Selasa, 09 April 2013

Sepanjang Jembatan Besi Hingga UNNES



Civil Engineering. Ini postingan tugas untuk minggu ke lima, karena diputuskan untuk menulis blog tugas dua minggu sekali. Untuk postingan pertama (minggu ke-2) tentang Sinkhole1, dan Sinkhole 2, dan yang kedua (minggu ke-3) tentang Transportasi Internal UNNES. Sebelum baca tentang ini, mungkin bisa buka dulu postingan Cerita Tentang Perkerasan Jalan. (you can klik underlined  title if you wanna read)

Hi, you.

Postingan kali ini bakal bahas tentang kemolekan jalan dari Jembatan Besi (Kreteg Wesi), Sampangan sampai ke Kampus UNNES tercintah. Apa moleknya? Dengan gelombang-gelombang ala jet coaster gagal? Dengan tanjakan seolah berujung jurang di kanan-kirinya? Halah, makanya kita bakal bahas soal jalan itu.

Apa yang terjadi sih kok jalannya bisa nggak enak gitu?

Dari sepanjang Jembatan Besi, atau kita sebut saja Kreteg Wesi selayaknya nama pasarannya, sampai dengan tepat di Kampus Konservasi, UNNES, di Sekaran, kita tahu jalan tanjakannya tidak enak, jauh dari kata nyaman sebenarnya. Ada sumber mengatakan kalo memang daerah di jalan situ memang mempunyai kondisi tanah yang labil alias tidak stabil. Sehingga ada beberapa aspal yang bergelombang, retak, dan lain-lain. Disini, aku bakal bahas muka aspal di sepanjang jalan itu.

Bentar, mending kamu jelasin dulu tentang aspal itu apa dulu deh biar ngerti. Dan kasih tahu juga yang namanya aspal itu punya sifat apa aja.

Oke.
Aspal itu didefinisikan sebagai material berwarna hitam atau cokelat tua, pada temperature ruang berbentuk padat sampai agak padat. Jika dipanaskan sampai pada temperatur tertentu, aspal bisa menjadi lunak (cair) sehingga dapat membungkus partikel agregat pada waktu pembuatan aspal beton. Jika temperature mulai turun, maka aspal akan mengeras dan mengikat agregat pada tempatnya (termoplastis).
Hydrocarbon adalah bahan dasar utama dari aspal yang biasanya disebut bitumen. Aspal yang umumnya dipakai adalah hasil dari destilasi minyak bumi, dan sering pula dari aspal alami dari Pulau Buton.
Jenis aspal sendiri ada dua golongan berdasarkan caranya diperoleh, aspal alami dan aspal buatan. Aspal alami dibedakan atas : aspal gunung, yang misalnya ada pada Pulau Buton, dan aspal danau, yang misalnya ada di Bermuda, Trinidad. Aspal buatan dibedakan atas : aspal minyak bumi yang merupakan hasil dari penyulingan, dan Tar yang merupakan hasil penyulingan batu bara, tetapi aspal ini mudah mengeras, peka dengan temperature, dan beracun.
Sedangkan sifat-sifatnya sebagai fungsinya sebagai perkerasan jalan, yaitu : sebagai bahan pengikat yang memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan agregat dan antar aspal itu sendiri dan sebagai bahan pengisi mengisi rongga-rongga antara butir-butir agregat dan pori-pori yang ada dari agregat itu sendiri. Hal ini mengandung indikasi bahwa aspal harus mempunyai daya tahan terhadap cuaca, adhesi dan kohesi yang baik, dan memberikan sifat elastis yang baik.

Okay, sekarang aku kenal secara singkat sama aspal. Sekarang lanjutkan, ada apa aspal di sepanjang jalan dari Kreteg Wesi sampai UNNES?

Jadi, menurut pengamatan penulis dan pengalaman melewati jalannya itu, di sepanjang jalan itu keadaannya adalah sebagai berikut :

Deformasi Plastis (Gelombang)
Jadi ingat mata kuliah tentang mekanika bahan bangunan yang mendeskripsikan tentang Plastis. Saya harap Anda tidak membayangkan wujudnya plastik kresek, terima kasih. Plastis, artiannya adalah suatu keadaan dimana sesuatu sudah melewati batas elastisnya, jadi sesuatu itu sudah tidak bisa, kata orang, mulur. Nah, begitulah yang terjadi deformasi plastis atau bergelombang pada aspal. Penyebabnya biasanya karena aspalnya berlebih dan stabilitas tanah rendah.

Ambles
Ambles di sini lebih kepada ada semacam relungan yang membuat aspalnya tidak rata. Disebabkan oleh konsolidasi daripada tanah lunak/timbunan yang kurang padat, beban lalu lintas yang melampaui rencana, pelaksanaan perkerasan kurang baik, perubahan volume pada material subgrade akibat dari pengaruh lingkungan seperti perubahan kadar air pada tanah lunak, dan penurunan akibat tidak stabilnya timbunan.

Retak
Retak seperti yang kita tahu, bentuknya terpecah-pecah dari yang seharusnya tidak pecah, hehe, definisi sendiri saja sih. Penyebabnya bisa karena lemahnya daya dukung pondasi, perkerasan aspal kurang, aspal sudah getas, adan adanya penyusutan pada tanah dasar (tanah expansive).

Pengelupasan (Delamination)
Jadi aspalnya ada yang mengelupas permukaannya, disebabkan oleh kurang bersihnya atau tidak cukupnya lapisan ikat sebelum dilapisi aus, masuknya air ke dalam lapisan aus, dan melemahnya penyelaputan aspal pada batas lapisan.

Pelepasan Butir
Pelepasan butir ini bentuknya seperti ada beberapa titik-titik yang aspalnya tidak ada, disebabkan oleh kerusakan aspalnya atau agregatnya, aspal yang kurang, kurangnya pemadatan saat pelaksanaan, sifat agregat yang porous, dan basahnya campuran beraspal saat pemadatan.

Lubang-Lubang
Seperti yang bisa dibayangkan saudara-saudara kalau yang dimaksud adalah jalannya berlubang-lubang. Penyebabnya karena tebal lapisan kurang tebal, agregaat kotor, kadar aspal rendah, dan drainase kurang baik.

Gawat juga kalau infrastuktur kota semetropolitan Semarang kayak gitu ya? Seharusnya bagaimana sih untuk membangun jalan, yang kita tahu, transportasi itu penting banget buat sarana kemana-mana?

Sederhana sih, membangunnya juga harus yang baik, benar, dan sesuai aturan. Ada beberapa pemeriksaan aspal kalau ingin jalannya bagus, selain pemeriksaan geologinya juga sih. Pemeriksaan aspal yang dimaksud, seperti : Pemeriksaan Penetrasi Aspal (tingkat kekerasan aspal), Pemeriksaan Titik Lembek/Lunak, Pemeriksaan Kehilangan Berat Aspal, Pemeriksaan Daktilitas (Keuletan) Aspal, dan lain-lain.
Tapi, sempurna itu juga tidak mungkin, jadi kesalahan manusia (yang memang ditakdirin banyak salah) patut dimaklumi. Tapi kalau tidak mencoba semaksimal untuk menjadi sempurna, itu dah kesalahan fatal yang bakal rugi di banyak pihak.

The End.

Thanks for coming and Enjoy my posting! *titik-dua-kurung-tutup*