Jumat, 02 Agustus 2013

Lego, dan Tentang The Bad of Ekspektasi Wagu


Malam aneh. Ketika selimut sudah ditarik, lampu padam, dan hanya perlu mencoba tidur, tetapi malah sekarang mengetik kata-kata yang bakal dilepas begitu saja. Keinginan kuat memutar lagu milik Ed Sheeran – Lego House, hanya lagu itu dan diputar-putar. Parah banget mellownya.

July 31, 2013 10:39 pm

Pasang headset dan cuma suara Ed Sheeran yang memutar di Winamp kayak roll on. Tapi bukan itu intinya.
Ini tentang kata diri, komitmen, dan sesuatu yang disadari ternyata sulit, adalah perubahan.

Ini mungkin agak serius, yang sudah bosan mungkin bisa tekan Alt+F4.

Seperti postingan sebelumnya, ekspektasiku hari-hari libur ini tentang seorang soulmate. Ah, agak malu bahasnya. Mungkin memang didukung usia yang kian menyekik seiring waktu berjalan. Ah, atau mungkin karena kedewasaan yang berkembang. Hm, atau karena hanya sebuah emosi yang punya kebahagiaan sementara. Yang terakhir, kemungkinannya lebih besar kali yak.

Perbincangan tentang ekspektasi itu bukan sebatas aku dan segala pemikiran yang mondar-mandir di otak saja, tetapi juga sebagai bahan perbincangan dengan lisa, ulfi, ajang, ratna, dan lainnya. Berarti tidak ada yang salah dengan aku, I thought I’m normal.

Pohaci yang Bertransformasi. Ya, maksudku tentang memantaskan diri itu.

Mungkin memang perubahan (maksudnya : melakukan proses memantaskan diri) itu dipikir negatif, itu nggak gampang. Perubahan ada dua berdasar dari bagian objeknya, perbuhan outside dan inside :

Tentang outside. Mungkin pikiran yang terlintas ketika kita melihat pantulan bayangan kita seluruh badan di cermin, “hm, emang apa lagi sih yang harus diperbaiki?” pertanyaan itu yang mungkin keluar. Kata-kata agak sombong dan narsis mungkin tercetus, “udah cantik kok, udah bersih kok, udah kece kok, apa lagi sih?” tapi padahal banyak orang yang kadang masih underestimate sama orang lain. Nah, ini peran orang lain buat kasih saran, kritik, dan solusi ke orang yang ingin berubah itu.

Tapi yang namanya orang lain, pasti ada rasa pekewuh buat bilang. Yang nggak enak, yang nggak didengerinlah, yang dicuekinlah, yang takut dijauhinlah. Iya sih, orang itu berbeda, ada yang mau dikritik, ada yang nggak. Catetan buat orang yang mau kritik, liat orang yang mau dikritik, kalo mau kritik orang, coba aja kritik hal kecil aja. Kalo seumpama hal kecil aja (yang otomatis buat kebaikan dia) nggak dia lakuin, STOP, jangan kritik dengan hal yang sedang bahkan yang hal besar. *berdasar pengalaman, karena ditakutkan mendapatkan sanksi moral yang tidak enak. Dan maaf untuk para korban kritikan saya, saya hanya mencoba membantu dan maaf kalau cukup menohok.

Memperbaiki outside, minta kritik, pendapat, dan solusi. insyaAllah, masih ada orang peduli di luar sana buat kamu yang lebih baik, eciyeh. Yang paling utama, jaga kebersihan. *kayak kasih warning ke diri sendiri aja nih*

Tentang inside, ini nih yang kudu benar-benar menurutku tentang batin. Dan agama mempengaruhi juga. Karena agama adalah bahasan yang terlalu sensitif, jadi saya pikir, mending tidak dibahas jauh *peace*
Perempuan baik, untuk lelaki baik. Perempuan baik, untuk lelaki baik. Perempuan baik, untuk lelaki baik. *berlaku sebaliknya*

Semoga yang pada punya niat baik untuk berubah, dimudahkan sebatas itu masih batas wajar (sesuai keyakinan masing-masing) dan mendapat ridha-Nya. Apa sih yang lebih mulia daripada ridha dari-Nya? Yuh, muhasabah diri dan senantiasa berkhusnudzan, karena pasti (pasti dan pasti), Dia memberikan rencana paling keren buat kita kalo kita mau berusaha dalam lingkup kebaikan niat dan berdoa dalam iringan perjuangan. Hamazah!!!

Ditulis untuk menghibur diri *hehe*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar