Semarang,
26 Januari 2012
Asistensi.
Here I am, akhirnya aku ketemu juga
sama hal yang satu ini as civil engineer
student. Hal antik yang ternyata luar binasah efeknya ketika liburan minggu
tenang sudah datang, damn! Sebagai
anak perantau homesick (kayak
aku-ehem), it’s time to go home!
Asistensi?
What kind of?
A damn thing that you
have to love. Yeah, L-O-V-E.
Jadi
mulai dari September kalo ga salah tugas dari mata kuliah tercinta : Analisis
Struktur Statis Tertentu-1, dikasih ke para mahasiswa yang masih unyu prodi
Teksip. Ketika melihat soalnya, oh, Subhanallah sekali. Jadi ketika soal itu di
tangan. Alamak! Apa ini?
Kita
yang masih polos dengan pandangan (sok) polos dengan suara Syahrini seraya
berkata : Apaaah iniihh? Kitaahhh beluum diajarhiiinn kann? *oke stop! Saya
terbukti lebay*
Dengan
buku saku sebesar buku praktikum, yang lumayan mantep buat nggaplok maling, setidaknya aku yakin ada pegangan buat ngerjain
soal di tangan. Bersama Geab, okeh, aku siap menggila dengan tangan
diputar-putar (berlagak momen), tinta yang dikeluarin dari bolpen (berlagak
tekanan), dan bantal-bantal yang ditata seindah mungkin (siap-siap tidur kalo
dah stress) ^.^v
Super
lebay untuk permulaan. Proses juga nggak kalah sensasinya cuy. Yang ini harus
diganti, yang harus diperbaiki, yang harus digeser, yang harus di tambahin,
yang harus diprint, yang harus digaris, yang harus dibenerin asumsinya, yang
harus dirapiin, yang harus dibagi per meter, yang harus dikasih halaman, yang
harus jelas keterangannya, yang harus gambarnya jelas, yang harus tulisannya
jelas, yang harus akurat, yang harus sinkron itungan sama gambar, yang harus
miring, yang harus kotak, yang mendukung, yang mendesak, yang ditekan, dan
puncaknya : yang harus dijilid.
Dan
apa sih kemenangan akhirnya?
Tiga
huruf, dan itu mengakhiri proses panjang. Tiga huruf yang buahnya itu ketawa
lepas dari dua orang sanguine di sepanjang jalan dari Sampangan ke Gang Jeruk
Sekaran. Tiga huruf yang ngebuat aku di rumah dalam keadaan tanpa ‘nasihat’ Ibu
(tentang pulang tanpa tugas). Tiga huruf : ACC.
Tulisan
tiga huruf (yang bakal jadi) keramat itu ditorehkan oleh dosen pembimbing yang
bukan kebetulan bahwa beliau juga dosen wali saya, Pak Alfa Narendra. Ketika
tuntutannya yang terakhir untuk menambahkan adanya langkah-langkah metode
grafis sudah kami (aku sama Geab) selesaikan, capcyiin ke tempat meditasi Pak
Alfa biasanya, Lab. Transport. Dengan keyakinan sedikit lagi ACC, ternyata
pintu ruang meditasi ditutup sepaket dengan kegelapan dari dalam ruang, berarti
beliau tidak berada di dalam. Dan penuh ambisi, kami memutuskan untuk ke tempat
meditasi Pak Alfa yang lainnya, his sweet
home.
Cukup
terkejut ketika di depan pagar rumah beliau, tanpa kami tahu, ternyata Pak Alfa
muncul dengan passion beliau sebagai
peternak yang baik *damai, Pak*
Dan
beliau dengan melihat sekilas hasil kerja kami, huhu dengan tidak membaca hasil
ringkasan kami untuk langkah-langkah metode grafisnya, beliau menyuruh kami
untuk menjilidnya. Tegang juga detik-detik menuju ACC, yaa Allah. Dan dengan
teliti, males kalo salah urutan kertasnya dan di suruh bongkar, mak! Jangan
sampailah dibongkar.
Tugas
yang dijilid rapi sudah di tangan dan siap menuju Mr. Alfa’s sweet home. Subhanallah sekali detik-detik ACC, ya like you thought in your mind, I am lebay.
Di perjalanan lihat beberapa ruko dengan papan-papan nama dan tawaran jasanya
dibuat dengan sangat menarik, dan daerah itu adalah Jalan Menoreh Raya.
Kami
masuk ke (seperti) gang dengan tulisan Jalan Gunung Talang, dan pagar abu-abu itu,
aku buka. Pak Alfa menemui kami, aku menjulurkan bolpoin made in Indonesia berwarna hitam, dan torehan tiga huruf itu,
jelas, ACC.
Saya
berteriak seperti suara bledek,
seperti biasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar