You can’t always get what you
want, but if you try, sometimes you just might find you get what you need –
Mick Jagger
Honestly, aku agak takut dengan
kutipan di atas beberapa waktu lalu. Ketakutan yang ‘kalau-kalau’ aku tidak
mendapatkan apa yang aku inginkan, tepatnya suatu tempat baru yang aku
inginkan. Dan ketakutan itu menjadi kenyataan, I can’t get what I want.
Jadi, beberapa hari ini aku jadi
ingat beberapa orang yang pernah ada di hidupku selama sembilan belas tahun
lebih ini. Orang yang secara takdir dipertemukan oleh-Nya kepadaku. Tentu
dengan banyak tujuan, dengan banyak pelajaran, dengan banyak kenangan. Ya,
orang-orang yang tanpa sadar aku butuhkan di saat yang baik.
Ingat mereka, ada yang membuat
ingin melupakan, ingin dibuang, dan membuat perasaan itu benci. Tapi ada yang
sebaliknya juga, pengen kembali lagi, pengen ketemu lagi, rasanya seneng kalo
ingat. Yap, setiap orang butuh kenangan, seburuk atau seindah apa pun itu.
Ada dua kategori utama untuk
orang-orang ini menurut jangka waktu, yaitu : orang yang lewat dan orang yang
tinggal.
Orang yang lewat, aku maksud
adalah orang yang hanya singgah beberapa pekan untuk sekedar mampir ke
kehidupan kita. Dalam jangka waktu yang relatif sangat singkat.
Contohnya seperti orang yang
bertemu dengan kita dalam nasib yang sama. Orang Indonesia itu ramah, dan kalau
pun nggak kenal, pasti diajak ngobrol aja, apalagi kalo lagi menjalani nasib
sama. Realnya, pas antri tiket kereta mungkin, karena saking panjangnya antrian
dan saking bosennya. Akhirnya kita tengak-tengok dan bezzzt! Ketemu orang yang
berjarak dekat dengan kita yang tanpa sengaja bertemu pandang. Pertama pasti
saling senyum doang, terus noleh senyum lagi, terus noleh senyum lagi, dan
akhirnya bertanya dengan pertanyaan umum yang tidak menyinggung kepentingan
pribadi. Contohnya kalo lagi antri tiket, “antrinya lama ya, pesan tiket mau
kemana, mba?”. Dan perbincangan akan berlanjut ke pertanyaan lain, seperti,
rumahnya mana, pesan tiket berapa, buat siapa saja, buat kapan dan lain-lain.
Kalo dilihat, perbincangan seperti ini sering terjadi pada sesama gender,dan
paling sering sih lihat antar ibu-ibu. Itu tadi contoh untuk orang yang
benar-benar mampir doang, kalo pembicaraan tadi nyambung, bisa saja berlanjut.
Dan contoh yang lain, aku mau
cerita yang nyata, yang aku jalani sendiri. Bulan Maret atau April 2012
kemarin, aku menjalani kursus TOEFL di lembaga yang terkenal di Indonesia. Aku
les di situ untuk hari selasa dan kamis jam setengah tujuh hingga kurang lebih
jam sembilan. Bertemu orang, tentulah. Kurang lebih satu kelas ada 15 siswa.
Dan yang paling termuda adalah saya, saudara-saudara, itu saja saya sadari
setelah beberapa pertemuan menjalani kursus itu.
Hari pertama masuk ke kelas itu,
saya berkenalan dengan Mba Ade yang asalnya dari luar Purwokerto. Perempuan
yang aku lihat cuek, tapi ternyata enak buat ngobrol dan asik. Aku ingat dia
pake kerudung oranye pas itu. Aku masih ingat, ketika ditanya contact person
kecuali dia yang bisa dihubungi, dia memberikan nomor handphone dari ayah pacarnya.
Tapi Mba Ade hanya bisa bertahan
2-3 kali pertemuan saudara-saudara, dan pertemuan hidup antara saya dan dia
hanya cukup sekian segitu saja.
Pada pertemuan kedua, aku sudah
akrab dengan beberapa teman di kelas itu walaupun belum banyak. Aku kenal dengan
perempuan unik, cantik, dan supel. Dia Mba Fina. Aku kira dia mungkin seumuran
atau tua hanya beberapa tahun di atasku. Ternyata dia mau wisuda -..-
Dia rajin masuk kursus, dia
berpenampilan modis muslimah, dan khas dengan riasan pipi tembemnya. Dia orang
Purwokerto asli. Aku sering duduk bersebelahan dengannya, saling tukar pikir,
atau bergurau dengan saling meledek. Ya, dia sama seperti aku kadang seperti
anak kecil. Membuat Miss Sulis geleng-geleng kepala.
Pertemuan terakhirku dengannya,
sepulang kursus dia mengajak minum susu di depan kampusnya, universitas nomor
satu (mungkin) di Purwokerto. Di warung pinggir jalan itu aku banyak cerita,
cerita banyak hal, bahkan membicarakan laki-laki mana yang paling cakep di
kelas kursus, aku dan Mba Fina punya selera yang berbeda ternyata. Sebelum
pulang, sempat berdebat aku dengannya, karena dia ngotot ingin membelikan aku
susu yang aku minum tadi. Dan dia akhirnya menang, dia yang membayar, tetapi
dengan syarat aku harus mendoakannya agar ia lekas mendapatkan pekerjaan di
bursa kerja, di salah satu universitas Yogayakarta yang akan dia datangi. Dan
aku mendoakannya, walaupun pada akhirnya aku tidak bisa bertemud dengannya
setelah itu. Keep n’ touch, in social media sometimes.
That’s my memories. Dia orang
yang lewat mungkin, bukan dalam arti kasar. Karena aku belajar cukup banyak
darinya, dengan mendengarkan dia, dari memahami perasaannya saat tes TOEFL di
universitasnya, dari apa pun yang ia ceritakan. Ya, Allah SWT mempertemukan aku
dengannya untuk mempelajari sesuatu darinya.
Dan kategori kedua adalah Orang
yang tinggal. Siapa lagi contohnya kalau bukan Orang tua, saudara, dan keluarga
besar kita sendiri. Sadar tidak sadar, dan suka harus suka, orang yang akan
berhubungan dengan kita, membantu kita, mengerti keadaan lahir batin kita,
adalah orang tua dan sanak saudara kita. Siapa lagi?
Orang tua kita adalah orang yang
paling berpengaruh, mereka membesarkan kita, mendewasakan kita, mengajari kita,
memberi kita makanan, memberi kita asuhan, memberi kita apa yang kita butuhkan
di usia kita, memberikan perlengkapan kita, membayarkan pendidikan kita,
mengerti keadaan kita lahir dan batin, memberikan apa yang kita inginkan,
menasihati kita ketika salah, memarahi kita karena ingin memberikan pengarahan
(walau dengan marah, itu menunjukkan mereka kecewa atau karena sekedar kita
susah untuk dikompromi), banyak yang kadang lupa untuk diperhitungkan seberapa
banya mereka member pada kita. Jadi apa balasan kita? *koreksi diri*
Orang yang tinggal, bisa saja
mereka bukan dari kalangan sedarah kita, tetapi mereka secara batin, menyatu
dengan kita. Contohnya saja, sahabat. Orang yang dekat dengan kita, mengerti
every single things in our mind, our feels, our character.
Dan ada saatnya nanti, akan ada
seseorang yang akan mendampingi, mengayomi, melindungi, dan menjadi separuh
dari hidup kita. Itu adalah pasangan hidup kita kelak, asik. Hahaha hush! masih
sembilan belas tahun, hehe, sukses dulu (^.^)9
Jadi, Anda bisa putuskan, Anda
ingin ‘hanya mampir’ ke kehidupan sesorang atau ‘tinggal’, itu pilihan Anda.
Anda tidak memilih pun itu sebuah pengambilan keputusan.
Kehidupan ini milik kamu. Kamu
harus berjuang di situ, kamu menggapai mimpimu, kamu gagal atau berhasil itu
apa yang kamu lakukan sekarang. Tapi, kamu harus ingat, ada orang di sekitarmu
yang ‘melihat’ kamu, dan kamu tahu, kamu harus ‘melihat’ mereka juga. – Ating
Tidak ada komentar:
Posting Komentar