dari rahim hingga menjadi manusia dengan usia menua, dan bukannya semakin tua semakin dekat dengan orang tua tapi malah menjauh. Hm, padahal semakin dewasa kita, semakin mereka menua. Tapi sebagai pemuda, masa’ cuma stuck di kota asal aja? Masa’ mau di zona nyaman aja? Oke sip, aku buat tulisan yang tidak bertitik temu lagi.
Yang jelas, aku kangen banget sama Ibu, Bapak, Lela-Leli, dan Mba Isna. Entah di rumah aku dikasih petuah macam-macam, entah adik-adikku sering menganiaya aku (kakak yang aneh dianiaya adiknya sendiri, baru berumur sepuluh tahun pula), dan entah aku harus ‘sedikit’ berselisih paham dengan kakak cantikku, tapi di sini, perantauan, kalian tidak ada.

Halah, oke, aku ketahuan sebagai mahasiswa-homesick­-dengan­-tingkat-kegalauan-super-max.

Buku Diary. Hal melankolis kayak gini berhasil buat aku ‘kenal’ dengan aku sendiri di zaman SMP, dimana pertama kali aku tulis harianku. Saat liburan yang tenggat waktunya lumayan dicemburui beberapa teman tapi malah membosankan karena saking lamanya dan tidak dimanfaatkan dengan baik itu, aku membongkar beberapa kardus memori dengan banyak debu dan kotak yang aku isi dengan kenangan zaman SMP hingga SMA. Aku menemukan buku diary pink hadiah dari gonzam di zaman kelas tujuh, na’udzubillah, aku melotot dan ngakak super­max! Tulisan primata yang besar-besar dan penuh dengan kata-kata indah berisi puisi (yang sumpah aku bingung untuk mengungkapkan antara malu (karena malu-maluin) dan ngakak (is that me?)), curhatan sok sakit gara-gara (ehem) cinta, ke sahabat, ke keluarga, hoah lumayan cukup banyak. Oke, SAYA ALAY.

Kalo begitu, saya setuju pernyataan bahwa Alay adalah suatu proses menuju suatu jenjang pendewasaan diri (karena saya sudah terbukti Alay). Karena semakin menua, tulisan saya di diary semakin dewasa dan semakin mengacu ke masa depan, dan cukup heran kenapa nggak dari dulu saya mikir masa depan? Oke, waktu tidak mungkin kembali semau saya, walaupun saya tidak mau juga tidak akan kembali, mungkin bisa saja kembali kalo saya atau orang lain dapat menyeberangi waktu. Saya ngomong apa sih? Kenapa dari ‘aku’ jadi ‘saya’? Abaikan.

Alay yang bercampur dengan masa pubertas, ternyata membuat aku berpandangan cukup negatif dengan keluarga di masa itu. In that time, aku jadi orang yang tidak nyaman dengan orang rumah, dan hobi banget pulang sampai sore. Dan penyesalan yaa datang terakhiran.
Eits, tapi banyak hikmah juga, aku punya sahabat, aku cukup mengenal dunia luar yang cukup asing, aku tahu bergaul dengan orang, dan banyaklah yang lain.

Apa sih yang bisa kita lakukan saat ini? Entah pikiran apa pun, doktrin apa pun yang bersarang di pikiran, hati, jiwa kamu, just believe bahwa keluarga adalah sesuatu makhluk hidup ciptaan-Nya yang berperan super besar di hidupmu.

Oke, saya galau lagi.

Ketidakpastian yang Bukan Milik Einstein


Kemarin, tanggal 4 Maret 2013, dimulai perkuliahan semester dua di Universitas Konservasi. Enam SKS, di jam tujuh pagi untuk Pendidikan Lingkungan Hidup, jam sebelas untuk Bahasa Indonesia, dan jam tiga sore untuk Pendidikan Kewarganegaraan. Walaupun baru perkenalan mata kuliah, tapi yang cukup berkesan ada mata kuliah terakhir, Pendidikan Kewarganegaraan yang diampu Bapak Sugeng Priyanto.

Pendidikan Kewarganegaraan, awalnya aku biasa saja malah terkesan menganggap bosan, tapi ternyata aku pilih rombel (rombongan belajar) yang pas. Pak Sugeng membawa alur kuliah dengan cukup bagus, walaupun aku sempat mengantuk di pertengahan kuliah. Pembawaannya asik dan tidak ada kekakuan gila hormat di kuliah itu (tapi tetap hormat itu harus). Lebih tepatnya aku tertarik tentang beliau yang sudah menjejakkan kaki di kurang lebih dua puluh propinsi di Indonesia, dan ke luar negeri seperti ke Belanda, Belgia, Australia, dan cukup banyak yang lain.

Ketidakpastian
Indonesia. Beliau bertanya mengenai tantangan Bangsa Indonesia sekarang ini apa? Seluruh mahasiswa ditanyai satu per satu, ada yang menjawab, ada yang loading dulu. Dan jawaban pun beragam, seperti : Narkoba, pemerataan infrastruktur, korupsi, pemerataan penduduk, free sex, globalisasi, dan aku menjawab budaya yang mengacu pada penyortiran budaya luar ke Indonesia. Beliau mengiyakan pendapat-pendapat dari mahasiswa, tetapi beliau punya suatu keyakinan bahwa negara yang enak dan nyaman adalah Indonesia, karena Indonesia adalah negara yang penuh dengan ketidakpastian.
Seperti yang pernah aku tulis sebelumnya tentang negara Swiss yang semuanya tepat waktu, semua itu pasti, dan untuk Indonesia cukup membosankan (walaupun aku ingin mencobanya). Ketika semua pasti, semua menjadi tepat, semua menjadi disiplin, semua menjadi teratur, aku juga berpikir semua akan biasa saja, haha dasar orang Indonesia. Ada di sebuah buku kepribadian, bahwa orang yang berkepribadian sanguine (angin) yang mempunyai pribadi cerewet, mudah bergaul dengan orang lain, dan cenderung ‘ngomong doang’ yang berkecenderungan tidak teratur, butuh sebuah control diri berupa kedisiplinan. Menurutku, Indonesia itu Sanguine. Titik-dua-garis-miring.

Siapa sih yang bertanggung jawab dengan semua itu? Perubahan itu perlu nggak? Kenapa perlu? Untuk apa? Oke, dijawab sendiri aja ya.

*lagi-lagi tidak bertitik temu*

Torehan di Menoreh Raya


Semarang, 26 Januari 2012

Asistensi. Here I am, akhirnya aku ketemu juga sama hal yang satu ini as civil engineer student. Hal antik yang ternyata luar binasah efeknya ketika liburan minggu tenang sudah datang, damn! Sebagai anak perantau homesick (kayak aku-ehem), it’s time to go home!

Asistensi? What kind of?
A damn thing that you have to love. Yeah, L-O-V-E.

Jadi mulai dari September kalo ga salah tugas dari mata kuliah tercinta : Analisis Struktur Statis Tertentu-1, dikasih ke para mahasiswa yang masih unyu prodi Teksip. Ketika melihat soalnya, oh, Subhanallah sekali. Jadi ketika soal itu di tangan. Alamak! Apa ini?

Kita yang masih polos dengan pandangan (sok) polos dengan suara Syahrini seraya berkata : Apaaah iniihh? Kitaahhh beluum diajarhiiinn kann? *oke stop! Saya terbukti lebay*

Dengan buku saku sebesar buku praktikum, yang lumayan mantep buat nggaplok maling, setidaknya aku yakin ada pegangan buat ngerjain soal di tangan. Bersama Geab, okeh, aku siap menggila dengan tangan diputar-putar (berlagak momen), tinta yang dikeluarin dari bolpen (berlagak tekanan), dan bantal-bantal yang ditata seindah mungkin (siap-siap tidur kalo dah stress) ^.^v

Super lebay untuk permulaan. Proses juga nggak kalah sensasinya cuy. Yang ini harus diganti, yang harus diperbaiki, yang harus digeser, yang harus di tambahin, yang harus diprint, yang harus digaris, yang harus dibenerin asumsinya, yang harus dirapiin, yang harus dibagi per meter, yang harus dikasih halaman, yang harus jelas keterangannya, yang harus gambarnya jelas, yang harus tulisannya jelas, yang harus akurat, yang harus sinkron itungan sama gambar, yang harus miring, yang harus kotak, yang mendukung, yang mendesak, yang ditekan, dan puncaknya : yang harus dijilid.

Dan apa sih kemenangan akhirnya?
Tiga huruf, dan itu mengakhiri proses panjang. Tiga huruf yang buahnya itu ketawa lepas dari dua orang sanguine di sepanjang jalan dari Sampangan ke Gang Jeruk Sekaran. Tiga huruf yang ngebuat aku di rumah dalam keadaan tanpa ‘nasihat’ Ibu (tentang pulang tanpa tugas). Tiga huruf : ACC.

Tulisan tiga huruf (yang bakal jadi) keramat itu ditorehkan oleh dosen pembimbing yang bukan kebetulan bahwa beliau juga dosen wali saya, Pak Alfa Narendra. Ketika tuntutannya yang terakhir untuk menambahkan adanya langkah-langkah metode grafis sudah kami (aku sama Geab) selesaikan, capcyiin ke tempat meditasi Pak Alfa biasanya, Lab. Transport. Dengan keyakinan sedikit lagi ACC, ternyata pintu ruang meditasi ditutup sepaket dengan kegelapan dari dalam ruang, berarti beliau tidak berada di dalam. Dan penuh ambisi, kami memutuskan untuk ke tempat meditasi Pak Alfa yang lainnya, his sweet home.

Cukup terkejut ketika di depan pagar rumah beliau, tanpa kami tahu, ternyata Pak Alfa muncul dengan passion beliau sebagai peternak yang baik *damai, Pak*
Dan beliau dengan melihat sekilas hasil kerja kami, huhu dengan tidak membaca hasil ringkasan kami untuk langkah-langkah metode grafisnya, beliau menyuruh kami untuk menjilidnya. Tegang juga detik-detik menuju ACC, yaa Allah. Dan dengan teliti, males kalo salah urutan kertasnya dan di suruh bongkar, mak! Jangan sampailah dibongkar.
Tugas yang dijilid rapi sudah di tangan dan siap menuju Mr. Alfa’s sweet home. Subhanallah sekali detik-detik ACC, ya like you thought in your mind, I am lebay. Di perjalanan lihat beberapa ruko dengan papan-papan nama dan tawaran jasanya dibuat dengan sangat menarik, dan daerah itu adalah Jalan Menoreh Raya.
Kami masuk ke (seperti) gang dengan tulisan Jalan Gunung Talang, dan pagar abu-abu itu, aku buka. Pak Alfa menemui kami, aku menjulurkan bolpoin made in Indonesia berwarna hitam, dan torehan tiga huruf itu, jelas, ACC.

Saya berteriak seperti suara bledek, seperti biasa.