Rabu, 11 Juli 2012

Goodbye Bafana

Tanggal tujuh juli kemaren pengumuman tes nasional buat masuk perguruan tinggi negeri. Bagaimana hasilnya? Alhamdulillah saya diterima, walaupun bukan di universitas impian. Jadi, Alhamdulillah.

Perasaan nyesel sama diri sendiri karena usaha masih biasa aja, pasti ada dan bikin bersyukurnya tanggung. Astaghfirullah. Temen-temen ada yang ngehibur, tapi nyesel ke diri sendiri itu masih ada. Mengutuki diri sendiri buat jadi cambuk ke depan.

Dan karena hasrat ke rental CD belum kesampaian, karena irit dan males, jadi saya menonton film seadaanya aja di laptop. Film yang setidaknya pernah saya tonton satu kali, kalo suka banget ya dua kali, hahaha. Dan pilihan film untuk saya tonton lagi adalah film yang berjudul Goodbye Bafana.


---
South Africa 1968

Twenty millions are ruled by a minority of four millions Whites under the brutal Apartheid regime.
Blacks have no vote, no land rights, no freedom of movement, or equality opportunity of housing, employment or education.
Determine to retain power, the government bans all opposition organizations, forcing their leaders into exile or improsioning them,some for life, in Robben Island.

James Gregory (Joseph Fiennes) seorang sipir kulit putih yang dipindahkan ke Robben Island bersama keluarganya tidak menyangka bahwa kepindahannya yang sekaligus kenaikan pangkatnya disebabkan karena ia menguasai bahasa Xhosa, bahasa yang digunakan Nelson Mandela (Dennis Haysbert) dan rekannya untuk berkomunikasi, bahasa yang ia pelajari karena dia bergaul dengan anak kulit hitam bernama Bafana yang tinggal di sekitar rumahnya saat ia masih kecil. Sebuah kehidupan baru yang dia tidak kira berhubungan langsung dengan Nelson Mandela, seorang pemimpin di Afrika Selatan yang dipenjara. Perjalanan hidupnya yang cukup berpengaruh di perjalanan perjuangan Nelson Mandela sebagai seorang kulit hitam penghapus rezim Apartheid, rezim dimana warga kulit hitam dan kulit putih tidak saling berbaur.

James Gregory mencapai posisi sebagai Kepala Kantor Sensor, kantor yang masih satu kompleks di LP sebagai penyortir surat yang keluar masuk untuk para tahanan. James menyeleksi surat-surat yang membahas pergerakkan Nelson dengan ANC (organisasi kulit hitam) yang menggunakan bahasa Xhosa. Itu sebuah awal kehidupan dia dan keluarganya yang akan naik-turun.
---
Joseph Fiennes as James Gregory

 
Dennis Haysbert

Kalo ada kutipan yang klise, “Hidup adalah perjuangan tanpa henti”, film ini mewakili. Perjuangan Nelson Mandela dan rekannya dalam memperjuangkan persamaan hak antara kulit hitam (negro) dan kulit putih, bener-bener nggak gampang. Kehidupan kulit hitam bener-bener miris hak, pemimpinnya di penjara atau diasingkan, bom dimana-dimana, senjata terpasang untuk menghindari pergerakkan kulit hitam.

Di film itu yang aku tangkap, mind set dari orang kulit putih adalah menganggap para kulit hitam itu sebagai teroris. Meneror orang kulit putih, mencoba menguasai puncak kekuasaan di Afrika Selatan dan pada akhirnya memusnahkan kulit putih. Padahal yang diinginkan oleh Nelson Mandela dengan rekannya hanyalah persamaan hak dan kehidupan yang saling bedampingan dengan damai.


Great Person, Nelson Mandela

---

Aku suka kata-kata dari Nelson Mandela (Dennis Haysbert) saat anak laki-laki dari James Gregory meninggal karena kecelakaan :

“Jangan biarkan rasa bersalah atau kepedihan membayangi jalanmu ke depan.”

Yah, kata-kata sederhana yang intinya ‘move on’. Toh udah takdir, udah hasil, udah kejadian, dan Allah SWT pasti punya ketentuan yang memang sudah ditentukan dari-Nya. Jadi penyesalan itu sebenernya agak ‘nggak penting’, yang penting kita bisa belajar dari kesalahan masa lalu. kalo penyesalan ada di awal, namanya bukan penyesalan.

So, aku juga suka kata-katanya James Gregory saat dia berembug dengan istrinya karena dia ingin perubahan hidup dengan menjaga Nelson Mandela untuk kedua kalinya, yaitu :

“Ini bisa jadi catatan sejarah dan aku mau menjadi bagian darinya.”

Move on (^.^)9 and Stand strong!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar