Jumat, 15 Maret 2013

Torehan di Menoreh Raya


Semarang, 26 Januari 2012

Asistensi. Here I am, akhirnya aku ketemu juga sama hal yang satu ini as civil engineer student. Hal antik yang ternyata luar binasah efeknya ketika liburan minggu tenang sudah datang, damn! Sebagai anak perantau homesick (kayak aku-ehem), it’s time to go home!

Asistensi? What kind of?
A damn thing that you have to love. Yeah, L-O-V-E.

Jadi mulai dari September kalo ga salah tugas dari mata kuliah tercinta : Analisis Struktur Statis Tertentu-1, dikasih ke para mahasiswa yang masih unyu prodi Teksip. Ketika melihat soalnya, oh, Subhanallah sekali. Jadi ketika soal itu di tangan. Alamak! Apa ini?

Kita yang masih polos dengan pandangan (sok) polos dengan suara Syahrini seraya berkata : Apaaah iniihh? Kitaahhh beluum diajarhiiinn kann? *oke stop! Saya terbukti lebay*

Dengan buku saku sebesar buku praktikum, yang lumayan mantep buat nggaplok maling, setidaknya aku yakin ada pegangan buat ngerjain soal di tangan. Bersama Geab, okeh, aku siap menggila dengan tangan diputar-putar (berlagak momen), tinta yang dikeluarin dari bolpen (berlagak tekanan), dan bantal-bantal yang ditata seindah mungkin (siap-siap tidur kalo dah stress) ^.^v

Super lebay untuk permulaan. Proses juga nggak kalah sensasinya cuy. Yang ini harus diganti, yang harus diperbaiki, yang harus digeser, yang harus di tambahin, yang harus diprint, yang harus digaris, yang harus dibenerin asumsinya, yang harus dirapiin, yang harus dibagi per meter, yang harus dikasih halaman, yang harus jelas keterangannya, yang harus gambarnya jelas, yang harus tulisannya jelas, yang harus akurat, yang harus sinkron itungan sama gambar, yang harus miring, yang harus kotak, yang mendukung, yang mendesak, yang ditekan, dan puncaknya : yang harus dijilid.

Dan apa sih kemenangan akhirnya?
Tiga huruf, dan itu mengakhiri proses panjang. Tiga huruf yang buahnya itu ketawa lepas dari dua orang sanguine di sepanjang jalan dari Sampangan ke Gang Jeruk Sekaran. Tiga huruf yang ngebuat aku di rumah dalam keadaan tanpa ‘nasihat’ Ibu (tentang pulang tanpa tugas). Tiga huruf : ACC.

Tulisan tiga huruf (yang bakal jadi) keramat itu ditorehkan oleh dosen pembimbing yang bukan kebetulan bahwa beliau juga dosen wali saya, Pak Alfa Narendra. Ketika tuntutannya yang terakhir untuk menambahkan adanya langkah-langkah metode grafis sudah kami (aku sama Geab) selesaikan, capcyiin ke tempat meditasi Pak Alfa biasanya, Lab. Transport. Dengan keyakinan sedikit lagi ACC, ternyata pintu ruang meditasi ditutup sepaket dengan kegelapan dari dalam ruang, berarti beliau tidak berada di dalam. Dan penuh ambisi, kami memutuskan untuk ke tempat meditasi Pak Alfa yang lainnya, his sweet home.

Cukup terkejut ketika di depan pagar rumah beliau, tanpa kami tahu, ternyata Pak Alfa muncul dengan passion beliau sebagai peternak yang baik *damai, Pak*
Dan beliau dengan melihat sekilas hasil kerja kami, huhu dengan tidak membaca hasil ringkasan kami untuk langkah-langkah metode grafisnya, beliau menyuruh kami untuk menjilidnya. Tegang juga detik-detik menuju ACC, yaa Allah. Dan dengan teliti, males kalo salah urutan kertasnya dan di suruh bongkar, mak! Jangan sampailah dibongkar.
Tugas yang dijilid rapi sudah di tangan dan siap menuju Mr. Alfa’s sweet home. Subhanallah sekali detik-detik ACC, ya like you thought in your mind, I am lebay. Di perjalanan lihat beberapa ruko dengan papan-papan nama dan tawaran jasanya dibuat dengan sangat menarik, dan daerah itu adalah Jalan Menoreh Raya.
Kami masuk ke (seperti) gang dengan tulisan Jalan Gunung Talang, dan pagar abu-abu itu, aku buka. Pak Alfa menemui kami, aku menjulurkan bolpoin made in Indonesia berwarna hitam, dan torehan tiga huruf itu, jelas, ACC.

Saya berteriak seperti suara bledek, seperti biasa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar