Tingkat kebosanan tertentu
adalah… penting sekali bagai kehidupan yang bahagia – Betrand Russell
Swiss. Negara dengan 26 canton
(semacam negara bagian, kayaknya) yang dikelilingi dengan Jerman, Perancis, Italia, Liechtenstein dan Austria, dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari pegunungan Alpen. Dengan ibukota Bern, tetapi punya kota Zurich yang
pernah dapet penghargaan dunia sebagai kota yang punya kualitas hidup terbaik dan kota Jenewa yang
dijadikan tempat kantor-kantor internasional karena Swiss negara damai yang
tidak pernah perang sejak 1815. Dan Swiss berbentuk
konfederasi dengan empat bahasa resmi, yaitu Italia, Jerman, Perancis, dan Romansh. sumber : klik di sini.
Kebersihan Yang Berbanding Lurus
Dengan Gila Peraturan
Salah satu faktor penunjang
kebahagiaan Swiss adalah kebersihan. Tempat bakal nyaman juga kalo tempat yang buat
nongkrong, buat nunggu, buat pacaran, buat belajar bareng, apalagi buat makan
itu indah dan bersih. Saking bersihnya di Swiss, toilet umum di stasiun paling
kecilnya pun bersih. Dan jalan-jalannya pun tanpa noda. Apalagi di Zurich, hm bangga banget warga Zurich
pamer minum pake air keran, tau air keran kan? Iya yang kita pake buat wudhu.
Hehe.
Gila bersih, condong ke super
disiplin yang berhubungan langsung dengan peraturan yang ketat. Di banyak bagian Swiss, ada peraturan tidak
boleh memotong rumput halaman atau sekedar mengibaskan karpet pada hari Minggu.
Kamu nggak boleh menggantungkan cucian di balkon rumah pada hari apa saja. Atau
dilarang menyiram toilet diatas pukul 10. See?
Kesadaran buat patuh dengan
peraturan sama dengan kesadaran kebersihan. Pola pikir yang keren diatur dengan
efisien dan mungkin kata-kata yang pantas adalah ‘sempurna’. Mungkin memang
secara ‘gen’ mereka seperti itu, kebersihan dan peraturan yang supernanny.
Salut.
Humor Macam Opoh?!
Selera humor orang berbeda,
apalagi lintas negara. Kita bisa aja ketawa dengan tingkah Sule dkk yang
jempalitan, yang akan sukses membuat masyarakat Indonesia ketawa, tapi gimana
dengan Swiss?
“Tidak adanya selera humor pada
orang Swiss punya sejarah yang panjang dan serius. Seorang akademisi mengatakan
kepada saya bahwa pada abad ketujuh belas di Basel sebenarnya ada larangan
tertawa di depan umum. Tentu saja saat ini tidak ada lagi larangan itu karena
larangan itu tidak diperlukan. Tidak adanya selera humor pada orang Swiss,
seperti halnya sebagian aspek kehidupan di sini, diatur sendiri oleh orang
Swiss.”
“Tinggalkan mobil kotor Anda di
Swiss dan seseorang akan menempelkan catatan kecil di mobil Anda yang berbunyi
‘Harap cuci mobil Anda’ bukan tanda ‘Cuci aku’ yang lucu yang mungkin dicoret
seorang Amerika di mobil Anda. Orang Swiss, karena tidak mempunyai arti ironi
yang dapat diketahui, bermaksud serius dengan apa yang mereka ucapkan.”
Jadi, humor Swiss mungkin hanya
dapat dicerna oleh orang Swiss. Hm, penasaran sama komedi di sana, apakah di
sana ada acara komedi kayak OVJ? Kalo ada, hm, gimana? *tunggu rezeki buat ke
Swiss *
Efisiennya Swiss
Efisien di Swiss itu tepat waktu,
fungsional, dan tahu pilihan.
Kalo kamu dah hafal jadwal kereta
Swiss, berasa nggak perlu repot-repot pake jam tangan karena semua tepat waktu,
kali ini dengan artian yang utuh, ya, tepat waktu yang itu.
“Kereta saya terlambat delapan
belas menit, menyebabkan kegemparan massa di Basel, kota perbatasan tempat saya
seharusnya ganti kereta menuju Jenewa. Jadwal menjadi kacau. Para penumpang,
termasuk saya sendiri, berebutan turun dari kereta Jerman yang sedikit
terlambat dan berlari mengejar kereta Swiss yang benar-benar tepat waktu.
Mengagumkan, pikir saya, sambil terengah-engah naik tangga kereta, hanya Swiss
yang dapat membuat Jerman kelihatan
kedodoran.”
Tapi pernah juga jadwal telat 20
menit, dan semua orang khawatir. Dan pernah juga ada kerusakan sistem kereta
selama 18 jam. So, no country’s perfect.
Fungsional sendiri kayaknya udah
otomatis kepasang di diri para warga Swiss, mereka pasti memanfaatkan sesuatu
punya mereka dengan baik. Tidak ada lubang di Swiss, semua berfungsi. Salah
satu X-factor kebahagiaan.
Swiss setidaknya melakukan 6-7
kali pemungutan suara untuk menentukan sesuatu masalah. Apakah bergabung dengan
PBB, atau apakah melarang minuman keras, bahkan pemilihan untuk meningkatkan
pajak mereka, wew. Sangat demokratis, right?
Walaupun gitu, mereka tetep
efisien. Ya, lagi dan lagi.
“… menjelaskan hasil eksperimen
kecil yang dilakukan oleh psikolog Paul Rozin dari University of Pennysylvania. Dia mengajukan
pertanyaan sederhanakepada berbagai jenis orang dari enam negara (Amerika
Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Swiss) : Bayangkan Anda seperti
makan es krim dan Anda mempunyai pilihan di antara dua kedai es krim. Satu
kedai menawarkan pilihan sepuluh rasa. Yang lainnya menawarkan pilihan lima
puluh rasa. Kedai es krim mana yang Anda pilih?
Hanya di satu negara, yaitu AS
yang memilih lima puluh rasa pilihan. Orang Swiss berada di ujung lain, hanya
28 persen yang lebih menyukai kedai es krim yang mempunyai lebih banyak
pilihan. Pilihan berwujud menjadi kebahagiaan hanya apabila pilihan tentang
perkara penting. Memberikan suara itu penting. Es krim penting juga, tetapi
lima puluh rasa itu tidak penting.”
Hahaha, efisien. *thumbs up!
Legal?
Menurut grafik kebahagiaan, Swiss
punya angka yang tinggi dalam kebahagiaan. Mengapa orang Swiss begitu bahagia?
““Karena kami tahu kami selalu
dapat bunuh diri,” dia berkata sambil tertawa, tetapi dia tidak sedang
bercanda. Swiss mempunyai salah satu undang-undang euthanasia paling liberal di
dunia. Orang melakukan perjalanan dari segala penjuru Eropa untuk mati di
sini.”
Ya, bunuh diri di Swiss is LEGAL.
Swiss mempunyai angka kematian dengan cara bunuh diri yang tinggi.
Attitude in Swiss
Di Indonesia kita sering ketemu
sama orang ramah yang senyum walaupun nggak kenal, dan setelah kita hanya
berkontak ‘senyum’ itu bisa saja dilanjutkan dengan perbincangan umum yang
tidak condong ke arah pembicaraan pribadi. Contohnya aja, kita lagi di kereta,
pasti pertanyaan klise orang yang (terlebih dulu berkontak) senyum kepada kita
itu adalah, tujuan kita. Secara otomatis, bila kita akan mendekati tujuan kita,
maka orang-yang-senyum-dan-menanyakan-tujuan-kita akan mengingatkan kita, tentu
dengan senang hati. Tetapi di Swiss, tidak akan ada orang yang dengan senang
hati mengingatkan kita, bukannya jahat. Tetapi menurut orang Swiss, pemberian
informasi seperti macam itu dianggap menghina karena mengasumsikan kebodohan di
pihak orang lain.
Sikap ‘baik’ yang juga keren,
orang Swiss itu anti-iri. Di Indonesia, x-faktor kemirisan kesenjangan sosial
adalah ‘Anda punya,pamerkan’. Tetapi kalo di Swiss, ‘Anda punya, sembunyikan’.
Warga Swiss paling nggak suka ngomongin duit, mereka seneng nggak di atas, tapi
nggak di bawah juga.
“Orang kaya Swiss, jelas Dieter
(teman penulis buku), tidak memamerkan uangnya karena memang tidak perlu.
Setiap orang tahu dia kaya, karena orang Swiss tahu semuanya tentang tetangga
mereka. Memang, jika ada orang kaya tiba-tiba memamerkan uangnya-membeli mobil
yang sangat mahal, misalnya-maka orang akan mencurigai ada sesuatu yang salah,
bahwa dia menghadapi seuatu kesulitan finansial.”
Perkara Korupsi di Swiss kayaknya
rendah deh. Hmm, contoh tuh.
Hubungan Kekerabatan antara Teori Relativitas dengan Kebosanan Swiss
Ilmuwan yang terkenal dengan pose
foto menjulurkan lidahnya dan tulisan ‘E = mc2’ di poster-poster. Katanya sih
Pak Albert berpose kayak gitu karena dia saat itu lagi jenuh dikejar media yang
buntutin terus, dan pas berfoto kayak gitu, di sebelahnya ada (entah) istrinya
atau anaknya (aku lupa). Tapi Pak Albert akhirnya motong foto itu dan seakan
dia sendiri. Oke bukan itu yang akan kita bahas.
Beliau pernah tinggal di Bern, Ibukota
Swiss. Rumahnya sekarang dibuat museum kecil yang dibuat semirip mungkin dengan
kehidupan Pak Albert Einstein yang punya pekerjaan sebagai karyawan bagian administrasi di kantor paten.
“Menurut Einstein, seperti saya
sendiri, Bern itu menyenangkan tetapi membosankan. Lalu saya bertanya-tanya :
seandainya orang Swiss lebih menarik, mungkinkah dia tidak akan pernah melamun
sebanyak yang dia lakukan? Mungkinkah dia tidak akan pernah menemukan Teori
Khusus Relativitas? Dengan kata lain, adakah sesuatu yang dapat dikatakan
mengenai kebosanan?”
The Conclusion about Swiss is..
Swiss membosankan? Bukan juga,
mereka punya suatu cara yang tenang untuk menjelaskan mereka bahagia. Bukan
dengan ‘tertawa terbahak’, dan istilah yang digunakan penulis adalah conjoyment
(penggabungan ‘contentment’ dan ‘joy’). Pengungkapan kebahagiaan yang nggak
lebay, tapi bahagia yang tenang. Setuju banget sama Pak Eric Weiner.
---
Enjoy. Moga bermanfaat ya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar