Senin, 02 Juli 2012

Be Realistic or Be Dreamer #2

Karma Ura's mind set. Ini kelanjutan yang Be Realistic or Be Dreamer. Yang aku tulis dalah percakapan si penulis (Eric Weiner) dengan Karma Ura. Moga bermanfaat ya!
---
“Karma, apakah Anda bahagia?”

“Setelah melihat kembali sejarah hidup saya, saya menemukan bahwa jawabannya adalah ya. Saya mencapai kebahagiaan karena saya tidak memliki harapan yang tidak realistis.”

Hal merupakan penjelasan yang janggal bagi saya. Di Amerika, harapan yang tinggi adalah mesin yang mendorong kami, bahan bakar dalam tangki kami, kekuatan di belakang mimpi kami dan, jika diperluas, merupakan usaha untuk mencapai kebahagiaan.

“Cara berpikir saya benar-benar berbeda,” dia berkata. Saya tidak memiliki pegunungan untuk didaki, pada dasarnya saya merasa bahwa kehidupan itu sendiri adalah perjuangan dan jika saya puas, jika saya benar-benar telah melakukannya, hidup dengan baik, malam hari saya mengeluh dan berkata, ‘Tidak apa-apa’.”

“Apakah Anda mengalami hari-hari yang buruk?”

“Ya, tetapi adalah penting untuk menempatkannya dalam perspektif yang tidak penting. Meskipun Anda telah mencapai hal-hal besar, hal tersebut adalah semacam teater yang bermain dalam pikiran Anda. Anda pikir hal tersebut begitu penting, tetapi sebenarnya Anda tidak membuat perbedaan seperti itu bagi kehidupan siapa pun.”

“Jadi, Anda bermaksud, Karma, bahwa pencapaian terbesar kita dan kegagalan terbesar kita sama-sama tidak penting?”

“Ya. Kita suka berpikir bahwa kita benar-benar membuat perbedaan. Baiklah, dalam skala mingguan hal tersebut mungkin menarik. Misalkan 40 tahun lagi. Saya tidak begitu yakin. Lalu tiga generasi lagi dan Anda akan dilupakan tanpa jejak.”

“Anda merasakan hal ini sumber kenyamanan? Saya merasa hal ini menyedihkan.”

“Tidak, seperti yang kami katakana dalam Buddhisme, tidak ada yang lebih besar daripada kasih sayang. Jika Anda telah melakukan sesuatu yang baik, saat itu Anda akan merasakan kepuasan. Saya dulu membunuh banyak nyamuk dan lalat karena kedua jenis hewan tersebut membuat saya takut terjangkit malaria,tetapi kadang-kadang saya tidak melakukan hal tersebut. Saya berhenti sejenak dan berpikir ‘Hewan itu tidak membahayakan saya, tidak mengancam saya secara langsung. Dia tanpa pertahanan. Mengapa saya menghancurkannya?’ Oleh karena itu, saya melepaskannya, dan terdapat suatu saat—ini merupakan tindakan yang tidak signifikan, saya tahu—tetapi terdapat suatu kedamaian sejati. Saya membiarkan saja hewan itu pergi.”

Kemudian saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Saya berbicara tentang diri saya sendiri. Benar-benar berbicara. Mengapa, saya tidak yakin mengapa. Mungkin terpengaruh oleh sisi lembut pria ini atau fakta bahwa dia bernama Karma, atau sifat disorientasi Bhutan, tetapi karena alasan apa pun, saya menceritakan pada Karma sebuah kisah, kisah yang diungkapkan di Miami beberapa minggu sebelumnya, sebelum saya memulai riset saya untuk mengetahui tempat-tempat yang paling bahagia di dunia.
“Bangun,” saya mendengar dokter berkata, dengan tidak sabar, kedua matanya mengarah ke bawah, ketika dia membuka pintu ke ruang pemeriksaan.

“Saya sedang terjaga,” kata saya.

“Bukan,” sergah sang dokter. “Saya berbicara dengan computer saya.” Tentu saja. Kini, saya dapat melihat mikrofon—dengan ukuran dan bentuk bola permen karet. Berputar-putar di depan mulutnya—dan tablet yang berkilau di kedua tangannya.

Pemandangan aneh ini mengalihkan perhatian saya sejenak sebelum saya ingat mengapa saya di sini. Mati rasa pada tangan dan kaki saya. Pendeknya napas. Gejala ini makin buruk dalam minggu-minggu terakhir ini, membuat saya tidak bisa tidur pada malam hari.

Lalu, terjadilah pada umur penting empat puluh tigab tahun ketika hidup telah terlewati lebih dari separuhnya dan tidak dapat kembali lagi, saya duduk di ruang pemeriksaan yang dingin, dengan seorang dokter yang berbicara dengan komputernya, menunggu hasil MRI yang saya tahu, benar-benar tahu, akan memberikan informasi suram tentang tumor otak saya yang tidak dapat disembuhkan lewat operasi. Atau mungkin, jika saya beruntung, penyakit Lou Gehrig. Dua minggui sebelumnya, ketika bertiarap dalam sebuah pipa yang menyerupai sarkofagus, mesin tersebut secara tidak terlihat mengklik dan menderu di sekitar saya. Saya dapat mendengar para teknisi di belakang partisi kaca bergumam pada satu sama lain. “Orang malang, dia tidak memiliki waktu yang lama lagi.”

Jadi, ketika saya menunggu hasil resmi, hidup saya tampil di depan saya seperti presentasi PowerPoint yang buruk. Slide terakhir. Kematian. Terima Kasih sudah menghadiri seminar kami. Kopi dan roti bagel tersedia di luar.

“Baiklah, saya sudah mendapatkan hasil MRI di sini,” kata sang dokter.

Ya, saya tahu. Saya dapat melihatnya dalam telapak tangan Anda yang dingin dan tak kenal belas kasihan. ‘Berikan itu pada saya, Dokter. Saya dapat menanggungnya. Sebenarnya, saya tidak sanggup. Tetapi berikan saja itu padaku.”

“Kami menemukan darah Anda berfungsi.”

Ya, darah saya berfungsi. Saya tahu. Berapa lagi umur saya?

“Kemudian… kami menemukan…”

“Tidak ada apa pun. Mereka tidak menemukan apa pun,” potong Karma, datar, tanpa keraguan sedikit pun.
Saya terenyak. Dia benar. Mati rasa pada tangan dan kaki saya disebabkan oleh pernapasan yang tidak teratur dan aliran oksigen yang tidak konsisten; dengan kata lain, serangan panik. Hanya mengalami hipokondria sesaat.

“Bagaimana Anda tahu, Karma?”

Karma berhenti sejenak seperti biasa dan menjawab dengan saran, resep. “Anda perlu berpikir tentang kematian selama lima menit setiap hari. Hal tersebut akan menyembuhkan, membersihkan Anda.”
“Bagaimana  caranya?”

Inilah sebabnya, rasa taku mati ini, rasa takut mati sebelum kita mencapai apa yang kita inginkan atau melihat anak-anak kita tumbuh. Hal inilah yang mengasumsikan Anda.”

“Tetapi terasa begitu menyedihkan, berpikir tentang kematian setiap hari. Mengapa saya melakukan hal itu?”

“Orang-orang kaya di Barat, mereka belum pernah menyentuh mayat, luka segar, benda busuk. Ini adalah masalah. Ini adalah kondisi manusia. Kita harus mempersiapkan diri menghadapi saat ketika kita tidak ada lagi.”

Baru kemudian dia memberitahukan kepada saya tentang kankernya. Diagnosis. Kemoterapi. Berbagai pembedahan di rumah sakit yang jauh dari rumah. Akhirnya, peredaan.

Kini sayalah yang terdiam.
---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar