Senin, 23 Juli 2012

tinggal atau mampir?


You can’t always get what you want, but if you try, sometimes you just might find you get what you need – Mick Jagger

Honestly, aku agak takut dengan kutipan di atas beberapa waktu lalu. Ketakutan yang ‘kalau-kalau’ aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan, tepatnya suatu tempat baru yang aku inginkan. Dan ketakutan itu menjadi kenyataan, I can’t get what I want.


Jadi, beberapa hari ini aku jadi ingat beberapa orang yang pernah ada di hidupku selama sembilan belas tahun lebih ini. Orang yang secara takdir dipertemukan oleh-Nya kepadaku. Tentu dengan banyak tujuan, dengan banyak pelajaran, dengan banyak kenangan. Ya, orang-orang yang tanpa sadar aku butuhkan di saat yang baik.

Ingat mereka, ada yang membuat ingin melupakan, ingin dibuang, dan membuat perasaan itu benci. Tapi ada yang sebaliknya juga, pengen kembali lagi, pengen ketemu lagi, rasanya seneng kalo ingat. Yap, setiap orang butuh kenangan, seburuk atau seindah apa pun itu.

Ada dua kategori utama untuk orang-orang ini menurut jangka waktu, yaitu : orang yang lewat dan orang yang tinggal.

Orang yang lewat, aku maksud adalah orang yang hanya singgah beberapa pekan untuk sekedar mampir ke kehidupan kita. Dalam jangka waktu yang relatif sangat singkat.

Contohnya seperti orang yang bertemu dengan kita dalam nasib yang sama. Orang Indonesia itu ramah, dan kalau pun nggak kenal, pasti diajak ngobrol aja, apalagi kalo lagi menjalani nasib sama. Realnya, pas antri tiket kereta mungkin, karena saking panjangnya antrian dan saking bosennya. Akhirnya kita tengak-tengok dan bezzzt! Ketemu orang yang berjarak dekat dengan kita yang tanpa sengaja bertemu pandang. Pertama pasti saling senyum doang, terus noleh senyum lagi, terus noleh senyum lagi, dan akhirnya bertanya dengan pertanyaan umum yang tidak menyinggung kepentingan pribadi. Contohnya kalo lagi antri tiket, “antrinya lama ya, pesan tiket mau kemana, mba?”. Dan perbincangan akan berlanjut ke pertanyaan lain, seperti, rumahnya mana, pesan tiket berapa, buat siapa saja, buat kapan dan lain-lain. Kalo dilihat, perbincangan seperti ini sering terjadi pada sesama gender,dan paling sering sih lihat antar ibu-ibu. Itu tadi contoh untuk orang yang benar-benar mampir doang, kalo pembicaraan tadi nyambung, bisa saja berlanjut.

Dan contoh yang lain, aku mau cerita yang nyata, yang aku jalani sendiri. Bulan Maret atau April 2012 kemarin, aku menjalani kursus TOEFL di lembaga yang terkenal di Indonesia. Aku les di situ untuk hari selasa dan kamis jam setengah tujuh hingga kurang lebih jam sembilan. Bertemu orang, tentulah. Kurang lebih satu kelas ada 15 siswa. Dan yang paling termuda adalah saya, saudara-saudara, itu saja saya sadari setelah beberapa pertemuan menjalani kursus itu.

Hari pertama masuk ke kelas itu, saya berkenalan dengan Mba Ade yang asalnya dari luar Purwokerto. Perempuan yang aku lihat cuek, tapi ternyata enak buat ngobrol dan asik. Aku ingat dia pake kerudung oranye pas itu. Aku masih ingat, ketika ditanya contact person kecuali dia yang bisa dihubungi, dia memberikan nomor handphone dari ayah pacarnya.

Tapi Mba Ade hanya bisa bertahan 2-3 kali pertemuan saudara-saudara, dan pertemuan hidup antara saya dan dia hanya cukup sekian segitu saja.

Pada pertemuan kedua, aku sudah akrab dengan beberapa teman di kelas itu walaupun belum banyak. Aku kenal dengan perempuan unik, cantik, dan supel. Dia Mba Fina. Aku kira dia mungkin seumuran atau tua hanya beberapa tahun di atasku. Ternyata dia mau wisuda -..- 

Dia rajin masuk kursus, dia berpenampilan modis muslimah, dan khas dengan riasan pipi tembemnya. Dia orang Purwokerto asli. Aku sering duduk bersebelahan dengannya, saling tukar pikir, atau bergurau dengan saling meledek. Ya, dia sama seperti aku kadang seperti anak kecil. Membuat Miss Sulis geleng-geleng kepala.

Pertemuan terakhirku dengannya, sepulang kursus dia mengajak minum susu di depan kampusnya, universitas nomor satu (mungkin) di Purwokerto. Di warung pinggir jalan itu aku banyak cerita, cerita banyak hal, bahkan membicarakan laki-laki mana yang paling cakep di kelas kursus, aku dan Mba Fina punya selera yang berbeda ternyata. Sebelum pulang, sempat berdebat aku dengannya, karena dia ngotot ingin membelikan aku susu yang aku minum tadi. Dan dia akhirnya menang, dia yang membayar, tetapi dengan syarat aku harus mendoakannya agar ia lekas mendapatkan pekerjaan di bursa kerja, di salah satu universitas Yogayakarta yang akan dia datangi. Dan aku mendoakannya, walaupun pada akhirnya aku tidak bisa bertemud dengannya setelah itu. Keep n’ touch, in social media sometimes.

That’s my memories. Dia orang yang lewat mungkin, bukan dalam arti kasar. Karena aku belajar cukup banyak darinya, dengan mendengarkan dia, dari memahami perasaannya saat tes TOEFL di universitasnya, dari apa pun yang ia ceritakan. Ya, Allah SWT mempertemukan aku dengannya untuk mempelajari sesuatu darinya.

Dan kategori kedua adalah Orang yang tinggal. Siapa lagi contohnya kalau bukan Orang tua, saudara, dan keluarga besar kita sendiri. Sadar tidak sadar, dan suka harus suka, orang yang akan berhubungan dengan kita, membantu kita, mengerti keadaan lahir batin kita, adalah orang tua dan sanak saudara kita. Siapa lagi?
Orang tua kita adalah orang yang paling berpengaruh, mereka membesarkan kita, mendewasakan kita, mengajari kita, memberi kita makanan, memberi kita asuhan, memberi kita apa yang kita butuhkan di usia kita, memberikan perlengkapan kita, membayarkan pendidikan kita, mengerti keadaan kita lahir dan batin, memberikan apa yang kita inginkan, menasihati kita ketika salah, memarahi kita karena ingin memberikan pengarahan (walau dengan marah, itu menunjukkan mereka kecewa atau karena sekedar kita susah untuk dikompromi), banyak yang kadang lupa untuk diperhitungkan seberapa banya mereka member pada kita. Jadi apa balasan kita? *koreksi diri*

Orang yang tinggal, bisa saja mereka bukan dari kalangan sedarah kita, tetapi mereka secara batin, menyatu dengan kita. Contohnya saja, sahabat. Orang yang dekat dengan kita, mengerti every single things in our mind, our feels, our character.

Dan ada saatnya nanti, akan ada seseorang yang akan mendampingi, mengayomi, melindungi, dan menjadi separuh dari hidup kita. Itu adalah pasangan hidup kita kelak, asik. Hahaha hush! masih sembilan belas tahun, hehe, sukses dulu (^.^)9

Jadi, Anda bisa putuskan, Anda ingin ‘hanya mampir’ ke kehidupan sesorang atau ‘tinggal’, itu pilihan Anda. Anda tidak memilih pun itu sebuah pengambilan keputusan.
Kehidupan ini milik kamu. Kamu harus berjuang di situ, kamu menggapai mimpimu, kamu gagal atau berhasil itu apa yang kamu lakukan sekarang. Tapi, kamu harus ingat, ada orang di sekitarmu yang ‘melihat’ kamu, dan kamu tahu, kamu harus ‘melihat’ mereka juga. – Ating

Tidak ada komentar:

Posting Komentar