Kamis, 19 Juli 2012

Ya, Aku Manusia Setengah Salmon #1


Sepotong Hati di Dalam Kardus Cokelat
“…Ada perasaaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah. Keduanya sama-sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan diri kita. Keduanya sama-sama memaksa kita untuk mengingat-ingat kenangan yang ada sebelumnya, disadari atau tidak. Dipaksa atau tidak.

Aku pindah rumah sudah tiga kali selama 19 tahun 2 bulan 2 hari ini. Kepindahan terjauh adalah kepindahan pertama kaliku dari Semarang ke Purwokerto, yang kedua dan ketiga masih di daerah Purwokerto aja. Mungkin kepindahan yang keempat tidak lama lagi.

Yang pertama, yang paling berkesan. Yep, kepindahan pertamaku saat aku memasuki semester pertama kelas enam di SD Bulustalan 2 (yang dulu sempat bernama SD Simongan). Berita kepindahanku justru mendadak saat diberitahukan ke sekolah, sehari kepindahanku langsung  jadi, langsung cusss ke Purwokerto. Saat itu tanggal 1 September 2004, saat itu ulangan matematika.

I was a child who still 6 grade. Jadi kenangan masa SD sekarang agak lupa, masih ingat teman-teman yang dekat bahkan nama panjangnya tapiii banyak yang lupa. Yang jelas, aku tidak akan lupa dengan guru kelas enam yang baru aku kenal kurang-lebih dua bulan itu. A Teacher who has hard personality, if I know Komnas Perlindungan Anak, I’ll report him.

Baru kepindahan aku yang kedua dan ketiga, aku berberes sendiri. Aku membersihkan yang menurutku penting atau tidak penting. Banyak pieces yang ketika aku lihat, buat aku jadi tambah dewasa.

Buku diary. Pertama kali aku menulis diary adalah kelas satu SMP, hadiah dari gonzam. Dari situ aku secara teratur aku menulis diary, nulis apa aja. Ternyata banget aku nulis tentang kegalauan anak SMP, yang naksir ini, suka itu, sedih karena nggak dilihat. Ngakak, padahal isi tulisannya lagi sendu. Tullisan yang masih segede gajah, nulis puisi segala, nulis dengan bahasa yang nggak banget. Ternyata, dulu aku alay.

Buku diaryku udah ketiga ini, walaupun yang ketiga semakin jarang aku tulis. Semakin dewasa, apakah berbanding lurus dengan tingkat ketidak-alayan yang menyebabkan seseorang tidak berminat lagi menulis diary? Who knows.

Baca buku diary toh banyak banget manfaatnya. Aku jadi ngerti untuk menjadi lebih dewasa menyikapi sesuatu, walaupun kadang aku masih kayak anak kecil dan sering emosian, padahal udah 19 tahun. Jadi tahu, ternyata perbuatanku dulu yang kayak gitu nggak baik, harusnya aku dulu begini. Intinya, bikin solusi dari permasalahan sendiri walaupun kurun waktunya dah beda. Dan buku diary itu semacam catatan perjalanan hidup, mungkin yang benar-benar serius dan nggak alay itu masa-masa SMA. Anak SMA kan bahasanya dah dewasa dan biasanya pemikirannya mengacu ke masa depan. Seperti aku besok mau ngapain aja, punya rencana apa setelah lulus, harus sudah bisa apa untuk kedepan, pemikiran masa depan untuk punya kehidupan yang bagus, yang dilakukan sesuai kecintaan tentunya. Kalo SMA Anda masih alay… itu bukan salah saya.

Nah, point paling vital, buku diary bukan berarti cuma punya perempuan, laki-laki juga boleh punya. Tapi, namanya mungkin jangan buku diary, ntar dikira melambai, hhaha, bilang aja itu buku agenda.

Buku diaryku beralih fungsi, dulu sering sebagai curahan hati. Tapi usia sudah menua dengan baik begini sekarang berfungsi jadi selain sebagai tempat curahan hati, sebagai motivator, sebagai manajer (mengingatkan aku mau ngapain aja besok, dan target-target nyata kedepan mau ngapain) dan sebagai catatan kesalahan-kesalahan hari ini. Kamu bisa pake buku agenda itu sebagai apa pun yang kamu pengin.

Hal di atas aku kasih tahu juga ke Ulfi, tapi kayaknya gagal :3

Kepindahan itu seperti meninggalkan sesuatu. Setidaknya ada saja perasaan sedih. Tapi kita harus pindah, harus. Dipaksa atau tidak.

Kepindahan itu biasanya membuat suatu kerinduan masa lalu. Setidaknya kita pasti mengingat kenangan dahulu, entah pahit atau berharga. Tapi kita harus berjalan maju, harus. Dipaksa atau tidak.

Kepindahan itu membuat kita memisahkan yang penting dan tidak penting. Setidaknya walau pun itu sulit. Tapi kita harus menjadi filter untuk tidak mengulangi sesuatu yang tidak penting untuk kedepan, harus. Dipaksa atau tidak.

Gue berhenti melamun, melanjutkan memasukkan buku ke kardus. Lalu gue melihat Nyokap, mengangguk pelan. Kardus terakhir gue tutup dengan lakban, lalu gue angkat untuk bergabung dengan yang lainnya. Sambil berharap, tidak ada yang tertinggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar