Jumat, 02 Agustus 2013

Pohaci yang Bertransformasi (?)


Jadi pagi ini, 10:01 am, July 27 2013, aku barusan baca buku Lutung Kasarung dan Purbasari. Cerita klise anak Indonesia menurutku, karena siapa yang belum tahu ceritanya? I recommend to read that. Cerita tentang Kerajaan Pasir Batang dengan Rajanya bernama Prabu Tapa Agung yang menurunkan tahtanya kepada salah satu putrinya, dengan intrik kegalauannya antara putri sulungnya, Purbararang atau putri bungsunya, Purbasari. Bukan hal tidak bisa ditebak bila akhirnya happy ending.
Ada scene cerita yang cukup mengena, dan bersinggungan dengan buku #UdahPutusinAja milik Felix Siauw. Bagian yang mana?

Ketika Purbasari yang disiksa oleh Purbararang, saudarinya sendiri yang menjadi Ratu Sementara di Kerajaan Pasir Batang (sementara yang dimaksud untuk menunggu Ratu sesungguhnya, Purbasari, beranjak dewasa dan matang dalam memerintah kerajaan). Purbasari yang diberi lulur boreh yang menyebabkan Purbasari berkulit legam, dan dibuang ke dalam hutan angker, Sanggadunya.
“Tak jauh dari hutan Sanggadunya, ada gunung yang sangat tinggi. Karena tingginya, puncak gunung itu diliputi awan. Gunung itu seolah menjadi jembatan antara bumi dan Negeri Kahyangan. Di negeri di atas awan itu, hidup para Pohaci dan Bujangga. Mereka adalah makhluk seperti manusia, tapi lebih cantik dan ganteng beberapa kali lipat dibandingkan manusia.
Pohaci adalah sebutan untuk penghuni perempuan Kahyangan dan Bujangga adalah sebutan untuk penghuni lelaki. Orang-orang bumi percaya para Pohaci dan Bujangga memiliki banyak kesaktian.
Kahyangan dipimpin oleh seorang ratu yang disebut Sunan Ambu. Sunan Ambu memiliki beberapa anak, salah satunya adalah Pangeran Guruminda. Guruminda adalah pemuda yang diimpikan semua pohaci di Kahyangan. Ia memiliki hati yang baik, sekaligus penampilan yang sangat mempesona.”

Ekspekstasi pikiranku, hmm, pasti Guruminda nih gantengnya dah dewa. Seganteng-gantengnya laki-laki di Bumi, dan Bujangga itu berapa kali lipatnya dari kegantengan laki-laki di Bumi, dan Guruminda yang paling kece di antara Bujangga. Edyan.

“Namun, akhir-akhir ini Sunan Ambu merasa kehilangan Guruminda. Ia sangat jarang melihatnya di istana Kahyangan.
Tak lama kemudian, Guruminda datang menemui ibunya. Wajahnya sedih dan kepalanya terus menunduk.
“Anakku Guruminda, apa yang sedang kaupikirkan? Mengapa engkau tampak bermuram durja?” tanya Sunan Ambu lembut. Guruminda ingin menjawab, tapi begitu sulit baginya untuk berkata-kata. Ia tetap menunduk.
Sunan Ambu adalah perempuan yang arif, ia segera mengetahui apa yang dirasakan anaknya. Walau tak sepatah kata pun keluar dari bibir Guruminda. “Hmm… Ibu sadar, kini kau telah dewasa. Tentunya kau perlu pendamping. Adakah pohaci cantik yang menarik hatimu? Katakanlah pada Ibu siapa namanya. Ibu akan menolongmu untuk mempertemukan engkau dengannya,” tutur Sunan Ambu. “Guruminda, katakanlah,” desak Sunan Ambu lembut.
“Ibu, saya tidak mau bertemu dengan pohaci mana pun, kecuali yang mempunyai hati secantik ibunda. Dan saya tahu, mencarinya sangat sulit,” tutur Guruminda perlahan, sambil tetap memnunduk.
“Anakku Sayang, sangat mudah bagi kita untuk menemukan pohaci atau gadis cantik. Namun untuk mengetahui kecantikan hati seseorang, kau harus mengenalnya dulu. Mungkin, ibu tahu gadis yang kau cari. Dia ada di bumi. Pergilah kau ke sana. Tidak sebagai Guruminda, tapi kau akan menyamar sebagai seekor lutung. Kini namamu adalah Lutung Kasarung,” kata Sunan Ambu.
“Pergilah anakku, pergilah ke bumi. Kau akan kembali ke wujud semula kalau ada gadis yang mencintaimu walaupun wujudmu seekor lutung. Dialah gadis dengan kecantikan hati yang kau inginkan,” kata Sunan Ambu, lagi.”

Terlalu klise mungkin kita ekspektasi ke orang (manusia) yang rupawan secara physically. Aku belajar dari seseorang, dia tidak perlu orang yang cantik atau ganteng buat ada di sekitaran dia, dia hanya butuh orang yang asik. Ada juga teman yang bilang, kalo kamu mengharapkan orang yang sempurna, selamat! Anda mendapatkan tiket jomblo seumur hidup.

Jadi. WONG KI LANGKA SING SEMPURNA, CUY!

Haha begitu juga jodoh.
Di buku Felix Siauw :  #UdahPutusinAja, bila perempuan untuk jadi kriteria seorang lelaki, mungkin harus berpikiran jauh. Kalo aku seorang muslim, kira-kira muslimah yang seperti apa yang bisa mendampingi aku?
Nah lho. Hukum milik Mba Jilvia muncul, “Perempuan baik, untuk Lelaki yang baik”. Seperti yang terdengar dan terlihat dimana-mana, kita mungkin tidak akan pernah berhenti memperbaiki diri. Memperbaiki diri, yang jelas dan yang utama, yaitu memperbaiki untuk menghadap kepada-Nya suatu saat, dan selanjutnya untuk yang lainnya, termasuk untuk jodoh.
Kata orang, Jodoh itu Rezeki. Jadi, selama jodoh itu belum diberi oleh-Nya, kita punya kesempatan buat memperbaiki “kerusakan-kerusakan” diri, tentunya lahir dan batin.
Mungkin kalau  aku, aku mungkin seperti Guruminda, aku seorang pohaci yang sedang bertransformasi menjadi ‘lutung’, jadinya lagi tunggu (rezeki) jodoh yang bener-bener punya kegantengan hati super terbaik dari-Nya. *hahaha, sebenernya menghibur hati aja sih.. *jodoh mana jodoh
*now playing :  Maudy Ayunda – Cinta Datang Terlambat*

Enjoy *LaughOutLoud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar