Hello, everyone!
Sometimes, I was thinking,
kenapa jalan dibuat sebegitu kerasnya? Kenapa kalau jatuh dari sepeda motor
atau kendaraan lain, kita luka yang minimnya kita dapat luka lecet atau
parahnya bisa terluka dalam atau bahkan amnesia? ‘Kan sebenarnya enak kalau
jalan jadi empuk, kita bisa main trampolin di jalan, hehe. Halah, jadi,
perkerasan jalan itu apa?
Perkerasan Jalan adalah tentang tata cara perencanaan dan
pelaksanaan pembuatan lapis perkerasan untuk jalan raya, pemilihan dan
pengujian material yang digunakan serta penggunaan peralatan untuk
pembangunannya. Definisi lain, perkerasan jalan adalah campuran agregat dan
bahan ikat yang digunakan untuk melayani beban lalu lintas. Agregat yang
dipakai ada batu pecah, batu belah, batu kali, dan hasil peleburan baja.
Sedangkan bahan ikat yang dipakai ada aspal, semen, dan tanah liat.
Hey, kenapa perkerasan semacam
ini perlu? Siapa pencetus adanya teori ini? Bagaimana teori atau apalah ini,
bisa menjadi dasar perkembangan manusia? If
that questions fly away in your mind, okay, let’s start the
short history of Perkerasan Jalan.
Sejarah jalan pada hakekatnya dimulai bersama dengan sejarah manusia. Pada
saat pertama manusia mendiami bumi kita ini, usaha mereka pertama-tama ialah
mencari cara untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka terutama makan dan minum.
Karena manusia dan binatang mempunyai kepentingan yang sama, yaitu minum, maka
jejak-jejak yang menuju ke danau-danau atau sungai-sungai lebih banyak
ditemukan.
JALAN SETAPAK. Setelah manusia berkembang biak dan hidup berkelompok,
maka mereka membutuhkan termpat berdiam meskipun hanya sementara. Pada waktu
itu jejak-jejak tersebut menjadi jalan setapak atau bila di hutan terkadang
disebut “lorong-lorong tikus”. Jalan ini merupakan jalan musiman
(seasonal-road). Orang-orang nomaden mempergunakan jalan ini untuk berburu pada
musim berburu dan untuk mencari ikan.
SEBELUM MENGENAL HEWAN SEBAGAI ALAT ANGKUT. Setelah
manusia diam berkelompok di suatu tempat yang tetap mereka mulai mengenal
artinya jarak jauh dan dekat. Maka dalam membuat jalan mereka berusaha mencari
jejak yang paling pendek dengan mengatasi rintangan-rintangan yang ada.
Misalnya bila melewati tanjakan yang curam, mereka membuat tangga-tangga dan
bila melewati tempat-tempat yang berlumpur mereka menaruh batu-batu di sana
sini agar bisa melompat-lompat di atasnya.
SETELAH MENGENAL HEWAN SEBAGAI ALAT ANGKUT. Setelah manusia
mengenal hewan sebagai alat angkut, maka konstruksi jalan mulai berkembang.
Bentuk jalan yang semula bertangga-tangga kemudian mulai dibuat lebih mendatar.
Selain itu ditempat-tempat yang jelek, mereka menaruh batu-batu yang disusun
secara rapat. Sehingga dengan demikian lahirlah konstruksi perkerasan. Menurut
Herodotus pada abad ke-5 bangsa Yunani membuat jalan dari blok-blok batu di
Mesir lewat padang pasir untuk mengangkut batu-batu besar guna membuat
piramida-piramida. Pada abad ke-12 M bangsa Inca yang hidup di sepanjang pegunungan
Andes di pantai Barat Amerika Selatan (Peru, Chili, Argentina) juga membuat
perekerasan dari batu-batu blok yang besar-besar. Selain itu, di benua Amerika
suku Maya telah membangun kota mereka dengan memakai material bebatuan bersusun
dengan berbagai ukuran. Bangunan dari batu ini terlihat kasar namun indah.
Menyiratkan suatu bentuk peradaban yang sudah maju dengan sistem tata kota yang
teratur, rinci dan detail. Bahkan teknologi pengerasan jalan sudah ditemukan
suku ini. Buktinya banyak di situs suku Maya terdapat jalan raya yang lebar,
lurus dan panjang yang terbuat dari struktur batu yang rapi. Satu peninggalan
berteknologi “modern” yang tersisa dari mereka adalah jalan raya yang
menghubungkan Coba dan Yaxuna sejauh seratusan km (62 mil). Semua terbuat dari
batu yang dikeraskan dengan bahan kimia (semacam aspal siram). Strukturnya
terdiri dari batu besar yang keras di kiri kanan badan jalan dan di tengahnya
diisi bebatuan halus, baru disiram dengan bahan kimia tertentu sebagai pelapis
atasnya. Semua struktur jalan karya suku Maya memiliki ukuran dengan standar
sama yang dibuat dengan detail mengagumkan.
SETELAH MENGENAL KENDARAAN BERODA. Bangsa Romawi
mulai abad ke-4 SM sampai abad ke-4 M telah membuat jalan dengan perekerasan
ukuran tebal 3- 5 feet (1- 1,7 m) dan lebarnya 35 feet (kurang lebih 12 m).
PADA AKHIR ABAD KE 18. Seorang bangsa Inggris bernama Thomas
Telford (1757 – 1834) ahli jembatan lengkung dari batu, menciptakan konstruksi
perkerasan jalan yang prinsipnya seperti jembatan lengkung. Prinsip ini
menggunakan desakan-desakan dengan menggunakan batu-batu belah yang dipasang
berdiri dengan tangan. Konstruksi ini kemudian sangat berkembang dan dikenal
dengan sebutan sistem Telford. Pada
waktu itu pula Scotsman John London Mc. Adam (1756 – 1836) memperkenalkan
konstruksi perekerasan jalan dengan prinsip “tumpang tindih” dengan menggunakan
batu-batu pecah dengan ukuran terbesar “3”. Perkerasan sistem ini sangat
berhasil dan merupakan prinsip pembuatan jalan secara masinal (dengan mesin).
Selanjutnya sistem ini disebut sistem Macadam. Sampai sekarang kedua
sistem tersebut masih lazim dipergunakan di daerah-daerah di Indonesia dengan
menggabungkannya menjadi sistem Telford-Macadam. Dengan begitu
perkerasan jalan untuk bagian bawah menggunakan sistem Telford kemudian untuk
perkerasan atas dengan sistem Macadam.
Okay,
I hope it can be useful, guys! Enjoy..


