Jumat, 15 Maret 2013

HOME


Semarang, Maret 2013

Here I am in my room, di perantauan dengan zona waktu masih sama, walaupun koordinat tempat berbeda dengan keluarga nun jauh di Purwokerto sana. Oke, kata-katanya agak cengeng, tapi lumrahlah kalo ngerasain yang namanya Homesick. Apalagi kemarin sempat ada sebuah ajang pencarian bakat di salah satu stasiun televisi yang menampilkan lukisan pasir dengan tema yang menohok soal anak dan orangtua, dimana kita dibesarkan dari rahim hingga menjadi manusia dengan usia menua, dan bukannya semakin tua semakin dekat dengan orang tua tapi malah menjauh. Hm, padahal semakin dewasa kita, semakin mereka menua. Tapi sebagai pemuda, masa’ cuma stuck di kota asal aja? Masa’ mau di zona nyaman aja? Oke sip, aku buat tulisan yang tidak bertitik temu lagi.
Yang jelas, aku kangen banget sama Ibu, Bapak, Lela-Leli, dan Mba Isna. Entah di rumah aku dikasih petuah macam-macam, entah adik-adikku sering menganiaya aku (kakak yang aneh dianiaya adiknya sendiri, baru berumur sepuluh tahun pula), dan entah aku harus ‘sedikit’ berselisih paham dengan kakak cantikku, tapi di sini, perantauan, kalian tidak ada.

Halah, oke, aku ketahuan sebagai mahasiswa-homesick­-dengan­-tingkat-kegalauan-super-max.

Buku Diary. Hal melankolis kayak gini berhasil buat aku ‘kenal’ dengan aku sendiri di zaman SMP, dimana pertama kali aku tulis harianku. Saat liburan yang tenggat waktunya lumayan dicemburui beberapa teman tapi malah membosankan karena saking lamanya dan tidak dimanfaatkan dengan baik itu, aku membongkar beberapa kardus memori dengan banyak debu dan kotak yang aku isi dengan kenangan zaman SMP hingga SMA. Aku menemukan buku diary pink hadiah dari gonzam di zaman kelas tujuh, na’udzubillah, aku melotot dan ngakak super­max! Tulisan primata yang besar-besar dan penuh dengan kata-kata indah berisi puisi (yang sumpah aku bingung untuk mengungkapkan antara malu (karena malu-maluin) dan ngakak (is that me?)), curhatan sok sakit gara-gara (ehem) cinta, ke sahabat, ke keluarga, hoah lumayan cukup banyak. Oke, SAYA ALAY.

Kalo begitu, saya setuju pernyataan bahwa Alay adalah suatu proses menuju suatu jenjang pendewasaan diri (karena saya sudah terbukti Alay). Karena semakin menua, tulisan saya di diary semakin dewasa dan semakin mengacu ke masa depan, dan cukup heran kenapa nggak dari dulu saya mikir masa depan? Oke, waktu tidak mungkin kembali semau saya, walaupun saya tidak mau juga tidak akan kembali, mungkin bisa saja kembali kalo saya atau orang lain dapat menyeberangi waktu. Saya ngomong apa sih? Kenapa dari ‘aku’ jadi ‘saya’? Abaikan.

Alay yang bercampur dengan masa pubertas, ternyata membuat aku berpandangan cukup negatif dengan keluarga di masa itu. In that time, aku jadi orang yang tidak nyaman dengan orang rumah, dan hobi banget pulang sampai sore. Dan penyesalan yaa datang terakhiran.
Eits, tapi banyak hikmah juga, aku punya sahabat, aku cukup mengenal dunia luar yang cukup asing, aku tahu bergaul dengan orang, dan banyaklah yang lain.

Apa sih yang bisa kita lakukan saat ini? Entah pikiran apa pun, doktrin apa pun yang bersarang di pikiran, hati, jiwa kamu, just believe bahwa keluarga adalah sesuatu makhluk hidup ciptaan-Nya yang berperan super besar di hidupmu.

Oke, saya galau lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar