Karma Ura's mind set. Ini kelanjutan yang Be Realistic or Be Dreamer. Yang aku tulis dalah percakapan si penulis (Eric
Weiner) dengan Karma Ura. Moga bermanfaat ya!
---
“Karma, apakah Anda bahagia?”
“Setelah melihat kembali sejarah hidup saya, saya menemukan
bahwa jawabannya adalah ya. Saya mencapai kebahagiaan karena saya tidak memliki
harapan yang tidak realistis.”
Hal merupakan penjelasan yang janggal bagi saya. Di Amerika,
harapan yang tinggi adalah mesin yang mendorong kami, bahan bakar dalam tangki
kami, kekuatan di belakang mimpi kami dan, jika diperluas, merupakan usaha
untuk mencapai kebahagiaan.
“Cara berpikir saya benar-benar berbeda,” dia berkata. Saya
tidak memiliki pegunungan untuk didaki, pada dasarnya saya merasa bahwa
kehidupan itu sendiri adalah perjuangan dan jika saya puas, jika saya
benar-benar telah melakukannya, hidup dengan baik, malam hari saya mengeluh dan
berkata, ‘Tidak apa-apa’.”
“Apakah Anda mengalami hari-hari yang buruk?”
“Ya, tetapi adalah penting untuk menempatkannya dalam
perspektif yang tidak penting. Meskipun Anda telah mencapai hal-hal besar, hal
tersebut adalah semacam teater yang bermain dalam pikiran Anda. Anda pikir hal
tersebut begitu penting, tetapi sebenarnya Anda tidak membuat perbedaan seperti
itu bagi kehidupan siapa pun.”
“Jadi, Anda bermaksud, Karma, bahwa pencapaian terbesar kita
dan kegagalan terbesar kita sama-sama tidak penting?”
“Ya. Kita suka berpikir bahwa kita benar-benar membuat
perbedaan. Baiklah, dalam skala mingguan hal tersebut mungkin menarik. Misalkan
40 tahun lagi. Saya tidak begitu yakin. Lalu tiga generasi lagi dan Anda akan
dilupakan tanpa jejak.”
“Anda merasakan hal ini sumber kenyamanan? Saya merasa hal
ini menyedihkan.”
“Tidak, seperti yang kami katakana dalam Buddhisme, tidak
ada yang lebih besar daripada kasih sayang. Jika Anda telah melakukan sesuatu
yang baik, saat itu Anda akan merasakan kepuasan. Saya dulu membunuh banyak
nyamuk dan lalat karena kedua jenis hewan tersebut membuat saya takut
terjangkit malaria,tetapi kadang-kadang saya tidak melakukan hal tersebut. Saya
berhenti sejenak dan berpikir ‘Hewan itu tidak membahayakan saya, tidak
mengancam saya secara langsung. Dia tanpa pertahanan. Mengapa saya
menghancurkannya?’ Oleh karena itu, saya melepaskannya, dan terdapat suatu
saat—ini merupakan tindakan yang tidak signifikan, saya tahu—tetapi terdapat
suatu kedamaian sejati. Saya membiarkan saja hewan itu pergi.”
Kemudian saya memutuskan untuk melakukan sesuatu yang di
luar kebiasaan. Saya berbicara tentang diri saya sendiri. Benar-benar
berbicara. Mengapa, saya tidak yakin mengapa. Mungkin terpengaruh oleh sisi
lembut pria ini atau fakta bahwa dia bernama Karma, atau sifat disorientasi Bhutan,
tetapi karena alasan apa pun, saya menceritakan pada Karma sebuah kisah, kisah
yang diungkapkan di Miami beberapa minggu sebelumnya, sebelum saya memulai
riset saya untuk mengetahui tempat-tempat yang paling bahagia di dunia.
“Bangun,” saya mendengar dokter berkata, dengan tidak sabar,
kedua matanya mengarah ke bawah, ketika dia membuka pintu ke ruang pemeriksaan.
“Saya sedang terjaga,” kata saya.
“Bukan,” sergah sang dokter. “Saya berbicara dengan computer
saya.” Tentu saja. Kini, saya dapat melihat mikrofon—dengan ukuran dan bentuk
bola permen karet. Berputar-putar di depan mulutnya—dan tablet yang berkilau di
kedua tangannya.
Pemandangan aneh ini mengalihkan perhatian saya sejenak
sebelum saya ingat mengapa saya di sini. Mati rasa pada tangan dan kaki saya.
Pendeknya napas. Gejala ini makin buruk dalam minggu-minggu terakhir ini,
membuat saya tidak bisa tidur pada malam hari.
Lalu, terjadilah pada umur penting empat puluh tigab tahun
ketika hidup telah terlewati lebih dari separuhnya dan tidak dapat kembali
lagi, saya duduk di ruang pemeriksaan yang dingin, dengan seorang dokter yang
berbicara dengan komputernya, menunggu hasil MRI yang saya tahu, benar-benar
tahu, akan memberikan informasi suram tentang tumor otak saya yang tidak dapat
disembuhkan lewat operasi. Atau mungkin, jika saya beruntung, penyakit Lou
Gehrig. Dua minggui sebelumnya, ketika bertiarap dalam sebuah pipa yang
menyerupai sarkofagus, mesin tersebut secara tidak terlihat mengklik dan
menderu di sekitar saya. Saya dapat mendengar para teknisi di belakang partisi
kaca bergumam pada satu sama lain. “Orang malang, dia tidak memiliki waktu yang
lama lagi.”
Jadi, ketika saya menunggu hasil resmi, hidup saya tampil di
depan saya seperti presentasi PowerPoint yang buruk. Slide terakhir. Kematian.
Terima Kasih sudah menghadiri seminar kami. Kopi dan roti bagel tersedia di
luar.
“Baiklah, saya sudah mendapatkan hasil MRI di sini,” kata
sang dokter.
Ya, saya tahu. Saya dapat melihatnya dalam telapak tangan
Anda yang dingin dan tak kenal belas kasihan. ‘Berikan itu pada saya, Dokter.
Saya dapat menanggungnya. Sebenarnya, saya tidak sanggup. Tetapi berikan saja
itu padaku.”
“Kami menemukan darah Anda berfungsi.”
Ya, darah saya berfungsi. Saya tahu. Berapa lagi umur saya?
“Kemudian… kami menemukan…”
“Tidak ada apa pun. Mereka tidak menemukan apa pun,” potong
Karma, datar, tanpa keraguan sedikit pun.
Saya terenyak. Dia benar. Mati rasa pada tangan dan kaki
saya disebabkan oleh pernapasan yang tidak teratur dan aliran oksigen yang
tidak konsisten; dengan kata lain, serangan panik. Hanya mengalami hipokondria
sesaat.
“Bagaimana Anda tahu, Karma?”
Karma berhenti sejenak seperti biasa dan menjawab dengan
saran, resep. “Anda perlu berpikir tentang kematian selama lima menit setiap
hari. Hal tersebut akan menyembuhkan, membersihkan Anda.”
“Bagaimana caranya?”
Inilah sebabnya, rasa taku mati ini, rasa takut mati sebelum
kita mencapai apa yang kita inginkan atau melihat anak-anak kita tumbuh. Hal
inilah yang mengasumsikan Anda.”
“Tetapi terasa begitu menyedihkan, berpikir tentang kematian
setiap hari. Mengapa saya melakukan hal itu?”
“Orang-orang kaya di Barat, mereka belum pernah menyentuh
mayat, luka segar, benda busuk. Ini adalah masalah. Ini adalah kondisi manusia.
Kita harus mempersiapkan diri menghadapi saat ketika kita tidak ada lagi.”
Baru kemudian dia memberitahukan kepada saya tentang
kankernya. Diagnosis. Kemoterapi. Berbagai pembedahan di rumah sakit yang jauh
dari rumah. Akhirnya, peredaan.
Kini sayalah yang terdiam.
---
Tidak ada komentar:
Posting Komentar