Semarang, Maret 2013
Here
I am in my room, di perantauan dengan zona waktu masih
sama, walaupun koordinat tempat berbeda dengan keluarga nun jauh di Purwokerto
sana. Oke, kata-katanya agak cengeng, tapi lumrahlah kalo ngerasain yang namanya Homesick.
Apalagi kemarin sempat ada sebuah ajang pencarian bakat di salah satu stasiun
televisi yang menampilkan lukisan pasir dengan tema yang menohok soal anak dan
orangtua, dimana kita dibesarkan dari rahim hingga menjadi manusia dengan usia
menua, dan bukannya semakin tua semakin dekat dengan orang tua tapi malah
menjauh. Hm, padahal semakin dewasa kita, semakin mereka menua. Tapi sebagai
pemuda, masa’ cuma stuck di kota asal
aja? Masa’ mau di zona nyaman aja? Oke sip, aku buat tulisan yang tidak
bertitik temu lagi.
Yang jelas, aku kangen banget sama Ibu,
Bapak, Lela-Leli, dan Mba Isna. Entah di rumah aku dikasih petuah macam-macam,
entah adik-adikku sering menganiaya aku (kakak yang aneh dianiaya adiknya
sendiri, baru berumur sepuluh tahun pula), dan entah aku harus ‘sedikit’ berselisih
paham dengan kakak cantikku, tapi di sini, perantauan, kalian tidak ada.
Halah, oke, aku ketahuan sebagai
mahasiswa-homesick-dengan-tingkat-kegalauan-super-max.
Buku Diary. Hal melankolis kayak gini
berhasil buat aku ‘kenal’ dengan aku sendiri di zaman SMP, dimana pertama kali
aku tulis harianku. Saat liburan yang tenggat waktunya lumayan dicemburui
beberapa teman tapi malah membosankan karena saking lamanya dan tidak
dimanfaatkan dengan baik itu, aku membongkar beberapa kardus memori dengan banyak
debu dan kotak yang aku isi dengan kenangan zaman SMP hingga SMA. Aku menemukan
buku diary pink hadiah dari gonzam di
zaman kelas tujuh, na’udzubillah, aku
melotot dan ngakak supermax! Tulisan
primata yang besar-besar dan penuh dengan kata-kata indah berisi puisi (yang
sumpah aku bingung untuk mengungkapkan antara malu (karena malu-maluin) dan
ngakak (is that me?)), curhatan sok
sakit gara-gara (ehem) cinta, ke sahabat, ke keluarga, hoah lumayan cukup
banyak. Oke, SAYA ALAY.
Kalo begitu, saya setuju pernyataan
bahwa Alay adalah suatu proses menuju suatu jenjang pendewasaan diri (karena saya
sudah terbukti Alay). Karena semakin menua, tulisan saya di diary semakin
dewasa dan semakin mengacu ke masa depan, dan cukup heran kenapa nggak dari dulu saya mikir masa depan? Oke, waktu tidak
mungkin kembali semau saya, walaupun saya tidak mau juga tidak akan kembali,
mungkin bisa saja kembali kalo saya atau orang lain dapat menyeberangi waktu.
Saya ngomong apa sih? Kenapa dari ‘aku’ jadi ‘saya’? Abaikan.
Alay yang bercampur dengan masa
pubertas, ternyata membuat aku berpandangan cukup negatif dengan keluarga di
masa itu. In that time, aku jadi
orang yang tidak nyaman dengan orang rumah, dan hobi banget pulang sampai sore.
Dan penyesalan yaa datang terakhiran.
Eits, tapi banyak hikmah juga, aku punya
sahabat, aku cukup mengenal dunia luar yang cukup asing, aku tahu bergaul
dengan orang, dan banyaklah yang lain.
Apa sih yang bisa kita lakukan saat ini?
Entah pikiran apa pun, doktrin apa pun yang bersarang di pikiran, hati, jiwa
kamu, just believe bahwa keluarga
adalah sesuatu makhluk hidup ciptaan-Nya yang berperan super besar di hidupmu.
Oke, saya galau lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar