20:26 25 Desember 2011
Hari minggu yang menggembirakan. Untukku, bukan karena hari perayaan natal. Tapi karena aku rindu tawa ini. Tawa lepas bertemu, walau hanya, dua sahabatku yang telah merantau ke daerah orang.
Ulfi dan Lisa, mahasiswa yang merantau untuk mencari ilmu. Ulfi di Semarang, dan Lisa di Yogyakarta.
Seperti idamanku, aku juga ingin seperti mereka. Dan aku bukan hanya ingin, tapi obsesi.
Perkiraanku, ketika aku mengirim pesan ke Lisa bahwa aku memutuskan tidak ikut karena hanya tersedia satu kendaraan, aku membayangkan hari ini adalah hari minggu seperti minggu lalu. Menonton film, tiduran di kasur merahku diiringi kipas angin yang setia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk sekedar memberi udara segar, dan berbalas pesan ria dengan teman yang dipisah oleh jarak, atau dengan tugas tambahan seperti mencuci atau menyeterika. Tapi. Ulfi akhirnya membawa kendaraan sendiri.
09.37 kurang lebih, Ulfi sampai untuk menjemputku. Karena Ulfi yang mendapat pesan untuk menjemputku, akhirnya kita akan bertemu Lisa di tempat perkara, Kompaks Open 2011 di SMA Negeri 1 Purwokerto. Dan ternyata kami berselisih di jalan, Lisa akan menjemputku ternyata. Dan kami meneruskan perjalanan ke tempat perkara tersebut.
Hujan. Menit setelah kami memasuki tempat bertanding, turun hujan yang semakin deras. Damn. Dan akhirnya kita hanya bercerita. Dan tak habislah topic pembicaraan. Sebelumnya, aku dan Ulfi bertemu dengan adik angkatan 22 Eiger Corps yang ikut lomba Merpati Putih tersebut. Mengeluhlah dia mengenai proposal sekolah, dan segala piranti-pirantinya. Aku hanya tersenyum kecut, entah juga yang dilakukan Ulfi.
Tapi.
Bukan itu intinya. Tahulah aku akan membahas seseorang. Membahas dia yang seharusnya lalu. Membahas yang bayangnya, yang sosoknya, yang hadirnya, argh. Yap. Aku sedang melankolis.
Bila dia di dekatku, aku tak akan melihat wajahnya.
Bila dia di dekatku, ah shit! Aku harap dia tak mendengar degup jantungku yang memburu.
Bila dia dekat,aku harap dia menjauh, agar aku bisa melihatnya…
Bila dia di dekatku, ah shit! Aku harap dia tak mendengar degup jantungku yang memburu.
Bila dia dekat,aku harap dia menjauh, agar aku bisa melihatnya…
Toh kenyataan pahit bahwa dia sedang mendekati sesosok wanita yang entah aku kenal atau tidak. Aku tahu atau tidak. Aku dekat atau tidak.
Dia mendekatinya.
Kalaupun apa yang aku lihat, seperti dia melihatku, aku cukup bahagia bila itu benar. Tapi aku nggak berharap lebih. Nggak.
Hahaha memang munafik aku nggak mau melihat dia. Memang munafik aku nggak melihat matanya, menerobos kaca matanya. Memang munafik. Munafik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar