Kemarin, tanggal 4 Maret 2013, dimulai
perkuliahan semester dua di Universitas Konservasi. Enam SKS, di jam tujuh pagi
untuk Pendidikan Lingkungan Hidup, jam sebelas untuk Bahasa Indonesia, dan jam
tiga sore untuk Pendidikan Kewarganegaraan. Walaupun baru perkenalan mata
kuliah, tapi yang cukup berkesan ada mata kuliah terakhir, Pendidikan
Kewarganegaraan yang diampu Bapak Sugeng Priyanto.
Pendidikan Kewarganegaraan, awalnya aku
biasa saja malah terkesan menganggap bosan, tapi ternyata aku pilih rombel
(rombongan belajar) yang pas. Pak Sugeng membawa alur kuliah dengan cukup
bagus, walaupun aku sempat mengantuk di pertengahan kuliah. Pembawaannya asik
dan tidak ada kekakuan gila hormat di kuliah itu (tapi tetap hormat itu harus).
Lebih tepatnya aku tertarik tentang beliau yang sudah menjejakkan kaki di
kurang lebih dua puluh propinsi di Indonesia, dan ke luar negeri seperti ke
Belanda, Belgia, Australia, dan cukup banyak yang lain.
Ketidakpastian
Indonesia. Beliau bertanya mengenai
tantangan Bangsa Indonesia sekarang ini apa? Seluruh mahasiswa ditanyai satu
per satu, ada yang menjawab, ada yang loading
dulu. Dan jawaban pun beragam, seperti : Narkoba, pemerataan infrastruktur, korupsi,
pemerataan penduduk, free sex,
globalisasi, dan aku menjawab budaya yang mengacu pada penyortiran budaya luar
ke Indonesia. Beliau mengiyakan pendapat-pendapat dari mahasiswa, tetapi beliau
punya suatu keyakinan bahwa negara yang enak dan nyaman adalah Indonesia,
karena Indonesia adalah negara yang penuh dengan ketidakpastian.
Seperti yang pernah aku tulis sebelumnya
tentang negara Swiss yang semuanya tepat waktu, semua itu pasti, dan untuk
Indonesia cukup membosankan (walaupun aku ingin mencobanya). Ketika semua
pasti, semua menjadi tepat, semua menjadi disiplin, semua menjadi teratur, aku
juga berpikir semua akan biasa saja, haha dasar orang Indonesia. Ada di sebuah
buku kepribadian, bahwa orang yang berkepribadian sanguine (angin) yang
mempunyai pribadi cerewet, mudah bergaul dengan orang lain, dan cenderung
‘ngomong doang’ yang berkecenderungan tidak teratur, butuh sebuah control diri
berupa kedisiplinan. Menurutku, Indonesia itu Sanguine. Titik-dua-garis-miring.
Siapa sih yang bertanggung jawab dengan
semua itu? Perubahan itu perlu nggak?
Kenapa perlu? Untuk apa? Oke, dijawab sendiri aja ya.
*lagi-lagi tidak bertitik temu*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar