Sepotong Hati di Dalam Kardus
Cokelat
“…Ada perasaaan yang sama antara sehabis putus dengan pindah rumah.
Keduanya sama-sama harus meninggalkan sesuatu yang akrab dengan diri kita.
Keduanya sama-sama memaksa kita untuk mengingat-ingat kenangan yang ada
sebelumnya, disadari atau tidak. Dipaksa atau tidak.”
Aku pindah rumah sudah tiga kali
selama 19 tahun 2 bulan 2 hari ini. Kepindahan terjauh adalah kepindahan
pertama kaliku dari Semarang ke Purwokerto, yang kedua dan ketiga masih di
daerah Purwokerto aja. Mungkin kepindahan yang keempat tidak lama lagi.
Yang pertama, yang paling
berkesan. Yep, kepindahan pertamaku saat aku memasuki semester pertama kelas
enam di SD Bulustalan 2 (yang dulu sempat bernama SD Simongan). Berita
kepindahanku justru mendadak saat diberitahukan ke sekolah, sehari kepindahanku
langsung jadi, langsung cusss ke
Purwokerto. Saat itu tanggal 1 September 2004, saat itu ulangan matematika.
I was a child who still 6 grade. Jadi kenangan masa SD sekarang
agak lupa, masih ingat teman-teman yang dekat bahkan nama panjangnya tapiii
banyak yang lupa. Yang jelas, aku tidak akan lupa dengan guru kelas enam yang
baru aku kenal kurang-lebih dua bulan itu. A
Teacher who has hard personality, if I know Komnas Perlindungan Anak, I’ll
report him.
Baru kepindahan aku yang kedua
dan ketiga, aku berberes sendiri. Aku membersihkan yang menurutku penting atau
tidak penting. Banyak pieces yang
ketika aku lihat, buat aku jadi tambah dewasa.
Buku diary. Pertama kali aku
menulis diary adalah kelas satu SMP, hadiah dari gonzam. Dari situ aku secara
teratur aku menulis diary, nulis apa aja. Ternyata banget aku nulis tentang
kegalauan anak SMP, yang naksir ini, suka itu, sedih karena nggak dilihat.
Ngakak, padahal isi tulisannya lagi sendu. Tullisan yang masih segede gajah,
nulis puisi segala, nulis dengan bahasa yang nggak banget. Ternyata, dulu aku
alay.
Buku diaryku udah ketiga ini,
walaupun yang ketiga semakin jarang aku tulis. Semakin dewasa, apakah
berbanding lurus dengan tingkat ketidak-alayan yang menyebabkan seseorang tidak
berminat lagi menulis diary? Who knows.
Baca buku diary toh banyak banget
manfaatnya. Aku jadi ngerti untuk menjadi lebih dewasa menyikapi sesuatu,
walaupun kadang aku masih kayak anak kecil dan sering emosian, padahal udah 19
tahun. Jadi tahu, ternyata perbuatanku dulu yang kayak gitu nggak baik,
harusnya aku dulu begini. Intinya, bikin solusi dari permasalahan sendiri
walaupun kurun waktunya dah beda. Dan buku diary itu semacam catatan perjalanan
hidup, mungkin yang benar-benar serius dan nggak alay itu masa-masa SMA. Anak
SMA kan bahasanya dah dewasa dan biasanya pemikirannya mengacu ke masa depan.
Seperti aku besok mau ngapain aja, punya rencana apa setelah lulus, harus sudah
bisa apa untuk kedepan, pemikiran masa depan untuk punya kehidupan yang bagus,
yang dilakukan sesuai kecintaan tentunya. Kalo SMA Anda masih alay… itu bukan
salah saya.
Nah, point paling vital, buku
diary bukan berarti cuma punya perempuan, laki-laki juga boleh punya. Tapi,
namanya mungkin jangan buku diary, ntar dikira melambai, hhaha, bilang aja itu
buku agenda.
Buku diaryku beralih fungsi, dulu
sering sebagai curahan hati. Tapi usia sudah menua dengan baik begini sekarang
berfungsi jadi selain sebagai tempat curahan hati, sebagai motivator, sebagai
manajer (mengingatkan aku mau ngapain aja besok, dan target-target nyata
kedepan mau ngapain) dan sebagai catatan kesalahan-kesalahan hari ini. Kamu
bisa pake buku agenda itu sebagai apa pun yang kamu pengin.
Hal di atas aku kasih tahu juga
ke Ulfi, tapi kayaknya gagal :3
Kepindahan itu seperti
meninggalkan sesuatu. Setidaknya ada saja perasaan sedih. Tapi kita harus
pindah, harus. Dipaksa atau tidak.
Kepindahan itu biasanya membuat
suatu kerinduan masa lalu. Setidaknya kita pasti mengingat kenangan dahulu,
entah pahit atau berharga. Tapi kita harus berjalan maju, harus. Dipaksa atau
tidak.
Kepindahan itu membuat kita
memisahkan yang penting dan tidak penting. Setidaknya walau pun itu sulit. Tapi
kita harus menjadi filter untuk tidak mengulangi sesuatu yang tidak penting
untuk kedepan, harus. Dipaksa atau tidak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar