Senin, 02 Juli 2012

Swiss. Kebahagiaan adalah Kebosanan.


Tingkat kebosanan tertentu adalah… penting sekali bagai kehidupan yang bahagia Betrand Russell

Swiss. Negara dengan 26 canton (semacam negara bagian, kayaknya) yang dikelilingi dengan Jerman, Perancis, Italia, Liechtenstein dan Austria, dan sebagian besar wilayahnya terdiri dari pegunungan Alpen. Dengan ibukota Bern, tetapi punya kota Zurich yang pernah dapet penghargaan dunia sebagai kota yang punya kualitas hidup terbaik dan kota Jenewa yang dijadikan tempat kantor-kantor internasional karena Swiss negara damai yang tidak pernah perang sejak 1815. Dan Swiss berbentuk konfederasi dengan empat bahasa resmi, yaitu Italia, Jerman, Perancis, dan Romansh. sumber : klik di sini.

Kebersihan Yang Berbanding Lurus Dengan Gila Peraturan

Salah satu faktor penunjang kebahagiaan Swiss adalah kebersihan. Tempat bakal nyaman juga kalo tempat yang buat nongkrong, buat nunggu, buat pacaran, buat belajar bareng, apalagi buat makan itu indah dan bersih. Saking bersihnya di Swiss, toilet umum di stasiun paling kecilnya pun bersih. Dan jalan-jalannya pun tanpa noda. Apalagi  di Zurich, hm bangga banget warga Zurich pamer minum pake air keran, tau air keran kan? Iya yang kita pake buat wudhu. Hehe.

Gila bersih, condong ke super disiplin yang berhubungan langsung dengan peraturan yang ketat.  Di banyak bagian Swiss, ada peraturan tidak boleh memotong rumput halaman atau sekedar mengibaskan karpet pada hari Minggu. Kamu nggak boleh menggantungkan cucian di balkon rumah pada hari apa saja. Atau dilarang menyiram toilet diatas pukul 10. See?

Kesadaran buat patuh dengan peraturan sama dengan kesadaran kebersihan. Pola pikir yang keren diatur dengan efisien dan mungkin kata-kata yang pantas adalah ‘sempurna’. Mungkin memang secara ‘gen’ mereka seperti itu, kebersihan dan peraturan yang supernanny. Salut.

Humor Macam Opoh?!

Selera humor orang berbeda, apalagi lintas negara. Kita bisa aja ketawa dengan tingkah Sule dkk yang jempalitan, yang akan sukses membuat masyarakat Indonesia ketawa, tapi gimana dengan Swiss? 

“Tidak adanya selera humor pada orang Swiss punya sejarah yang panjang dan serius. Seorang akademisi mengatakan kepada saya bahwa pada abad ketujuh belas di Basel sebenarnya ada larangan tertawa di depan umum. Tentu saja saat ini tidak ada lagi larangan itu karena larangan itu tidak diperlukan. Tidak adanya selera humor pada orang Swiss, seperti halnya sebagian aspek kehidupan di sini, diatur sendiri oleh orang Swiss.”

“Tinggalkan mobil kotor Anda di Swiss dan seseorang akan menempelkan catatan kecil di mobil Anda yang berbunyi ‘Harap cuci mobil Anda’ bukan tanda ‘Cuci aku’ yang lucu yang mungkin dicoret seorang Amerika di mobil Anda. Orang Swiss, karena tidak mempunyai arti ironi yang dapat diketahui, bermaksud serius dengan apa yang mereka ucapkan.”

Jadi, humor Swiss mungkin hanya dapat dicerna oleh orang Swiss. Hm, penasaran sama komedi di sana, apakah di sana ada acara komedi kayak OVJ? Kalo ada, hm, gimana? *tunggu rezeki buat ke Swiss *

Efisiennya Swiss

Efisien di Swiss itu tepat waktu, fungsional, dan tahu pilihan.

Kalo kamu dah hafal jadwal kereta Swiss, berasa nggak perlu repot-repot pake jam tangan karena semua tepat waktu, kali ini dengan artian yang utuh, ya, tepat waktu yang itu.

“Kereta saya terlambat delapan belas menit, menyebabkan kegemparan massa di Basel, kota perbatasan tempat saya seharusnya ganti kereta menuju Jenewa. Jadwal menjadi kacau. Para penumpang, termasuk saya sendiri, berebutan turun dari kereta Jerman yang sedikit terlambat dan berlari mengejar kereta Swiss yang benar-benar tepat waktu. Mengagumkan, pikir saya, sambil terengah-engah naik tangga kereta, hanya Swiss yang dapat membuat Jerman  kelihatan kedodoran.”

Tapi pernah juga jadwal telat 20 menit, dan semua orang khawatir. Dan pernah juga ada kerusakan sistem kereta selama 18 jam. So, no country’s perfect.

Fungsional sendiri kayaknya udah otomatis kepasang di diri para warga Swiss, mereka pasti memanfaatkan sesuatu punya mereka dengan baik. Tidak ada lubang di Swiss, semua berfungsi. Salah satu X-factor kebahagiaan.

Swiss setidaknya melakukan 6-7 kali pemungutan suara untuk menentukan sesuatu masalah. Apakah bergabung dengan PBB, atau apakah melarang minuman keras, bahkan pemilihan untuk meningkatkan pajak mereka, wew. Sangat demokratis, right?

Walaupun gitu, mereka tetep efisien. Ya, lagi dan lagi.

“… menjelaskan hasil eksperimen kecil yang dilakukan oleh psikolog Paul Rozin dari University of              Pennysylvania. Dia mengajukan pertanyaan sederhanakepada berbagai jenis orang dari enam negara (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Swiss) : Bayangkan Anda seperti makan es krim dan Anda mempunyai pilihan di antara dua kedai es krim. Satu kedai menawarkan pilihan sepuluh rasa. Yang lainnya menawarkan pilihan lima puluh rasa. Kedai es krim mana yang Anda pilih?
Hanya di satu negara, yaitu AS yang memilih lima puluh rasa pilihan. Orang Swiss berada di ujung lain, hanya 28 persen yang lebih menyukai kedai es krim yang mempunyai lebih banyak pilihan. Pilihan berwujud menjadi kebahagiaan hanya apabila pilihan tentang perkara penting. Memberikan suara itu penting. Es krim penting juga, tetapi lima puluh rasa itu tidak penting.”

Hahaha, efisien. *thumbs up!

Legal?

Menurut grafik kebahagiaan, Swiss punya angka yang tinggi dalam kebahagiaan. Mengapa orang Swiss begitu bahagia?

““Karena kami tahu kami selalu dapat bunuh diri,” dia berkata sambil tertawa, tetapi dia tidak sedang bercanda. Swiss mempunyai salah satu undang-undang euthanasia paling liberal di dunia. Orang melakukan perjalanan dari segala penjuru Eropa untuk mati di sini.”

Ya, bunuh diri di Swiss is LEGAL. Swiss mempunyai angka kematian dengan cara bunuh diri yang tinggi.

Attitude in Swiss

Di Indonesia kita sering ketemu sama orang ramah yang senyum walaupun nggak kenal, dan setelah kita hanya berkontak ‘senyum’ itu bisa saja dilanjutkan dengan perbincangan umum yang tidak condong ke arah pembicaraan pribadi. Contohnya aja, kita lagi di kereta, pasti pertanyaan klise orang yang (terlebih dulu berkontak) senyum kepada kita itu adalah, tujuan kita. Secara otomatis, bila kita akan mendekati tujuan kita, maka orang-yang-senyum-dan-menanyakan-tujuan-kita akan mengingatkan kita, tentu dengan senang hati. Tetapi di Swiss, tidak akan ada orang yang dengan senang hati mengingatkan kita, bukannya jahat. Tetapi menurut orang Swiss, pemberian informasi seperti macam itu dianggap menghina karena mengasumsikan kebodohan di pihak orang lain.

Sikap ‘baik’ yang juga keren, orang Swiss itu anti-iri. Di Indonesia, x-faktor kemirisan kesenjangan sosial adalah ‘Anda punya,pamerkan’. Tetapi kalo di Swiss, ‘Anda punya, sembunyikan’. Warga Swiss paling nggak suka ngomongin duit, mereka seneng nggak di atas, tapi nggak di bawah juga. 

“Orang kaya Swiss, jelas Dieter (teman penulis buku), tidak memamerkan uangnya karena memang tidak perlu. Setiap orang tahu dia kaya, karena orang Swiss tahu semuanya tentang tetangga mereka. Memang, jika ada orang kaya tiba-tiba memamerkan uangnya-membeli mobil yang sangat mahal, misalnya-maka orang akan mencurigai ada sesuatu yang salah, bahwa dia menghadapi seuatu kesulitan finansial.”

Perkara Korupsi di Swiss kayaknya rendah deh. Hmm, contoh tuh.

Hubungan Kekerabatan antara Teori Relativitas dengan Kebosanan Swiss

Ilmuwan yang terkenal dengan pose foto menjulurkan lidahnya dan tulisan ‘E = mc2’ di poster-poster. Katanya sih Pak Albert berpose kayak gitu karena dia saat itu lagi jenuh dikejar media yang buntutin terus, dan pas berfoto kayak gitu, di sebelahnya ada (entah) istrinya atau anaknya (aku lupa). Tapi Pak Albert akhirnya motong foto itu dan seakan dia sendiri. Oke bukan itu yang akan kita bahas.

Beliau pernah tinggal di Bern, Ibukota Swiss. Rumahnya sekarang dibuat museum kecil yang dibuat semirip mungkin dengan kehidupan Pak Albert Einstein yang punya pekerjaan sebagai karyawan  bagian administrasi di kantor paten.

“Menurut Einstein, seperti saya sendiri, Bern itu menyenangkan tetapi membosankan. Lalu saya bertanya-tanya : seandainya orang Swiss lebih menarik, mungkinkah dia tidak akan pernah melamun sebanyak yang dia lakukan? Mungkinkah dia tidak akan pernah menemukan Teori Khusus Relativitas? Dengan kata lain, adakah sesuatu yang dapat dikatakan mengenai kebosanan?”

The Conclusion about Swiss is..

Swiss membosankan? Bukan juga, mereka punya suatu cara yang tenang untuk menjelaskan mereka bahagia. Bukan dengan ‘tertawa terbahak’, dan istilah yang digunakan penulis adalah conjoyment (penggabungan ‘contentment’ dan ‘joy’). Pengungkapan kebahagiaan yang nggak lebay, tapi bahagia yang tenang. Setuju banget sama Pak Eric Weiner.
 ---
Enjoy. Moga bermanfaat ya!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar