Kamis, 19 Juli 2012

Ya, Aku Manusia Setengah Salmon #3


Manusia Setengah Salmon
Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti…

Perpindahan pasti memang bakal terjadi, tapi sebagai manusia, kita bahkan tidak menyangka sebelumnya, kapan akan terjadi perpindahan itu. 

Ya, sudah disangka, perpindahan itu ada yang ditinggalkan dan yang didatangi. Meninggalkan sesuatu yang dipaksa atau tidak, berbekas atau tidak, senang atau sedih, entah pahit, masam, manis, semua itu ditinggalkan dan diambil pembelajarannya. Dan mendatangi sesuatu yang baru, sesuatu yang misterius yang di dalamnya entah bagus, jelek, mengejutkan, atau menakutkan. Semua itu tergantung kita, pembawaan dan adaptasi.

Pembawaan dan adaptasi, itu berkaitan cukup erat dengan istilah sekarang, yaitu Move On

Move On itu kadang susah, kadang gampang. Susah kalo yang ditinggalkan itu ‘nyesek’, gampang kalo ‘biasa saja’. Kalo yang ‘biasa saja’, kita bakal dengan senang hati dan membuka hati lebar-lebar. Tapi kalo sesuatu yang ‘nyesek’ akan dihantui masa lalu, masa kenangan manis ‘tempat’ yang ditinggalkan, dan berimbas pada pembawaan yang akan menutup diri atau hati. Contohnya, ketika kamu pindah ke rumah baru, kamu akan merasa rumah itu kurang nyaman dan selalu membandingkan dengan rumah lama yang ditinggalkan. Dan contoh lainnya, masalah hati, ketika hati masih memikirkan kenangan lama dan orang yang lama, apa yang akan hati perbuat? Segala kesempatan akan terbuang. Segala macam orang (tentunya yang lawan jenis, kalau Anda penyuka sesama jenis, terserah anggapan Anda saja) yang akan mendekati dan mencoba untuk lebih tahu tentang Anda, akan Anda bandingkan dengan orang lama. Dan apa yang Anda lakukan? Anda tidak akan membuka hati. *kayak ngomong ke diri sendiri*

Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Kita sering berpikir ini adalah perpisahan sehingga merasa sedih melepas hal-hal yang diakrabi, hal-hal yang selama ini membuat kita senang dan nyaman. Akhirnya, melakukan perpindahan ke tempat baru membuat kita dihantui rasa cemas. Apakah akan sama enaknya? Apakah akan sama menyenangkan? Apakah akan lebih baik?

Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih kita tak bias hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehiupan lebih baik yang bias didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

Anda harus tahu, bahwa Anda, harus pindah. Harus.

Intinya begini : setiap tahunnya ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa spesies, seperti Snake River Salmon bahkan berenang sepanjang 1448 kilometer lebih, dua kali lipat jarak Jakarta-Surabaya. Gue baru berenang satu meter saja sudah mengambang.

Perjalanan salmon-salmon ini tidak gampang.

Di tengah berenang, banyak yang mati kelelahan. Banyak juga yang menjadi santapan beruang yang menunggu di daerah-daerah dangkal. Namun, salmon-salmon ini tetap pergi, tetap pindah, apa pun yang terjadi.

Jadi, mau kalahkah Anda dengan Salmon? Untuk Anda (dan Saya), Move On (^.^)9

Saya kenal seorang perempuan, dia itu gokil walau kadang menyebalkan, baik walau kadang kurang peka, cantik walau kadang dia tidak tahu, dan dia sangat pandai merangkai kata daripada merangkai nada. *peace!

Saya mengatakan ini kepada dia ketika saya (di dalam hati, dalam diri saya sendiri) mengutuki diri sendiri dan sangat miskin mengatakan syukur, “Do you have some tips for meet ‘reality’(when your dreams, plans not to be come true)?” 

Dan dengan rangkaian kata-katanya lewat pesan, dia menjawab,”ya mungkin itu tujuannya kita punya banyak mimpi, jadi nanti kalo satu keinginan belum tercapai, masih ada keinginan lain yang belum tercapai hahaha. Cuman manusia yang emang gampang ngeluh, kalo ada satu keinginan nggak tercapai, they thinks that the world is over. Seolah-olah nggak ada kenikmatan lain yang disediain Tuhan di dunia buat dia.”

Saya diam untuk beberapa saat, mengahayati every piece her words. Dan saya bersyukur. 

Mungkin gue hanya perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil di antara semua perpindahan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar