Tanggal tujuh juli kemaren
pengumuman tes nasional buat masuk perguruan tinggi negeri. Bagaimana hasilnya?
Alhamdulillah saya diterima, walaupun bukan di universitas impian. Jadi,
Alhamdulillah.
Perasaan nyesel sama diri sendiri
karena usaha masih biasa aja, pasti ada dan bikin bersyukurnya tanggung.
Astaghfirullah. Temen-temen ada yang ngehibur, tapi nyesel ke diri sendiri itu
masih ada. Mengutuki diri sendiri buat jadi cambuk ke depan.
Dan karena hasrat ke rental CD
belum kesampaian, karena irit dan males, jadi saya menonton film seadaanya aja
di laptop. Film yang setidaknya pernah saya tonton satu kali, kalo suka banget
ya dua kali, hahaha. Dan pilihan film untuk saya tonton lagi adalah film yang
berjudul Goodbye Bafana.
---
South Africa 1968
Twenty millions are
ruled by a minority of four millions Whites under the brutal Apartheid regime.
Blacks have no vote,
no land rights, no freedom of movement, or equality opportunity of housing,
employment or education.
Determine to retain
power, the government bans all opposition organizations, forcing their leaders
into exile or improsioning them,some for life, in Robben Island.
James Gregory (Joseph Fiennes) seorang
sipir kulit putih yang dipindahkan ke Robben Island bersama keluarganya tidak
menyangka bahwa kepindahannya yang sekaligus kenaikan pangkatnya disebabkan
karena ia menguasai bahasa Xhosa, bahasa yang digunakan Nelson Mandela (Dennis
Haysbert) dan rekannya untuk berkomunikasi, bahasa yang ia pelajari karena dia
bergaul dengan anak kulit hitam bernama Bafana yang tinggal di sekitar rumahnya
saat ia masih kecil. Sebuah kehidupan baru yang dia tidak kira berhubungan
langsung dengan Nelson Mandela, seorang pemimpin di Afrika Selatan yang
dipenjara. Perjalanan hidupnya yang cukup berpengaruh di perjalanan perjuangan
Nelson Mandela sebagai seorang kulit hitam penghapus rezim Apartheid, rezim
dimana warga kulit hitam dan kulit putih tidak saling berbaur.
James Gregory mencapai posisi
sebagai Kepala Kantor Sensor, kantor yang masih satu kompleks di LP sebagai
penyortir surat yang keluar masuk untuk para tahanan. James menyeleksi
surat-surat yang membahas pergerakkan Nelson dengan ANC (organisasi kulit
hitam) yang menggunakan bahasa Xhosa. Itu sebuah awal kehidupan dia dan
keluarganya yang akan naik-turun.
---
Joseph Fiennes as James Gregory
Joseph Fiennes as James Gregory
Dennis Haysbert
Kalo ada kutipan yang klise, “Hidup adalah perjuangan tanpa henti”, film ini mewakili. Perjuangan Nelson Mandela dan rekannya dalam memperjuangkan persamaan hak antara kulit hitam (negro) dan kulit putih, bener-bener nggak gampang. Kehidupan kulit hitam bener-bener miris hak, pemimpinnya di penjara atau diasingkan, bom dimana-dimana, senjata terpasang untuk menghindari pergerakkan kulit hitam.
Di film itu yang aku tangkap, mind set dari orang kulit putih adalah menganggap para kulit hitam itu sebagai teroris. Meneror orang kulit putih, mencoba menguasai puncak kekuasaan di Afrika Selatan dan pada akhirnya memusnahkan kulit putih. Padahal yang diinginkan oleh Nelson Mandela dengan rekannya hanyalah persamaan hak dan kehidupan yang saling bedampingan dengan damai.
Great Person, Nelson Mandela
---
Aku suka kata-kata dari Nelson
Mandela (Dennis Haysbert) saat anak laki-laki dari James Gregory meninggal
karena kecelakaan :
“Jangan biarkan rasa
bersalah atau kepedihan membayangi jalanmu ke depan.”
Yah, kata-kata sederhana yang
intinya ‘move on’. Toh udah takdir, udah hasil, udah kejadian, dan Allah SWT
pasti punya ketentuan yang memang sudah ditentukan dari-Nya. Jadi penyesalan
itu sebenernya agak ‘nggak penting’, yang penting kita bisa belajar dari
kesalahan masa lalu. kalo penyesalan ada di awal, namanya bukan penyesalan.
So, aku juga suka kata-katanya
James Gregory saat dia berembug dengan istrinya karena dia ingin perubahan
hidup dengan menjaga Nelson Mandela untuk kedua kalinya, yaitu :
“Ini bisa jadi catatan
sejarah dan aku mau menjadi bagian darinya.”
Move on (^.^)9 and Stand strong!




Tidak ada komentar:
Posting Komentar