Jumat, 15 Maret 2013

Ketidakpastian yang Bukan Milik Einstein


Kemarin, tanggal 4 Maret 2013, dimulai perkuliahan semester dua di Universitas Konservasi. Enam SKS, di jam tujuh pagi untuk Pendidikan Lingkungan Hidup, jam sebelas untuk Bahasa Indonesia, dan jam tiga sore untuk Pendidikan Kewarganegaraan. Walaupun baru perkenalan mata kuliah, tapi yang cukup berkesan ada mata kuliah terakhir, Pendidikan Kewarganegaraan yang diampu Bapak Sugeng Priyanto.

Pendidikan Kewarganegaraan, awalnya aku biasa saja malah terkesan menganggap bosan, tapi ternyata aku pilih rombel (rombongan belajar) yang pas. Pak Sugeng membawa alur kuliah dengan cukup bagus, walaupun aku sempat mengantuk di pertengahan kuliah. Pembawaannya asik dan tidak ada kekakuan gila hormat di kuliah itu (tapi tetap hormat itu harus). Lebih tepatnya aku tertarik tentang beliau yang sudah menjejakkan kaki di kurang lebih dua puluh propinsi di Indonesia, dan ke luar negeri seperti ke Belanda, Belgia, Australia, dan cukup banyak yang lain.

Ketidakpastian
Indonesia. Beliau bertanya mengenai tantangan Bangsa Indonesia sekarang ini apa? Seluruh mahasiswa ditanyai satu per satu, ada yang menjawab, ada yang loading dulu. Dan jawaban pun beragam, seperti : Narkoba, pemerataan infrastruktur, korupsi, pemerataan penduduk, free sex, globalisasi, dan aku menjawab budaya yang mengacu pada penyortiran budaya luar ke Indonesia. Beliau mengiyakan pendapat-pendapat dari mahasiswa, tetapi beliau punya suatu keyakinan bahwa negara yang enak dan nyaman adalah Indonesia, karena Indonesia adalah negara yang penuh dengan ketidakpastian.
Seperti yang pernah aku tulis sebelumnya tentang negara Swiss yang semuanya tepat waktu, semua itu pasti, dan untuk Indonesia cukup membosankan (walaupun aku ingin mencobanya). Ketika semua pasti, semua menjadi tepat, semua menjadi disiplin, semua menjadi teratur, aku juga berpikir semua akan biasa saja, haha dasar orang Indonesia. Ada di sebuah buku kepribadian, bahwa orang yang berkepribadian sanguine (angin) yang mempunyai pribadi cerewet, mudah bergaul dengan orang lain, dan cenderung ‘ngomong doang’ yang berkecenderungan tidak teratur, butuh sebuah control diri berupa kedisiplinan. Menurutku, Indonesia itu Sanguine. Titik-dua-garis-miring.

Siapa sih yang bertanggung jawab dengan semua itu? Perubahan itu perlu nggak? Kenapa perlu? Untuk apa? Oke, dijawab sendiri aja ya.

*lagi-lagi tidak bertitik temu*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar